99 Portal: The Completion

The Kingdom of God is within you… Kerajaan Allah berada di dalam dirimu. Di dalam hatimu yang menggetarkan cinta kasih murni, tulang punggungmu yang menjadi jalur bagi intelijensi tentang mekanisme alam semesta, pineal gland dan pusat otak yang terhubung pada dimensi-dimensi yang lebih tinggi: ketidakterbatasan! Yang menyelimuti segalanya.

Dirimu tidak lain adalah semesta itu sendiri. Sadari dan wujudkanlah keagungan itu di atas bumi. Sudah waktunya, dan semesta mendorong kita untuk melakukan itu. Kebangkitan (Kesadaran) Kristus (yang kedua) adalah kebangkitan dari seluruh umat manusia.

I Love you and I know you love me too!

Jivanmukta

Dalam meditasi yang dalam, Buddha mengungkapkan penyebab penderitaan manusia adalah ‘ketidaksadaran’. Ketidaksadaran ini diakibatkan oleh kehidupan manusia yang terlalu berpusat kepada lima inderanya, kesenangan duniawi, sehingga ia tidak pernah tahu apalagi mengerti tentang kemurnian jiwa, kekosongan yang meliputi segalanya.

Kebanyakan orang hanya berada pada tahap ini, tanpa pernah ‘tahu’, apalagi memanifestasikan ‘kekuatan ilahi’ di atas bumi. Padahal kita telah diberikan pilihan dan kebebasan, untuk tumbuh sejauh mungkin hingga menjadi pribadi-Nya, yang mampu mewujudkan segala kreasi dan keindahannya!

Dimensi atas, Surga di atas Bumi. Kerajaan Allah!

Berputar dan mengulang-ngulang kehidupan di alam bawah: dasar, sacral, dan solar chakra yang berhubungan dengan kebutuhan pertahanan hidup (makan, seks, tempat tinggal), kekuatan, jabatan, serta ketenaran. Tidak pernah mengenal cinta kasih murni, pelayanan, kebenaran, dan pengetahuan kosmik. Tidak memiliki keberanian, tidak memiliki kualitas Shiva yang menghancurkan kegelapan dan terjun ke dalam lautan kesadaran!

Masih di atas bumi, meminum racun dunia, namun tetap dalam kewaspadaan. Sadar dan tahu betul siapa sejati dirinya. Tanpa kekurangan sedikitpun kesenangan. Itulah hadiah bagi mereka yang telah mengikuti jalan-Nya: Jivanmukta, jiwa yang terbebaskan.

Hatiku Adalah Kesehatanku

Tubuh manusia memiliki kecerdasan yang luarbiasa. Setiap sel, organ, dan detail bagiannya bekerja secara mandiri bahkan tanpa diperintahkan oleh otak. Hidup hanya akan selalu terjadi, dengan atau tanpa keinginanmu!

Namun pikiran dan intensi memiliki daya yang besar, ia mampu mengembangkan kinerja hingga ke titik maksimal atau sebaliknya, menghancurkannya. Darisana kita dapat memahami bahwa ada bagian yang lebih penting daripada kesadaran ini; yaitu asal sumber, kekuatan, shakti yang mendorong terjadinya kehidupan itu, sesuatu  ingin selalu muncul dan berkembang.

Itulah yang disebut dengan Shiva dan Shakti dalam terminologi yoga. Keduanya adalah kualitas tentang keseimbangan dan realisasi Tuhan.

Seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatanmu, sebenarnya ditentukan oleh kekuatan hatimu. Seberapa besar cinta kasih yang dimiliki, menentukan kualitas pikiran dan kreativitas yang akan bekerja untuk mewujudkan keinginan. Itulah yang membedakanmu dengan makhluk lainnya, itulah yang meyakinkanmu bahwa manusia diciptakan serupa dengan-Nya.

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.

Light On Hatha Yoga

“There are not two minds, there is one mind trying to split itself into two. One mind wants to break the discipline and the other mind wants to maintain the discipline.” ~ Tidaklah ada dua pikiran, melainkan satu yang terbagi menjadi dua. Di satu sisi ingin mematahkan disiplin diri, sementara satu lainnya ingin menjaganya tetap kokoh.

     Salah satu teks popuper dalam hatha yoga adalah hatha yoga pradipika yang diterjemahkan menjadi Light On Hatha Yoga. Disusun oleh Yogi Swatmaratma di sekitar abad ke-6, buku ini terdiri atas empat bab masing-masing adalah: Asana, Shatkarma dan Pranayama, Mudra dan Bandha, dan Samadhi.

     Menariknya Swatmarama menghilangkan unsur yama dan niyama yang umumya menjadi titik permulaan dalam sistem buddhisme, jainisme, serta yoga patanjali- yang membagi raja yoga menjadi delapan tangga. Patanjali menganggap seorang murid harus menguasai yama dan niyama terlebih dahulu, untuk menghindari kegagalan dalam praktek asana dan pranayama.

     Sementara Swatmarama sangat menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para murid dalam melaksanakan kedua unsur tersebut. Ia menganggap yama dan niyama lebih seperti agama ketimbang spiritulitas, yang sejatinya berhubungan langsung dengan kehidupan. Menurutnya jika diamati, ketika berusaha menerapkan disiplin dan pengendalian diri, seringkali muncul masalah mental yang efeknya sangat mengganggu pikiran bahkan kepribadian kita.

     Lebih jauh ia menguraikan bahwa prinsip yang berlawanan sebaiknya tidak diajarkan, terutama perbedaan praktek religi dan spiritual yang dapat membawa kegagalan ketika menghadapi dilema evolusi kesadaran. Pesannya sangat jelas: pertama-tama murnikanlah tubuhmu- elemen-elemen halusnya, saluran energi, pola pergerakan energi vital, sistem saraf, dan keseluruhan bagiannya perlu diharmonisasikan. Begitulah caranya kita dapat membangun meditasi yang khusyuk, dan dilanjutkan pada tahap yang lebih dalam: pratyahara, dharana, dhyana, samadhi.  

Chapter 1, Verse 1:
Salutation to the glorious primal (original) guru, Sri Adinath, who instructed the knowledge of hatha yoga which shines forth as a stairway for those who wish to ascend to the highest stage of yoga, raja yoga.

Hormat kepada Sang Guru yang mulia, Sri Adinath, yang telah menyusun pengetahuan hatha yoga sebagai tangga yang bersinar bagi mereka yang ingin naik ke tingkat tertinggi dari yoga, yakni raja yoga.

Penjelasan:
Sri Adinath adalah nama lain yang diberikan kepada Siwa, sebagai kesadaran kosmik tertinggi (supreme cosmic consciousness). Dalam Tantra terdapat konsep siwa dan shakti, dimana siwa bertindak sebagai kesadaran abadi kosmos, dan shakti sebagai energi kreatifnya.

Tradisi samkhya menyebutnya dengan purusha, sementara vedanta menyebutnya brahman. Siwaisme menyebutnya siwa, waisnawa menyebutnya wisnu. Semuanya adalah satu dan sama, yaitu sumber kreasi dan sumber evolusi makhluk hidup, satu kekuatan yang meliputi segalanya.

Kekuatan itulah yang disebut sebagai guru, sebab ia membawa seseorang keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) ke dalam cahaya realitas (pengetahuan sejati). Sekte nath menyebutnya Adinath, sang pelindung utama.

Swatmarama adalah seorang penganut sekte nath, sehingga ia menghormati siwa dalam wujud Sri Adinath. Semua pengetahuan tanpa terkecuali berasal dari kesadaran kosmik. Tantra dan serangkaian cabang dari yoga pun berasal dari tempat yang sama, dan secara traditional penekanan itu diketahui sebagai siwa. Teks-teks suci berbahasa sansekerta selalu berawal dengan ungkapan: ‘Salutation to the supreme state of being‘, yang berarti ‘Hormat kepada Sang Maha Tertinggi’.

Hal pertama yang harus diingat sebelum memulai segala jenis latihan spiritual adalah: bahwa kekuatan kosmik adalah pemandu dari setiap gerakan, dan dirimu adalah instrumen dari kekuatan itu. Oleh karena itu, berilah hormat lalu mintalah perlindungan dan bimbingan-Nya terlebih dahulu.

Ketika Yogi Swatmarama memberi hormat kepada Adinath, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang akan datang pada sloka-sloka berikutnya adalah berkat kemuliaan dari Sang Guru, bukan pencapaian pribadinya. Terdapat kerendahan hati beserta absennya ego, dan hal ini sangatlah penting untuk memperolah kesadaran yang lebih tinggi.

Swatmarama lalu menjelaskan bahwa hatha yoga digunakan untuk mempersiapkan seseorang untuk mencapai raja yoga. Ha dan tha yang berarti matahari dan bulan, sebagai representasi dari dua energi kembar yang eksis dalam segala hal. Bulan adalah energi halus yang menguasai mental/ pikiran, sementara matahari adalah energi pranic yang aktif dan dinamis, merepresentasikan tubuh. Latihan hatha yoga memungkinkan fluktuasi dari kedua energi ini menjadi harmonis dan menyatu menjadi satu kekuatan.

“Sekalinya seseorang mencapai tahap raja yoga, maka hatha yoga tidak lagi menjadi kebutuhan untuknya.”

Asal-Usul Yoga: Sebuah Kisah Tentang Siwa

     Tulisan ini adalah sebuah opini pribadi, bahwa asal-usul yoga berdampingan dengan peradaban tertua manusia. Alasannya adalah jika memang tujuan dari praktek yoga adalah untuk mencapai dimensi ketuhanan, maka seharusnya yoga pun berasal dari tempat yang sama. Ini kurang lebih sama seperti penyederhanaan bahwa dalam ragam perannya, ‘perjalanan ke dalam’ adalah signifikasi terang bahwa leluhur kita adalah para yogi.
    
     Secara lebih spesifik yoga hadir diantara awal dan akhir, menawarkan jalan ‘penyembuhan’ saat terjadinya gonjang-ganjing. Artinya yoga dirancang sesempurna mungkin oleh Sang Maha Agung, dan diturunkan pada masa transisi sebagai ‘anugerah’ untuk memberi jawaban perihal cara untuk kembali kepada-Nya. Maka dari itu izinkan saya memulai cerita mengenai turunnya yoga ke dunia melalui Sang Hyang Siwa, Sang Maha Guru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bathara Guru di Nusantara. Beliau adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dengan istrinya Dewi Rekatawati, dimana bersama mereka telah menciptakan sebuah telur yang bersinar.
    
     Telur itu terbagi menjadi tiga, yakni kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung (Togog), putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Hyang Tunggal lalu menugaskan Manikmaya untuk berkuasa di Suryalaya, sebagai pemimpin para dewa di kahyangan. Untuk itulah sebutan Mahadewa, dewa dari para dewa, ia dapatkan. Sementara dua saudaranya, Ismaya dan Hyang Punggung, turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa dan Kurawa sebagai simbol penguasa terang dan gelap.

     Cerita tentang Siwa memang tidak berdiri sendiri, sebab ada banyak sifat dan elemen yang membangun keseimbangan dunia. Maka jangan heran terdapat pula banyak dewa yang dipuja dalam ragamnya tradisi. Di Nusantara sendiri nama Siwa disebut dalam sejumlah Kakawin kuno seperti Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa di abad ke-10, Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung di akhir masa kejayaan Majapahit abad ke-15, Kakawain Kunjarakarna, dan lain sebagainya.
    
     Selain siwaisme, sejumlah keyakinan juga pernah berkembang di Nusantara antara lain adalah waisnawa, buddha, tantra, hingga titik kejayaan saat terjadinya sinkritisme ajaran siwa dan buddha, menjadi siwa buda. Berikut adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma yang mashyur nyawanya bagi Indonesia, karangan Mpu Tantular pada abad ke-14:
    
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Namun bagaimana kita dapat menyatakannya berbeda hanya dalam selintas pandang?
Sebab  hakikat Sanghyang Jina (Buddha) dan Sanghyang Siwa adalah tunggal adanya
Terlihat berbeda tapi tunggal juga, sebab tiada dharma (kebenaran) yang mendua

Siwa dan Tantra

Ada yang menyebutkan bahwa tantra pertama kali muncul di daratan India sekitar 5000 SM, dalam bentuk keyakinan lokal yang belum terpadu. Tak lama Siwa lahir di tempat yang sama, dan memperkenalkan tantra sebagai sebuah ajaran yang lebih mudah diterima. Berikut kutipan cerita yang tersebar mengenainya:

Namanya Sadashiva, artinya ‘dia yang selalu terserap dalam kesadaran’ dan ‘dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan’. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.”

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai ‘Bapa peradaban manusia’.”

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti ‘sifat dari sananya’. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.”

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.”

Tantra yang secara etimologi berarti memperluas kesadaran, menjadi ajaran filosofi yang terurai indah di kalangan tantris sektor kanan. Di sisi kiri yang terkenal melalui ritualnya, kemudian dianggap nyeleneh dan membuat tantra dipandang sebagai ajaran gelap oleh masyarakat. Seiring waktu ajatan tantra ‘diperhalus’ dan menurun menjadi hatha, kundalini, kriya, dan lainnya. Signifikasi kuat dari tantra pelatihan kebangkitan kundalini dan inisiasi.

Artikel terkait: Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Beyond The Science of Yoga

Kita semua setuju bahwa fisika kuantum adalah sebuah materi yang sangat rumit. Richard Feynman, tokoh yang dianggap ahli di bidang tersebut berkata: “if you think you understand quantum mechanics, you don’t understand quantum mechanics.” Poinnya, pikiran adalah lingkup yang terlalu sempit untuk menjabarkan semesta. Hal ini sama seperti yang diungkap oleh para yogi kuno bahwa ide dan kata-kata yang muncul dari pikiran untuk menjabarkan keagungan Tuhan justru mengurangi jarak kita pada kebenaran. Untuk ‘mengalamiNya’, kita membutuhkan keseimbangan antara keheningan, tindakan, dan apa-apa yang berada diantaranya.

Dalam teks ‘Sutras of Patanjali with the Bhashya of Vyasa’ (Yoga Darsana) yang berisi pembahasan mengenai Yoga Sutra oleh Patanjali, Yoga adalah Samadhi atau Meditasi. Samadhi merupakan sebuah kondisi dimana manusia berada dalam kesadaran yang terbebaskan dari maya/ ilusi duniawi, ruang, dan waktu yang selama ini membatasi jangkauan kesadaran manusia menuju kesadaran ilahi. Dengan begitu, samadhi dapat diartikan sebagai sebuah momen dimana manusia menyatu dalam kelilahian, yang bersumber dari kesejatian diri. Sebab itu tidak jarang kita menemukan sejumlah teks yang mengaitkan yoga dengan kata ‘yuj’ dalam bahasa Sanskrit- yang berarti penyatuan, serta ‘connection’ atau hubungan.

Pemahaman ini menegaskan bahwa yoga berusaha membahas sifat-sifat ilahiah/ Tuhan yang tidak jauh dengan ilmu fisika quantum, yaitu melalui energi, vibrasi, dan frekuensi. Fisikawan legendaris Nikola Tesla sering menyebut tiga kata tersebut untuk menjabarkan alam semesta. Ditegaskan bahwa semesta ini adalah sebuah lautan energi. Aliran energi kehidupan tersebut selanjutnya terjabarkan menjadi vibrasi; vibrasi menjadi frekuensi-frekuensi menjadi angka- dan angka dapat diatur menjadi bentuk serta pola, hingga pada akhirnya mewujud menjadi realitas dan materi fisik.

Itulah mengapa semesta ini disebut sebagai suatu hologram, dimana pikiran dan intensi kita adalah bagian dari vibrasi semesta, dan frekuensinyalah yang menentukan realita kehidupan. Istilah multidimensional universe menjadi kian jelas, ketika frekuensi setiap orang yang berbeda juga menciptakan tampilan hologram/ realita yang berbeda.

Lalu bagaimana Yoga yang merupakan sebuah ilmu seni hidup kuno dapat menjelaskan ini? Jawabannya adalah Yoga samasekali bukan ilmu kuno yang tertinggal dalam ketidakutuhan. Sebaliknya, Yoga justru mengarahkan kita untuk merenungi alur dan ritme semesta dengan nyata dan praktikal. Ada dua istilah dasar dalam yoga yang berkaitan dengan energi, yaitu prana dan kundalini. Prana yang lebih dikenal sebagai nafas kehidupan adalah energi yang mengatur pergerakan hingga memungkinkan terjadinya kehidupan. Perputaran planet, nafas yang keluar dan masuk di paru-paru, pertumbuhan menuju kematian sampai kelahiran kembali, merupakan sebuah ritme pergerakan yang diamunisi oleh prana.

Di satu sisi, pergerakkan ini juga menjelaskan bagaimana reinkarnasi menjadi sesuatu yang sangat mungkin, terlepas dari keyakinan agama-agama tertentu. Energi tidaklah pernah mati, melainkan bertransformasi. Ia merubah wujud sesuai keselarasan yang tercipta antara vibrasinya dengan vibrasi semesta. Dan oleh sebab segalanya adalah energi, jiwa pun bertransformasi dan mengganti wadah untuk menyesuaikan getarannya.

Lalu apa itu kundalini?

Berbeda dengan prana, kundalini lebih tepat disebut sebagai kekuatan atau potensi yang berfungsi sebagai agen perubahan. Tradisi yoga mengaitkan kundalini dengan filosofi Siwa dan Sakti, yang merupakan perwakilan dari energi feminim-maskulin atau juga digambarkan melalui hubungan antara jiwa dengan kesadaran murninya.

Yoga meyakini bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan evolusi kesadaran tidak lepas dari peran kundalini, sehingga pada awalnya yoga klasik/ tantra (hatha yoga yang dikenal luas saat ini berakar dari tantra) merupakan serangkaian latihan yang bertujuan untuk membangkitkannya. Secara visual, pada tubuh manusia kundalini bertempat di sekitaran otot perineum (diantara kemaluan dan anus) sebagai energi yang dorman/ tidak aktif. Di Nusantara, energi yang maha dashyat ini sering dihubungkan dengan gunung berapi yang berperan sebagai siwa, beserta magma-nya sebagai sakti.

Dalam praktek latihannya, kundalini bergerak secara gradual menelusuri pusat-pusat chakra yang terletak di sepanjang tulang punggung. Masing-masing chakra mewakili kondisi dan intensi kesadaran seseorang, dan salah satu teks yang menjabarkannya secara apik dalam bentuk simbol dan cerita dapat ditemukan dalam Lontar Sanghyang Tattwajnana Nirmala Nawaruci yang ditulis oleh Mpu Siwamurti pada zaman Majapahit.