99 Portal: The Completion

The Kingdom of God is within you… Kerajaan Allah berada di dalam dirimu. Di dalam hatimu yang menggetarkan cinta kasih murni, tulang punggungmu yang menjadi jalur bagi intelijensi tentang mekanisme alam semesta, pineal gland dan pusat otak yang terhubung pada dimensi-dimensi yang lebih tinggi: ketidakterbatasan! Yang menyelimuti segalanya.

Dirimu tidak lain adalah semesta itu sendiri. Sadari dan wujudkanlah keagungan itu di atas bumi. Sudah waktunya, dan semesta mendorong kita untuk melakukan itu. Kebangkitan (Kesadaran) Kristus (yang kedua) adalah kebangkitan dari seluruh umat manusia.

I Love you and I know you love me too!

Story Of The Yogi Christ 3: The Encounter

Selama mencari dengan tekad yang kuat, tahukah kau, sinarmu telah memberi harapan dan memperindah hariku? Di tengah kegelapan, barangkali kita bisa mencari dan menemukannya di dalam jiwa, satu sama lainnya.

Aku sudah terbiasa hidup dalam pencarian. Aku ingin mengetahui rahasia kehidupan, dan setiap benih pengetahuan yang tumbuh mengalirkan rasa gembira, mengalihkan masa pertumbuhanku dari kemarahan yang bisa saja menghantarkanku menjadi sosok yang berbeda.

Aku tak mengerti mengapa transformasi kini justru membawa amarah dalam diriku. Aku merasakan ketidakpuasan, dan meski pengetahuan telah mengalir dari nadi gunung mistik yang telah membasuh dan meringankan, aku merasa tidak bahagia.

Musim berganti. Angin jelang musim kemarau yang dikirim dari negeri seberang menghantarkanku pada sebuah kesimpulan: mungkin perasaaan tidak menentu inilah yang membuatku bertahan!

Aku tak ingin melawan. Aku sangat lelah, kubiarkan pikiran-pikiran itu tumbuh dan mendorongku untuk belajar melalui jalur alaminya. Setelah meminum cukup air dari mata air di lereng Gunung Atlas, aku beranjak untuk berburu makanan- setelah sekian lama berpuasa dan hanya minum sesekali.

Baba pernah bercerita tentang buah-buahan yang dapat ditemukan di kedalaman hutan: “Mereka tampak sangat menggiurkan… Ada yang berwarna ungu dan merah mernyala…”
Seketika ingatanku akan matanya yang berbinar membuat pikiranku kini dipenuhi oleh nikmatnya makanan- membangkitkan rasa lapar.

“Hmm tunggu sebentar, aku lupa mana diantaranya yang beracun dan tidak. Aku pernah mencoba keduanya dan salah satunya membuatku gatal-gatal dan bengkak selama tiga hari. Hahaha…”

Namun tawa Baba yang terngiang tidaklah bertahan lama, sebab secara mengejutkan seseorang menghentikanku kala mencoba memetik buah berwarna merah yang tampak seperti buah apel- namun terasa kenyal dan berukuran dua kali lebih besar.

“Hey berhenti!”

Aku memutar tubuh untuk mencari sosoknya, dan tanpa terduga begitu saja sosok itu mendekatkan wajahnya dan berbicara dengan lantang: “Apa yang kau lakukan di tempat ini, tanpa pengetahuan bahwa yang kau sentuh itu- beracun?”

Matanya menatap tajam, bagaikan seorang prajurit yang penuh kewaspadaan- tetapi dalam tubuh seorang gadis. Ia lalu menarik wajahnya dengan ekspresi ketus, mungkin karena aku tak kunjung menjawab. Dan ketika ia bergerak tanpa ragu dan penuh keberanian, aku mengenali sinar yang membungkus tubuhnya- dan meyakinkanku untuk berbicara.

“Aku adalah seorang pertapa,” kataku ringan sambil berharap ia memaklumi apa yang sedang kulakukan.

“Yeah, yeah, aku tahu kau siapa, Pangeran dari Kerajaan Emas!”

“Bagaimana kau tahu?” Aku terkejut, namun rasa kecewaku lebih besar karena tak berhasil melenyapkan identitas.

“Aku melintasi tempatmu bertapa dan menyaksikan latihanmu. Kau harus berterimakasih padaku karena sudah menata nya agar tidak terlihat oleh orang- dan terutama binatang buas,” matamu bersinar, memperlihatkan kejenakaan dan menyadarkanku bahwa ternyata- kau ini hanya seorang remaja.

“Mengapa kau melakukan itu, Nona?”

“Namaku Lotus dari suku Andaman, suku para petani yang menghuni, menjaga, dan menyuburkan lereng Gunung Atlas!”

Ia tampak bangga dan membuatku semakin yakin, orang-orang Atlas bukan manusia biasa!

“Hmm… Baba tidak pernah meberitahu jika ada kehidupan di lereng gunung, semua tampak begitu sunyi selama ini…” gumamku tak percaya.

“Jadi kau adalah- anak petani?” Tanyaku.

“Apa itu penting? Lagipula apa kau tidak tahu bahwa kerajaanmu yang suka berperang itu memiliki dimensi yang berbeda dengan Kerajaan Agung kami, Wahai Sang Pangeran?”

“Yeah, itu masuk akal… Jadi, apakah petani di Lereng Gunung Atlas juga adalah Ksatria- maksudku semacam guardian?”

Aku tersenyum, merasakan koneksi yang mulai terbangun diantara kami, dan bahwa ia dapat dipercaya.

“Pertanyaan yang bagus, dan terutama kepada orang yang tepat, Pangeran,” katanya seraya mengangkat alis dan membalikkan badan, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

“Tapi jangan senang dulu. Kau harus mencuci tangan dengan air rebusan daun galaga, mencelupkan seluruh tanganmu ke dalam getahnya sebelum pagi menjelang. Jika udara pagi menembus kulitmu, baunya akan tercium oleh sekawanan babi leopard yang lapar! Ayo, aku tahu kemana kita harus mencarinya!”

Ah yang benar, babi leopard? Ia menjelaskan bahwa makhluk itu memiliki wajah seperti babi namun memiliki taring dan berbadan lincah seperti leopard. Rata-rata berwarna hitam gelap, tingginya seukuran manusia dewasa dan lebar sekitar dua meter. Dengan penciuman yang sangat tajam- ruam yang diakibatkan oleh apel beracun itu akan mengeluarkan bau tajam di pagi hari, memancing kedatangan mereka. Seketika rasa laparku sirna. Digantikan oleh pikiran tentang sebuah dunia fantastis yang terbentang nyata beserta- seorang teman.

***

“Daun galaga akan mengembang saat matahari terbenam. Disini kami mengukur waktu dengan mengamati perputaran matahari dan bulan.”

Semakin dalam memasuki hutan, cahaya semakin berkurang, seolah malam telah menjemput. Diperkuat dengan rasa dingin yang menyerbak melalui daun-daun yang tampak hitam, membentuk semacam terowongan dengan atmosfer mencekam- namun terproteksi dan indah.

“Udara malam akan melebarkan daunnya, memproduksi getah dari pusatnya yang cukup luas untuk menampung satu orang manusia di dalamnya, wahai Pangeran,” katanya seraya menatap lurus padaku dengan wajah jenaka.

“Oh bagus, terdengar seperti bukan daun biasa.”

“Memang bukan!”

Ia lalu mengeluarkan sebuah batu kecil dari dalam kantong bajunya, yang seketika memancarkan cahaya biru lemah. Meski sangat kurang- sinar itu perlahan memberikan penerangan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, bintik-bintik merah mulai bermunculan di sekitar leherku, memberi sensasi seperti semut yang menjalar dan sesekali menggigit. Aku berusaha untuk mengabaikan sensasinya dan mulai mengajak Lotus berbincang.

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku rasa kita masih punya sangat banyak waktu sebelum mentari terbenam, yeah- meski matahari samasekali tidak terlihat disini…”

“Berburu kasava.”

“Berburu apa?”

“Makanan yang menjadikan para petani sangat kuat dan awet muda. Kita akan mengunjungi seorang teman yang kebunnya dikenal sebagai tanah tersubur di lereng Atlas. Tempatnya tidak jauh dari sungai dimana daun galaga tumbuh. Ngomong-ngomong apa yang kalian makan di negara kalian?”

“Hmm… Di istana kami biasa memakan kue dengan krim berlapis cokelat dan taburan emas.”

“Yuck, menjijikkan! Tidak heran kaum kalian bertingkah seperti itu! Aku pernah mendengar tentang sistem pemerintahan kalian yang sebisa mungkin mematikan fungsi pineal gland. Tapi aku tak menyangka akan separah itu.”

Aku tersenyum. Dengan cahaya yang minim, aku bisa melihat ekspresinya yang heran dan marah, sesuatu yang juga ada pada diriku di saat remaja. Well, selayaknya lotus yang tumbuh di tengah lumpur, energinya bagai api yang menyalakan suasana di dalam terowongan yang belum juga terlihat ujungnya ini. Hangat, hidup, dan penuh gairah.

The Tale Of Lotus

Sebagian besar orang ingin berteman dan dekat denganmu oleh karena pikiran dan persepsi mereka. Mereka berpikir kau baik, berbakat, dan cemerlang, tetapi itu sesuai dengan standar mereka. Mereka ingin membuat kita semua- yang hidup di rawa, berduri, dan berdaun lebar ini- untuk terlihat seperti mereka: indah, rapuh, dan menggemaskan.

Mereka ingin kita menjadi seperti sebuah pajangan dan mempertunjukkan skill yang samasekali tidak autentik, bermain-main manja penuh canda tawa, dengan tampilan luar yang sudah dimanipulasi. Asupan sehari-hari mereka adalah kebohongan,  kehidupan mereka sangat membosankan. Inilah yang disebut asal-mula kehampaan, produk-produk yang dihasilkan hanyalah tipu daya, tak ada percikannya.

Yang benar saja, aku bukan bunga di padang rumput yang indah. Menari-nari dengan angin yang bertiup tanpa membawa pesan tentang perubahan atau cuaca. Aku tidak tertarik untuk berteman denga mereka, sebab sesungguhnya mereka tidak pernah tertarik untuk melihatmu.

Ingatlah, jangan pernah membiarkan mereka menganggap, apalagi merawat bunga lotus seperti bunga mawar. Itu menghina dan menghancurkan. Itu mengakibatkan ketidakseimbangan yang panjang di dunia.

Aku adalah jiwa, aku adalah lotus yang tumbuh di atas lumpur yang cokelat. Hidupku berbaur dengan beragam kehidupan lainnya; aku tidak mendeklarasikan apapun, tetapi aku dikenal melalui sinar yang berbeda.

Seringkali itu tidak menyenangkan bagi orang-orang yang memuja dunia dari apa yang terlihat sepintas. Itu membuat mereka getir dan takut, karena kebohongan mereka menjadi jelas oleh sinar yang berasal dari kesejatian.

Aku adalah Sang Lotus. Helaiku bermekaran seiring dengan penantian, namun bukan untuk sebuah pertunjukkan. Aku ingin menyentuh jiwa-jiwa penuh keberanian, yang tidak peduli seperti apapun dunia telah mengasingkan dan menghancurkan mereka, itu sama saja seperti api pemurnian yang melecutkan harapan menyala-nyala dengan berbagai macam keberuntungan.

Perfection?

Sumber foto: trekearth.com

Mari kita kupas standar kecantikan yang selama ini ditetapkan oleh fashion, trend, fitness, produk kecantikan dan kesehatan, usia, ras, warna kulit, sampai budaya dunia.

Apakah manusiawi untuk menilai tampilan fisik manusia dan memberikan penilaian terhadapnya? Alih-alih melihatnya sebagai keanekaragaman yang perlu dirawat oleh kehidupan, standar yang dibuat ini telah merubah cara kita memandang diri sebagai pribadi yang berbeda dan unik satu sama lainnya.

Standar yang diciptakan tersebut mau tidak mau menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri kita, hingga pada akhirnya tak dapat dipungkiri- mengurangi rasa kasih dan saling mengayomi antar sesama. Kompetisi semacam ini samasekali tidak sehat dan mempengaruhi sikap mental. Bahkan kontes kecantikan dunia pun memperagakan model-model dengan tampilan yang hampir serupa, dengan tujuan dan attitude yang sudah diatur untuk kepentingan komersil. Betapa membosankan menyaksikan itu!

Kini coba bayangkan sebuah kontes kecantikan dimana ukuran tubuh, tinggi badan, atau bahkan- penyandang cacat dan autisme dapat memiliki kesempatan sama seperti orang-orang dengan kondisi lainnya. Sebuah kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagaimana sinarnya memancarkan

Saya yakin mereka yang selama ini terhalang oleh standar dan diperlakukan berbeda, akan sangat senang jika dapat mengikuti kontes yang terbuka, merasakan kemenangan dan kekalahan sebagaimana setiap orang dapat belajar darinya. Bukan berdasarkan ukuran tertentu, melainkan sebagaimana diri kita dapat bersinar apa adanya.

Tidak hanya dalam bidang ini, kompetisi seharusnya didorong untuk mengutamakan nilai-nilai yang membangun dunia, dimana kita berlomba-lomba untuk mengisinya dengan limpahan kreativitas. Tidakkah itu yang seharusnya menjadi spirit dalam kompetisi? Yaitu sebagai ajang penyemangat untuk penciptaan, sekaligus pencarian solusi akan isu-isu yang perlu diselesaikan.

Dengan tujuan yang murni, kompetisi semacam ini akan melahirkan jawaban atas kebutuhan umat manusia, baik dalam skala lokal maupun global. Dan pada akhirnya kompetisi dapat menjadi gerbang yang kondusif bagi siapapun untuk menjalankan misi hidupnya- tempat dimana kekuatan terbaiknya berada.

Coba kita telisik lagi slogan salah satu kompetisi kecantikan dunia: Beauty with purpose. Pertanyaannya, tujuan siapa? Sponsor yang menjunjung nilai-nilai konsumerisme dan menaungi lembaga-lembaga sosial dan mengemasnya sebagai kerja sosial?

Arrgh, pikirkanlah kembali makna beramal, dan jangan pernah mengukur dunia dengan standar yang ditetapkan oleh kemasan! Yang kita perlukan adalah menjadi lebih peka untuk melihat kondisi dunia yang sebenarnya, dan memberi kesempatan bagi jiwa yang dibimbing oleh kesejatian untuk menyembuhkan dunia.

Janganlah lagi menjadikan dunia sebagai panggung sandiwara, tetapi gunakan dan berikan panggung itu untuk mereka yang berani menyuarakan kebenaran dan menolong sesama. Gunakanlah keahlianmu agar orang-orang mengenali, dan mendatangimu atas manfaat mampu diberikan.

Makanan Di Atas Mejaku

Kadangkala kita lupa, bahwa kehadirat Tuhan amatlah nyata, bagaikan makanan yang tersedia di atas meja. Bahkan aku telah terlampau diberkati, sebab makanan di mejaku datang tanpa aku bersusah payah. Ia mengasihiku melalui kasih yang diberikan orangtuaku, kebaikan hati teman-temanku, saudaraku, bahkan dari mereka yang tidak kukenal- semata-mata membuktikan bahwa kasih adalah bahasa-Mu.

Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus bersusah payah untuk mendapatkan anugerah-Mu.
Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus berjalan dengan kakiku sendiri untuk menemukan-Mu.
Dan aku telah salah mengira, bahwa segala cobaan dan kesulitan adalah hukuman-Mu.

Engkau senantiasa hadir tanpa diminta, sebab kehidupan ini hanya bersumber dari kasih-Mu. Engkau melakukan berbagai cara untuk menjaga kehidupan ini, dan mewarnainya dengan wajah-wajah optimistime dan keceriaan. Engkau memberikan kepastian agar kami semua tumbuh dengan baik, dan tidak ada satupun makhluk yang tidak Kau perhatikan.

Sumber gambar: pixabay.

Tuhan, Kau-lah yang telah merubahku. Kau-lah yang telah menyejukkan hatiku, dan mendorongku untuk meminta anugerah keteguhan; dan Kau pun menghadiahiku anugerah kepercayaan.

Seluruh hati dan nuraniku mengenali bahwa semua itu berasal dari-Mu, sebabnya aku sendiri tak memiliki kuasa atas Terang. Terima kasih Tuhan… Terang dari segala Terang.

Beragama Adalah Menjadi Manusia

Bagaimana seharusnya seseorang beragama? Bagaimana kita dapat meletakkan agama sebagai elemen kehidupan yang damai dan tidak destruktif?

Agama dapat menjadi momok apabila ia digunakan sebagai identitas dan dogma, tetapi menjadi ‘hidup’ jika ia berubah menjadi sebuah pekerjaan. Pekerjaan seperti apa? Pekerjaan untuk mendandani, merawat, dan menjaga diri. Sebab agama bukan alat untuk menghakimi atau barang untuk disebarluaskan, tetapi hal pribadi untuk meningkatkan kualitas diri.

Sejatinya semua agama memiliki esensi yang sangat indah. Tidak ada satupun yang kurang untuk dikoreksi, juga tidak ada satupun yang menolak kehadiran semua dari kita. Dengan perbedaan atau tujuan universalnya, keterpisahan hanya terletak pada persepsi, dan agama akan selalu menjadi ruang untuk mendekat kepada Tuhan. Untuk itu siapa berani menghakimi dan tidak menerima sesamanya sebagai saudara? Sementara kita hidup di atas bumi dengan udara, matahari, dan semua elemen alam yang sama.

Sayangnya kemanusiaan tidak selalu menjadi yang utama, dan kepentingan pribadi atau golongan kadang melebihi daripada yang lainnya. Seharusnya kita selalu mengingat, bahwa jikapun pengabdian kepada-Nya telah terlaksana, semua menjadi sia-sia jika itu tidak bergerak menjadi energi hidup yang menyentuh hati manusia. Dan inilah rahasia tentang cara beragama: bahwa hubungan kepada Tuhan hanya akan tergenapkan dan terpuaskan melalui cinta kasih terhadap sesama.

Memang manusia dapat menjadi sangat manipulatif, tetapi dengan kekurangannya- selalu ada potensi tak terbatas yang dapat digali dan dipelajari satu sama lain. Itulah yang diajarkan oleh agama melalui nurani, ‘bagaimana kita melihat kehidupan’ dapat mengubah kimia beracun menjadi makanan yang memuaskan dahaga spiritual; dan hanya dengan belajar kita dapat mencapai kebijaksanaan menyeluruh.

Well, bisa saja kita mencintai pohon, binatang, lautan, dan bahkan Tuhan tanpa cela. Tetapi apa arti semua itu tanpa mencintai anak manusia, yang dihadirkan untuk mengajari dan membahagiakanmu. Dan inilah rahasia yang lainnya: Tuhan ingin kita berbahagia pada saat ini juga, tidak menunda untuk mewujudkan surga-Nya di atas bumi!

Kemanusiaan adalah jalur cepat untuk mencapai kemuliaan kolektif; dikarenakan kita telah diberi kuasa tak terbatas untuk berkarya dan menciptakan peradaban.

Uncle Iroh Wisdom

“You are not the man you used to be. You are stronger and wiser and freer than you ever used to be. And now you have come at the crossroads of the destiny. Its time for you to choose. Its time for you to choose good.” ~ Iroh to Zuko

Api adalah kekuatan. Elemen ini memiliki hasrat dan keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Tanah adalah elemen zat atau kepadatan, mereka beraneka ragam serta kuat. Mereka gigih dan mampu bertahan lama.

Udara adalah elemen kebebasan, mereka melepas diri dari ikatan duniawi dan menemukan kedamaian serta kebebasan. Juga memiliki selera humor yang tinggi.
Air adalah elemen perubahan, mereka mampu beradaptasi dalam banyak hal. Mereka memiliki dorongan untuk saling berkumpul, dan cinta membuat mereka menyatu untuk melalui segalanya.

Sangat penting untuk menarik kebijaksanaan dari berbagai tempat, sebab jika hanya menarik kesimpulan di salah satunya saja, maka itu akan menjadi kaku dan lemah. Memahami elemen lainnya akan membantumu mencapai penyatuan, dan itulah yang menghasilkan kekuatan sejati. ***

Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

The New Normal Is Unconditional Love

     Merasa sedih sepenuhnya wajar, tetapi merasa terpuruk apalagi mengasihani diri sendiri adalah bentuk ketidaksyukuran yang justru mengundang kemalangan hidup. Hukum semesta tidak pernah berhenti membaca pikiran dan vibrasi, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan ‘Tuhan maha tahu’ dan ‘maha mengabulkan permintaan manusia’. Masalahnya apakah cara kita meminta sudah tepat? Karena cara kita meminta tergambarkan dari kebiasaan, dan apa yang diminta dibaca melalui frekuensi.

     Frekuensi apa? Setiap sel dalam tubuh kita sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, atau percikan listrik yang dapat berubah menjadi gelombang. Darisinilah kita berkomunikasi dengan semesta, yakni kekuatan manifestasi itu sendiri, untuk menghadirkan yang non-fisik ke alam fisik. Hal yang mempengaruhi frekuensi terutama adalah pikiran, intensi, dan emosi. Karena itu pencapaian sangat berhubungan erat dengan kualitas kedisiplinan serta tingkat kesadaran.
    
     Lalu apa hubungannya pengantar di atas dengan ‘new normal‘- fase yang secara serempak dimasuki oleh dunia saat ini? Well, jika cukup jeli membaca situasi, pandemi telah membuka mata kita terhadap kejelasan akan dunia macam apa yang kita inginkan, lebih deep bahkan pada takdir kehidupan. Ini menjadi fase dimana kunci misi jiwa terbuka sehingga apa yang menunjang dan sudah usang menjadi terang: jenis dan pola kehidupan, karir, pasangan, semua sektor diobrak-abrik untuk dipertimbangkan kembali. Yeah, kapan lagi ada waktu mikirin semua itu kan?

     Pembatasan sistem dan interaksi sosial adalah pelajaran terbaik untuk lebih saling menghargai. Karena melaksanakan ‘protokol’ tidak lagi cukup, kita benar-benar harus jujur dalam membangun hubungan. Entah mendekat atau menjauh, masing-masing dari kita berhak untuk mengatur timeline-nya, demi relasi yang seimbang, demi kebangkitan dan pada akhirnya, cinta tanpa syarat.
    
     Secara personal kita juga perlu menimang dan berpikir matang sebelum bertindak: bahwa di setiap pikiran, aksara tertulis, ucapan, hingga perbuatan adalah getaran yang dicatat dalam buku semesta dan harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah kesempatan emas bagi para lightworker agar menyesuaikan getarannya dengan realitas yang lebih tinggi. Dan bukankah selama ini, itulah yang dinanti?
    
     Gerbang Aquarius telah terbuka, and this is the judgement. Sebuah zaman pembebasan diberikan untuk mereka yang memilih untuk menyelaraskan frekuensinya, dan sebaliknya dunia lama untuk mereka yang memilih tinggal. Ini adalah zaman dimana tidak ada lagi kekerasan, maka sebisa mungkin- semenjak dini, hancurkan seluruh ego sebagaimana makhluk suci phoenix membakar dirinya dan terlahir kembali dari bekas abunya.
    
     Melenyapkan kesengsaraan dari atas bumi, semua pekerjaan ini bukanlah pengorbanan, tetapi kesadaran. Dari gerbang yang disimbolkan dengan angka 1111 itu (the gate, ascension, kelimpahan dan anugerah yang terbuka), kita didorong untuk beranjak naik, sehingga semenjak saat ini juga setiap langkah (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah ujian. Kekuatan manifestasi dilipatgandakan (makna angka 2222), dan ini adalah untuk memeneuhi kebutuhan perjalanan pulang ke rumah.

Pada akhirnya new normal barangkali hanya sebuah istilah untuk menandai cara hidup pasca pandemi oleh pemerintah, namun tentu kita tahu bahwa inilah perjalanan mewujudkan surga di bumi. Jalan dan kebaruan itu adalah cinta tanpa syarat.

Aham Brahmanasmi

Menyelam ke dalam lautan kesadaran adalah anugerah dan kesempatan luarbiasa
Disana aku dapat mematikan pikiran
dan diperbolehkan untuk meminum air pengetahuan
Melampaui ilusi ruang dan waktu,
menghirup energi murni yang meremajakan,
merasakan keabadian…
DayaMu Luar biasa, Nyata, dan tak Tertandingkan.

Aham Brahmanasmi; I am THAT.

Tat Tvam Asi; You are THAT.

Signs

The breeze at dawn has secrets to tell you.
Don’t go back to sleep.
You must ask for what you really want.
Don’t go back to sleep.
People are going back and forth across the door sill
Where the two worlds touch.
The door is round and open.
Don’t go back to sleep.
~ Rumi

Translate:

Angin semilir di saat fajar membawa rahasia yang ingin diceritakan padamu.
Maka dari itu, janganlah kamu kembali tertidur.
Inilah saatnya untuk menyampaikan hasrat terdalammu.
Jangan kembali tertidur.
Orang-orang hanya bermondar-mandir dan melintas di ambang pintu,
tempat dimana dua dunia bertemu.
Sebuah pintu yang menjulang tinggi dan terbuka.
Janganlah kembali tertidur.

Catatan:

Alam semesta senantiasa meuntun dan membukakan jalan bagi siapa saja yang membuka mata, kala petunjuk itu datang.
Di setiap saat diantara sela kehidupan, pertanda diletakkan secara nyata di berbagai penjuru tempat, pribadi, dan kesempatan. Benar katamu, sahabatku, bahwa waktu yang nyata pada saat ini, adalah sebuah jangkauan dari kemampuan, kesatuan, dan keabadian.