Jivanmukta

Dalam meditasi yang dalam, Buddha mengungkapkan penyebab penderitaan manusia adalah ‘ketidaksadaran’. Ketidaksadaran ini diakibatkan oleh kehidupan manusia yang terlalu berpusat kepada lima inderanya, kesenangan duniawi, sehingga ia tidak pernah tahu apalagi mengerti tentang kemurnian jiwa, kekosongan yang meliputi segalanya.

Kebanyakan orang hanya berada pada tahap ini, tanpa pernah ‘tahu’, apalagi memanifestasikan ‘kekuatan ilahi’ di atas bumi. Padahal kita telah diberikan pilihan dan kebebasan, untuk tumbuh sejauh mungkin hingga menjadi pribadi-Nya, yang mampu mewujudkan segala kreasi dan keindahannya!

Dimensi atas, Surga di atas Bumi. Kerajaan Allah!

Berputar dan mengulang-ngulang kehidupan di alam bawah: dasar, sacral, dan solar chakra yang berhubungan dengan kebutuhan pertahanan hidup (makan, seks, tempat tinggal), kekuatan, jabatan, serta ketenaran. Tidak pernah mengenal cinta kasih murni, pelayanan, kebenaran, dan pengetahuan kosmik. Tidak memiliki keberanian, tidak memiliki kualitas Shiva yang menghancurkan kegelapan dan terjun ke dalam lautan kesadaran!

Masih di atas bumi, meminum racun dunia, namun tetap dalam kewaspadaan. Sadar dan tahu betul siapa sejati dirinya. Tanpa kekurangan sedikitpun kesenangan. Itulah hadiah bagi mereka yang telah mengikuti jalan-Nya: Jivanmukta, jiwa yang terbebaskan.

Kriya Yoga According To Patanjali

The constant practice of austerity (tapasya), self-study (swadhyaya), and devotion to the Lord (Ishwara pranidhana) are Kriya Yoga.”
~ Yoga Sutras Patanjali

Kriya meditation and yoga techniques have been around for thousands of years but were kept a secret to protect their purity. These techniques were utilized by Jesus Christ and his disciples, the Buddha and his followers, and Arjuna, the most powerful archer in history. Kriya Yoga was reinitiated into the physical world in 1861, when Babaji transmitted the ancient and powerful knowledge of Kriya to Lahiri Mahasaya.

Yoga Patanjali menjelaskan bahwa kriya merupakan latihan konstan dari pertapaan, pemberdayaan, serta bakti kepada Tuhan. Teknik-teknik kriya sendiri sudah ada semenjak ribuan tahun, namun dirahasiakan untuk menjaga kesuciannya.

Teknik yang sama digunakan oleh Yesus Kristus dan murid-muridnya, Buddha dan pengikutnya, serta Arjuna, pemanah paling hebat dalam sejarah. Kriya yoga diinisiasi kembali ke dunia pada akhir abad ke-18, setelah menghilang di era kegelapan, melalui Mahavatar Babaji kepada muridnya Lahiri Mahasaya.

The Eternal Waiting

Nandi adalah simbol dari penantian yang abadi, sebab menunggu adalah kebajikan terbesar dalam budaya India. Seseorang yang tahu bagaimana caranya untuk duduk dan menunggu, secara natural mengenal meditasi. Nandi tidak mengharap agar Shiva datang di hari esok, ia bahkan tidak berantisipasi atau mengharapkan sesuatu. Ia hanya menunggu dan akan menunggu selamanya; itulah kualitas dari reseptivitas.

Sebelum beranjak ke kuil, milikilah kualitas seperti Nandi, yang tahu mestinya untuk duduk dan menjadi hening. Ia tak mengharap jiwanya merasakan keilahian surgawi, atau mendapatkan upah darinya. Inilah perbedaan yang sangat mencolok, dimana orang-orang sering menyalahartikan meditasi sebagai sebuah aktivitas. Tidak, meditasi adalah sebuah kualitas. Doa berarti dirimu berusaha untuk berbicara dengan Tuhan, sementara meditasi berarti dirimu bersedia untuk mendengarkan Tuhan.

Tak ada apapun untuk dikatakan, hanya duduk dan menjadi sadar, mendengarkan eksistensi dan alur penciptaan. Ini sangatlah penting bahwa ia tidak mengantuk atau menjadi malas (untuk menyimak)- melainkan sangat aktif, sangat sadar, dan penuh kehidupan tatkala ia duduk dalam keheningan. Itulah kualitas dari Nandi.

Nandi is a symbolism of eternal waiting, because waiting is considered the greatest virtue in Indian culture. One who knows how to simply sit and wait is naturally meditative. Nandi is not expecting Shiva to come out tomorrow. He is not anticipating or expecting anything. He is just waiting. He will wait forever. That quality is the essence of receptivity. Before you go into a temple, you must have the quality of Nandi – to simply sit. You are not trying to go to heaven, you are not trying to get this or that – you simply sit.

People have always misunderstood meditation as some kind of activity. No – it is a quality. That is the fundamental difference. Prayer means you are trying to talk to God. Meditation means you are willing to listen to God. You are willing to just listen to existence, to the ultimate nature of creation. You have nothing to say, you simply listen. That is the quality of Nandi – he just sits, alert. This is very important – he is alert, not sleepy. He is not sitting in a passive way. He is sitting, very active, full of alertness, full of life, but just sitting – that is meditation.

~ Sadhguru

Hatiku Adalah Kesehatanku

Tubuh manusia memiliki kecerdasan yang luarbiasa. Setiap sel, organ, dan detail bagiannya bekerja secara mandiri bahkan tanpa diperintahkan oleh otak. Hidup hanya akan selalu terjadi, dengan atau tanpa keinginanmu!

Namun pikiran dan intensi memiliki daya yang besar, ia mampu mengembangkan kinerja hingga ke titik maksimal atau sebaliknya, menghancurkannya. Darisana kita dapat memahami bahwa ada bagian yang lebih penting daripada kesadaran ini; yaitu asal sumber, kekuatan, shakti yang mendorong terjadinya kehidupan itu, sesuatu  ingin selalu muncul dan berkembang.

Itulah yang disebut dengan Shiva dan Shakti dalam terminologi yoga. Keduanya adalah kualitas tentang keseimbangan dan realisasi Tuhan.

Seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatanmu, sebenarnya ditentukan oleh kekuatan hatimu. Seberapa besar cinta kasih yang dimiliki, menentukan kualitas pikiran dan kreativitas yang akan bekerja untuk mewujudkan keinginan. Itulah yang membedakanmu dengan makhluk lainnya, itulah yang meyakinkanmu bahwa manusia diciptakan serupa dengan-Nya.

The Divine Feminine

Sebagai anak dari Raja Himalaya, ia dinamai Paravati, yang berarti ‘Sang Dewi Pegunungan’. Ia pun menjelma menjadi penguasa pegunungan, pernikahan, rumah tangga, cinta, kesuburan, dan kesetiaan dengan kekuatan serta supremasi ilahi. Ia juga dikenal sebagai Adi Parashakti, Sang Ibu Semesta, yang bertanggungjawab atas setiap penciptaan, pemeliharaan, dan kehancuran- sumber kelahiran Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Sebagai inkarnasi dari Sati, Shiva jatuh hati kepada Paravati, yang dengan setia mempersembahkan dirinya untuk membantu planet ini. Bahkan Shiva disebut dapat meraih pencapaian ilahi dengan bermeditasi pada Adi Parashakti selama ribuan tahun menggunakan bija mantra.

Dalam keyakinan Siwaisme, memuja Siwa tanpa Parwati adalah ketidakberdayaan; sebab kekuatan feminim-lah yang melengkapi sisi maskulin Shiva, begitu juga sebaliknya. Maka muncul ungkapan dari para pemuja Siwa: ‘tanpa Siwa, Shakti tak pernah lahir, dan tanpa Shakti, Siwa tidaklah pernah berdaya’. Paravati dianggap sebagai roh tertinggi melebihi bentuk apapun, dan dapat mengambil bentuk apapun yang diinginkan.

Being the daughter of King Himavat (The King of Mountains/Himalaya), her name became Parvati meaning ‘daughter of the mountain’. She is the Goddess of mountain, marriage, household, love, fertility, and adherence with divine strength and supremacy. She is also known as Adi Parashakti- Mother of Universe, whose energy is responsible for the creation, preservation, and destruction of the universe. Divine Parashakti created the trinity of Gods (Brahma, Vishnu, and Shiva).

As the incarnation of Sati, Shiva fell in love with her devotion to helping the planet. It is said that Shiva got his attainment after worshipping and meditating Adi Parashakti- goddess of creative power and divine energy, for thousands of years using the Beeja mantra. In Shaivism, worshipping Shiva without goddess Parvati is seen as a useless act as Parvati is the divine energy of Shiva and vice versa. Without Shiva, there is no Shakti and without Shakti, there is no Shiva. She is considered to be the supreme spirit beyond any form, yet can take any desirable forms.

Kisah Adiyogi Di Pegunungan

Pada saat Adiyogi gagal memenuhi keinginan kekasih jiwanya, ia naik ke puncak gunung Velliangiri dengan perasaan sedih, dan berdiam disana untuk waktu yang lama. Hingga hari ini energinya masih tertinggal di pegunungan itu, namun ia tidak melakukan meditasi yang menggembirakan, melainkan duduk disana dan larut dalam kesedihan.

Keputusasaan ini berangsur-angsur berubah menjadi kemarahan, sebuah kemarahan besar yang tak berarah dan tanpa tujuan, muncul oleh sikap tak berdaya terhadap keterbatasan. Kemarahan ini pada waktunya tumbuh menjadi lautan energi yang mampu menelan semua keterbatasan itu sendiri, hingga pada akhirnya, menjadikannya sebagai entitas yang tertinggi.

Dalam tradisi, dimanapun Adiyogi pernah tinggal dalam jangka waktu yang lama, tempat itu disebut sebagai Kailash. Itulah mengapa pegunungan Velliangiri kini disebut sebagai Kailash dari Selatan, sebab energinya yang mahadashyat telah menetap disana, sehingga sejumlah yogi pun mengikutinya, dan melahirkan cerita-cerita tentang para mistik yang berada di tempat itu selama ribuan tahun.

Sesungguhnya tak ada keramahan dalam meditasi Adiyogi, melainkan keganasan yang sangat intens. Intensitas itu memiliki kemungkinan yang luarbiasa, dimana hanya sedikit manusia yang pernah berhubungan dengan dimensi itu. Jika saja pernah, akan sangat sulit untuk diterima dalam kehidupan sosial, dan menyampaikannya pada dunia. Kebanyakan orang hanya ingin melihat keilahian dari sisi yang lembut, dan tak mampu menahan bentuk dari getaran tinggi yang sangat intens. Bahkan di masa lalu, ketika para yogis dari pegunungan Velliangiris turun, mereka menyebut Adiyogi dengan Shambo- yaitu wujud Adiyogi yang sangat lembut- sesuatu yang sebenarnya sangat jarang, sebab Shiva biasa diasosiasikan dengan keliaran.

Dengan menyebut nama Shambo, para yogis sebenarnya mencoba untuk melembutkan serta meredam energi intens dari pegunungan ini sehingga dapat befungsi bagi dunia. Kata Shambo berarti ‘yang begitu baik’, biasa diucapkan ‘Shiva Shambo’ secara bersamaan. Ia disebut begitu bukan karena lambang kehancuran yang dimilikinya, tetapi karena ia telah dihancurkan!

Getaran nama Shambo sebenarnya dirancang untuk menyalakan api yang berguna untuk membangunkan manusia hingga kesadarannya tak tertidur lagi- bahkan kematian pun tak dapat melenyapkan kesadaran itu. Shambo bukan hanya sekedar kata, melainkan sebuah kata sandi akan keberadaan.

Sebagai yogi yang telah disentuh oleh getaran dari ketinggian pegunungan Velliangiri, tujuan utama dalam hidup ini hanyalah untuk membiarkan anugerah dari gunung itu mengalir ke seluruh sisi lembah dan kaki bukit- hingga membanjiri planet ini.

Dikutip dari tulisan Sadhguru, “The Kailash Of The South”.

Pentingnya Hari Purnama

Bulan adalah satelit yang secara tak terbendung melakukan perputarannya di planet ini. Hal yang penting dari fakta ini adalah, jika seseorang secara mental terganggu di hari purnama, maka di saat bulan mati ia pun menjadi lebih terganggu dari biasanya.

Ketika berada dalam posisi tertentu, bulan akan memperkuat seperti apapun dirimu pada saat itu. Jika kau penuh cinta, gembira, dan kebahagiaan, maka semua dari itu akan ditambahkan. Sebaliknya jika kau sedikit terganggu dan tidak stabil, maka semua itu juga akan diperkuat.

Yang  terserap dalam meditasi, akan menyelam lebih dalam lagi, keberadaan bulan meningkatkan apapun intensi yang ada dalam diri. Maka kita menjadikan hari ini sebagai hari yang penting, dimana secara sadar kita menciptakan kualitas terbaik dari diri agar supaya ditingkatkan. Kita secara sengaja mengaturnya, dan membiarkan diri terseret dalam letupan-letupan yang muncul secara tak tersadarkan itu. Untuk itu bulan tidak menjadi baik atau buruk- ia hanya memperkuat jati diri yang terungkapkan pada saat itu.

Sementara di biara zen orang-orang duduk di bawah pohon dan menikmati bulan, purnama menjadi simbol yang sangat dekat dengan Gautama Buddha. Hal-hal penting yang berkaitan dengannya seperti kelahiran, pencerahan, dan ajaran Buddha, diturunkan pada hari tersebut.

The moon is a satellite for this planet and helplessly strung to this planet and making its rounds. So, what is the significance? Probably many of you know that if someone is mentally disturbed on a full moon day, on a new moon day they get little more disturbed than usual.

When the moon takes certain positions it heightens whatever you are. If you are loving you become more loving. If you are joyful you become more joyful. If you are blissful you become much more blissful. If you are little insane you become much more insane. If you are meditative you become far more meditative. It just enhances everything that you are. So, we considered these days important so that you consciously create the right kind of quality in you so that it gets enhanced.

~ Sadhguru, An Opportunity To Rise

The Destroyer

Membicarakan Shiva sesungguhnya sangat berkaitan dengan apa dan bagaimana mekanisme semesta. Sederhananya, apapun yang terjadi pada semesta ini dapat dilacak rekam kesamaannya pada diri kita. Sebuah kisah yang scientific sekaligus indah, mistik dan juga menggembirakan. Dengan ragam wajah, nama, dan fungsinya, sains kuno bernama yoga memberi petunjuk melalui simbol dan cerita.

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Siwa adalah ‘sang pelebur‘, dimana ia melenyapkan maya. Meski realita dunia adalah ‘nyata’, namun seringkali kita tidak melihat kenyataan itu sebagaimana adanya. Pikiran, persepsi, dan drama psikologis adalah hukum alam yang ‘melapisi’ tingkat kejernihan dan kewaspadaan ini.

Hukum alam itu disebut karma- dimana dari sumber yang sama, lahir ruang dan waktu, pergerakan dan siklus, gravitasi dan relativitas- segala hal yang menaungi alam raya ini. Oleh karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk membangun tanggungjawab terhadap apa yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan baui. Sebab pada akhirnya semua itu adalah karma milik kita sendiri.

Sadar atau tidak, segala aktivitas yang ditangkap melalui indera-indera menciptakan apa yang disebut takdir. Itulah mengapa spiritualitas mengajarkan kita untuk bersikap ‘aktif’ (berupaya)- agar senantiasa ‘bergerak’ (menuliskan karma) dengan penuh tanggungjawab. Inilah perbedaan karma dan kriya!

Meski memiliki akar kata yang sama yaitu ‘upaya’ dan ‘tindakan’, karma merupakan tindakan eksternal, sesuatu yang terikat dengan siklus kehidupan- sementara kriya adalah tindakan internal yang bebas dari siklus perputaran tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa Siwa- atau para avatar yang diutus ke dunia, tidak datang ke dunia untuk mendesain ‘agama’ atau doktrin tertentu. Secara nyata para entitas suci ini mengungkapkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk menuliskan takdir kita sendiri. Bahkan kemampuan itu dapat mengantarkan kita pada apa yang telah mereka capai.

Ketika sistem lama/ maya telah dihancurkan, maka spiritualitas tidak berupaya untuk mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan keyakinan baru. Spiritualitas yang autentik mengajarkan bahwa apa yang kita lihat sebagai kekosongan itulah merupakan ‘kecerdasaan yang tak tertandingi’- kecerdasan yang sama dengan asal mula seluruh semesta ini dimunculkan.

Ruang itu disebut dengan ‘pencerahan’ atau ‘pembebasan’. Shiva mendorong kita untuk melihat hal paling fundamental semenjak awal, karena hanya itulah yang dapat sepenuhnya meruntuhkan keterbatasan. Ia mengajak kita untuk menjadi sepenuhnya berani dan bertanggungjawab, sekarang dan saat ini juga!

Self Realization

Sumber gambar: jeyamohan.in

Ribuan manifestasi kristus yang turun belum tentu dapat mencerahkan. Tetapi dengan memilih untuk hidup dalam kristus, yakni dengan memperluas kesadaran hingga mengalami kontak yang nyata dalam indahnya meditasi, maka itulah ‘kedatangan Kristus yang kedua’.

Perjalanan para avatar memberi contoh dan bukti, bahwa kesempatan ini terbuka bagi manusia di dunia. Sebuah petunjuk yang nyata bahwa ketidakmurnian dapat dimurnikan, dan kekacauan yang terjadi dapat berubah menjadi keindahan dan sukacita.

Para avatar adalah jembatan diantara langit dan bumi, dengan mengajarkan ketidakterpisahan/kesatuan, serta universalitas. Ada satu hal yang menyentuh dari perjalanan para avatar, yakni cinta yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan. Ini adalah ungkapan tak terdeskripsi ketika vibrasi sang avatar selaras dengan kesadaran kosmis; hingga apapun yang dilakukannya, sesungguhnya adalah karya dari entitas tertinggi itu sendiri.

Melalui sumber yang sama, cinta itu mengalir dan digandakan pada setiap upaya sang avatar bagi manusia, agar mencapai kesadaran yang sama. Dalam hal ini, kita tidak dipandu untuk menjadi pengikut atau pelayan yang setia; melainkan seorang kawan yang mencintai satu sama lainnya, dan mengetahui seluk-beluk perjalanan transformasi diri serta kemungkinan-kemungkinan tentang pencapaiannya.

“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love, just as I have kept my Father’s commands and remain in his love. I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My command is this: Love each other as I have loved you.
Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends. You are my friends, if you do what I command. I no longer call you servants, because a servant does not know his master’s business. Instead, I have called you friends, for everything that I learned from my Father I have made known to you.
You did not choose me, but I chose you and appointed you so that you might go and bear fruit – fruit that will last—and so that whatever you ask in my name the Father will give you. This is my command: Love each other.” ~ John 15:9-17

Apa itu Self Realization?

Secara poetik, kita menjulukinya dengan ‘jembatan menuju kebahagiaan abadi’. Sebab itulah yang dicapai ketika seseorang mengetahui kebenaran, dan menyadari seluruh potensi dirinya.

Dalam keyakinan siwaisme, self realization adalah pencapaian tertinggi, yakni ‘mengetahui kebenaran Siwa’. Ada yang menyebutnya dengan asamprajnata samadhi, yaitu ‘terserap dalam kesadaran seutuhnya’ di kala sang yogi telah melihat kesatuan, keterhubungan, dan kesempurnaan yang meliputi seluruh penciptaan; Sementara Raja yoga menyebut ‘nirvikalpa samadhi‘ untuk hal yang sama.

Paramahnsa Yogananda, pendiri organisasi Self-Realization Fellowship dan seorang guru kriya yoga, menjelaskan bahwa self realization merupakan kesadaran meyeluruh di dalam tubuh, pikiran, dan jiwa. Bahwa keberadaan kita sendiri sesungguhnya merupakan kemahahadiran Tuhan, dan di setiap saatnya, tidaklah sekalipun kita pernah terpisah dari-Nya.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna pernah menyampaikan bahwa melalui self realization, manusia akan menemukan kebijaksanaan sejati- pada saat ini dan sekarang juga, sebagaimana ia merupakan puncak dari pengetahuan- memiliki julukan sebagai raja ilmu pengetahuan, dan esensi dari dharma (agama). Ia menyebut bahwa self realization adalah yoga, ‘penyatuan’ dengan kebenaran secara menyeluruh.

Seorang devotee yang melakukan yoga, akan mengalami esensi ‘kesatuan’ melalui kebijaksanaan intuitif yang menyusup dari kedalaman misteri ilahi. Dengan demikian sang yogi menjadi tahu dan menyadari bahwa ia memiliki kualitas ketuhanan- dan oleh karenanya, ia tinggal di dunia dengan tetap menjaga kesadaran akan asal-usulnya, dan menghindari segala ikatan yang delusif.

Adiyogi And The Eternal Darkness

Saat itu lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, tepatnya pada hari purnama, seluruh eksplorasi dari mekanisme kehidupan dibentangkan di planet ini. Sang Adiyogi menjadi Adiguru, yakni Sang Guru yang pertama. Hari tersebut kini dirayakan di seluruh belahan India sebagai Guru Purnima, sebab di hari itulah benih pembebasan ditanamkan dalam kesadaran manusia.

Di hari itu juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, terdeklarasikan bahwa takdir manusia bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis, dan sedungguhnya kesadarannya dapat berkembang hingga mencapai keilahian. Yang penuh terbatas dapat berubah menjadi tak terbatas, Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa ada cara untuk tinggal dalam tubuh fisik dan merasakan kesempurnaan, tanpa harus menjadi terikat olehnya. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tidak tersentuh oleh derita yang diakibatkan oleh fluktuasi pikiran. Adiyogi menegaskan pentingnya untuk mengetahui bahwa pada dimensi manapun, selalu ada cara untuk melampui keterbatasan- selalu ada cara lain untuk hidup di saat ini juga, untuk melakukan pekerjaan yang penting dan diperlukan oleh jiwa.

Wawasan ini tidak melahirkan kepercayaan tertentu, alih-alih melahirkan sains, ilmu pengetahuan. Sebuah ilmu yang bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai penentu atas nasib mereka sendiri. Pembentuk dan arsitek dari apa yang disebut dengan takdir.

Shiva, Sang Pelebur dan Sang Mahadewa

Lebih dari 99 persen atom dan kosmos adalah kekosongan, sehingga dalam tradisi yoga, ketika seseorang menyebut kata shiva, sesungguhnya ia sedang menyulut kerinduannya terhadap ketiadaan, sesuatu yang benar-benar diam. Atau dengan kata lain membangkitkan kehausan manusia akan sesuatu yang berada di luar jangkauan fisik.

Dalam perkembangan alami manusia terhadap penyelidikannya pada kesejatian, ia akan selalu tertarik pada segala sesuatu yang melampaui dunia materi ini. Yoga membagi eksistensi menjadi empat dimensi yaitu sthoola, sookshma, shoonya dan shiva. Sthoola adalah bagian yang kasar, dunia material. Ia dapat diukur, dihitung, dijangkau oleh kelima indera, dianalisa dan dipahami secara intelektual. Namun ketika eksistensi itu melampaui sensasi inderawi dan tidak dapat dipahami secara logika- namun jejak fisiknya masih tertinggal, maka itu disebut suksma. Pikiran manusia dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui hasil pengamatan, terletak pada dimensi ini.

Masuk lebih dalam lagi, terdapat shoonya, yaitu kekosongan, dimana tak ada fisikalitas maupun jejak-jekanya. Panca indera tidak berfungsi, semua seolah mati dan lenyap. Dan melampaui shoonya, ada dimensi yang lebih menggetarkan yakni shiva- kekosongan absolut- kebalikan dari semua yang ada, sekaligus asal mula dari semua yang mengada. Untuk itu ia dikenal sebagai Sang Pelebur. Namun di saat yang sama ia juga merupakan sebuah kreasi spektakuler, sekaligus pencipta dari kosmos, maka ia dikenal sebagai Siwa Mahadewa. Ini adalah penegasan bahwa proses penciptaan dan kehancuran sesungguhnya berada pada sosok yang sama.

Diterjemahkan dan disortir oleh blogger dari buku Adiyogi; The Source Of Yoga.