Jivanmukta

Dalam meditasi yang dalam, Buddha mengungkapkan penyebab penderitaan manusia adalah ‘ketidaksadaran’. Ketidaksadaran ini diakibatkan oleh kehidupan manusia yang terlalu berpusat kepada lima inderanya, kesenangan duniawi, sehingga ia tidak pernah tahu apalagi mengerti tentang kemurnian jiwa, kekosongan yang meliputi segalanya.

Kebanyakan orang hanya berada pada tahap ini, tanpa pernah ‘tahu’, apalagi memanifestasikan ‘kekuatan ilahi’ di atas bumi. Padahal kita telah diberikan pilihan dan kebebasan, untuk tumbuh sejauh mungkin hingga menjadi pribadi-Nya, yang mampu mewujudkan segala kreasi dan keindahannya!

Dimensi atas, Surga di atas Bumi. Kerajaan Allah!

Berputar dan mengulang-ngulang kehidupan di alam bawah: dasar, sacral, dan solar chakra yang berhubungan dengan kebutuhan pertahanan hidup (makan, seks, tempat tinggal), kekuatan, jabatan, serta ketenaran. Tidak pernah mengenal cinta kasih murni, pelayanan, kebenaran, dan pengetahuan kosmik. Tidak memiliki keberanian, tidak memiliki kualitas Shiva yang menghancurkan kegelapan dan terjun ke dalam lautan kesadaran!

Masih di atas bumi, meminum racun dunia, namun tetap dalam kewaspadaan. Sadar dan tahu betul siapa sejati dirinya. Tanpa kekurangan sedikitpun kesenangan. Itulah hadiah bagi mereka yang telah mengikuti jalan-Nya: Jivanmukta, jiwa yang terbebaskan.

Kriya Yoga According To Patanjali

The constant practice of austerity (tapasya), self-study (swadhyaya), and devotion to the Lord (Ishwara pranidhana) are Kriya Yoga.”
~ Yoga Sutras Patanjali

Kriya meditation and yoga techniques have been around for thousands of years but were kept a secret to protect their purity. These techniques were utilized by Jesus Christ and his disciples, the Buddha and his followers, and Arjuna, the most powerful archer in history. Kriya Yoga was reinitiated into the physical world in 1861, when Babaji transmitted the ancient and powerful knowledge of Kriya to Lahiri Mahasaya.

Yoga Patanjali menjelaskan bahwa kriya merupakan latihan konstan dari pertapaan, pemberdayaan, serta bakti kepada Tuhan. Teknik-teknik kriya sendiri sudah ada semenjak ribuan tahun, namun dirahasiakan untuk menjaga kesuciannya.

Teknik yang sama digunakan oleh Yesus Kristus dan murid-muridnya, Buddha dan pengikutnya, serta Arjuna, pemanah paling hebat dalam sejarah. Kriya yoga diinisiasi kembali ke dunia pada akhir abad ke-18, setelah menghilang di era kegelapan, melalui Mahavatar Babaji kepada muridnya Lahiri Mahasaya.

The Destroyer

Membicarakan Shiva sesungguhnya sangat berkaitan dengan apa dan bagaimana mekanisme semesta. Sederhananya, apapun yang terjadi pada semesta ini dapat dilacak rekam kesamaannya pada diri kita. Sebuah kisah yang scientific sekaligus indah, mistik dan juga menggembirakan. Dengan ragam wajah, nama, dan fungsinya, sains kuno bernama yoga memberi petunjuk melalui simbol dan cerita.

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Siwa adalah ‘sang pelebur‘, dimana ia melenyapkan maya. Meski realita dunia adalah ‘nyata’, namun seringkali kita tidak melihat kenyataan itu sebagaimana adanya. Pikiran, persepsi, dan drama psikologis adalah hukum alam yang ‘melapisi’ tingkat kejernihan dan kewaspadaan ini.

Hukum alam itu disebut karma- dimana dari sumber yang sama, lahir ruang dan waktu, pergerakan dan siklus, gravitasi dan relativitas- segala hal yang menaungi alam raya ini. Oleh karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk membangun tanggungjawab terhadap apa yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan baui. Sebab pada akhirnya semua itu adalah karma milik kita sendiri.

Sadar atau tidak, segala aktivitas yang ditangkap melalui indera-indera menciptakan apa yang disebut takdir. Itulah mengapa spiritualitas mengajarkan kita untuk bersikap ‘aktif’ (berupaya)- agar senantiasa ‘bergerak’ (menuliskan karma) dengan penuh tanggungjawab. Inilah perbedaan karma dan kriya!

Meski memiliki akar kata yang sama yaitu ‘upaya’ dan ‘tindakan’, karma merupakan tindakan eksternal, sesuatu yang terikat dengan siklus kehidupan- sementara kriya adalah tindakan internal yang bebas dari siklus perputaran tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa Siwa- atau para avatar yang diutus ke dunia, tidak datang ke dunia untuk mendesain ‘agama’ atau doktrin tertentu. Secara nyata para entitas suci ini mengungkapkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk menuliskan takdir kita sendiri. Bahkan kemampuan itu dapat mengantarkan kita pada apa yang telah mereka capai.

Ketika sistem lama/ maya telah dihancurkan, maka spiritualitas tidak berupaya untuk mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan keyakinan baru. Spiritualitas yang autentik mengajarkan bahwa apa yang kita lihat sebagai kekosongan itulah merupakan ‘kecerdasaan yang tak tertandingi’- kecerdasan yang sama dengan asal mula seluruh semesta ini dimunculkan.

Ruang itu disebut dengan ‘pencerahan’ atau ‘pembebasan’. Shiva mendorong kita untuk melihat hal paling fundamental semenjak awal, karena hanya itulah yang dapat sepenuhnya meruntuhkan keterbatasan. Ia mengajak kita untuk menjadi sepenuhnya berani dan bertanggungjawab, sekarang dan saat ini juga!

Self Realization

Sumber gambar: jeyamohan.in

Ribuan manifestasi kristus yang turun belum tentu dapat mencerahkan. Tetapi dengan memilih untuk hidup dalam kristus, yakni dengan memperluas kesadaran hingga mengalami kontak yang nyata dalam indahnya meditasi, maka itulah ‘kedatangan Kristus yang kedua’.

Perjalanan para avatar memberi contoh dan bukti, bahwa kesempatan ini terbuka bagi manusia di dunia. Sebuah petunjuk yang nyata bahwa ketidakmurnian dapat dimurnikan, dan kekacauan yang terjadi dapat berubah menjadi keindahan dan sukacita.

Para avatar adalah jembatan diantara langit dan bumi, dengan mengajarkan ketidakterpisahan/kesatuan, serta universalitas. Ada satu hal yang menyentuh dari perjalanan para avatar, yakni cinta yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan. Ini adalah ungkapan tak terdeskripsi ketika vibrasi sang avatar selaras dengan kesadaran kosmis; hingga apapun yang dilakukannya, sesungguhnya adalah karya dari entitas tertinggi itu sendiri.

Melalui sumber yang sama, cinta itu mengalir dan digandakan pada setiap upaya sang avatar bagi manusia, agar mencapai kesadaran yang sama. Dalam hal ini, kita tidak dipandu untuk menjadi pengikut atau pelayan yang setia; melainkan seorang kawan yang mencintai satu sama lainnya, dan mengetahui seluk-beluk perjalanan transformasi diri serta kemungkinan-kemungkinan tentang pencapaiannya.

“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love, just as I have kept my Father’s commands and remain in his love. I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My command is this: Love each other as I have loved you.
Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends. You are my friends, if you do what I command. I no longer call you servants, because a servant does not know his master’s business. Instead, I have called you friends, for everything that I learned from my Father I have made known to you.
You did not choose me, but I chose you and appointed you so that you might go and bear fruit – fruit that will last—and so that whatever you ask in my name the Father will give you. This is my command: Love each other.” ~ John 15:9-17

Apa itu Self Realization?

Secara poetik, kita menjulukinya dengan ‘jembatan menuju kebahagiaan abadi’. Sebab itulah yang dicapai ketika seseorang mengetahui kebenaran, dan menyadari seluruh potensi dirinya.

Dalam keyakinan siwaisme, self realization adalah pencapaian tertinggi, yakni ‘mengetahui kebenaran Siwa’. Ada yang menyebutnya dengan asamprajnata samadhi, yaitu ‘terserap dalam kesadaran seutuhnya’ di kala sang yogi telah melihat kesatuan, keterhubungan, dan kesempurnaan yang meliputi seluruh penciptaan; Sementara Raja yoga menyebut ‘nirvikalpa samadhi‘ untuk hal yang sama.

Paramahnsa Yogananda, pendiri organisasi Self-Realization Fellowship dan seorang guru kriya yoga, menjelaskan bahwa self realization merupakan kesadaran meyeluruh di dalam tubuh, pikiran, dan jiwa. Bahwa keberadaan kita sendiri sesungguhnya merupakan kemahahadiran Tuhan, dan di setiap saatnya, tidaklah sekalipun kita pernah terpisah dari-Nya.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna pernah menyampaikan bahwa melalui self realization, manusia akan menemukan kebijaksanaan sejati- pada saat ini dan sekarang juga, sebagaimana ia merupakan puncak dari pengetahuan- memiliki julukan sebagai raja ilmu pengetahuan, dan esensi dari dharma (agama). Ia menyebut bahwa self realization adalah yoga, ‘penyatuan’ dengan kebenaran secara menyeluruh.

Seorang devotee yang melakukan yoga, akan mengalami esensi ‘kesatuan’ melalui kebijaksanaan intuitif yang menyusup dari kedalaman misteri ilahi. Dengan demikian sang yogi menjadi tahu dan menyadari bahwa ia memiliki kualitas ketuhanan- dan oleh karenanya, ia tinggal di dunia dengan tetap menjaga kesadaran akan asal-usulnya, dan menghindari segala ikatan yang delusif.

Story Of The Yogi Christ 2: The Hermit

Sumber gambar: artstation.com

Di tengah malam itu, kupanggil prajuritku yang paling setia, Raphael, untuk melacak dan mencari tahu dimana kiranya Baba berada.

“Maaf, Pangeran, itu tidak mungkin. Kerajaan tidak menganggap Baba sebagai anggota keluarga lagi, juga bukan ancaman yang patut dipertimbangkan. Jika Beliau datang pun, ia hanya akan diperlakukan sebagai rakyat biasa.”

Aku tahu adalah kesia-siaan untuk melacakmu. Sudah lama kau pergi, dan mengingat kesenanganmu bertualang, pastilah kau berpindah-pindah ke berbagai tempat. Nama apakah yang kini kau gunakan selepasmu sebagai bangsawan? Arrgh, pasti akan sangat sulit menemukanmu!

Kenangan akan kedekatan kita masih sangat jelas dan memberi harapan. Oleh karenanya tanpa menunggu lama, aku beranjak dari istana- menolak tawaran Raphael yang ingin ikut menemani.

“Bantulah aku dengan tetap berada disini. Jika suatu waktu aku membutuhkanmu, kau akan tahu.”

Raphael mengangguk, dan aku berlalu mengendarai seekor kuda milik prajurit yang dilatih mahir untuk berperang. Menuju lereng Gunung Atlas, perbatasan antara Kerajaan Utama dengan negeri seberang.

Dalam catatan sejarah, tidak ada satupun kerajaan yang mampu menakluklan Gunung Atlas, sebab konon gunung itu adalah milik para dewa. Bahkan tidak semua orang diizinkan untuk masuk- apalagi melewatinya, sehingga seharusnya tanah seberang terjaga dari invasi dan kerusakan akibat perang. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.

“Jika memang Atlas begitu kuat, mengapa mereka tidak menghukum orang-orang yang jahat dan mengakhiri perang?” Tanyaku suatu waktu, merasa heran karena pihak yang baik selalu terkesan mengalah.

“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Sananda. Para Dewa pun memiliki kehendak, dan Kerajaan Utama mampu mememenuhi keinginan mereka. Selama ribuan tahun, perang tetap terlaksana melalui kelompok rahasia,” suatu waktu Baba bercerita.

“Seperti apakah Atlas, Baba?”

“Luarbiasa indah. Jauh lebih maju daripada yang kau bayangkan.”

“Apakah kau pernah kesana?”

“Tentu saja.”

Aku masih mengingat senyumanmu yang penuh semangat, mengisi masa kecilku dengan legenda fantastis tentang Atlas.

Dan lihatlah- disinilah aku berada, juga telah menemukan mata air yang katamu adalah simbol sekaligus penentu- apakah aku layak memasuki Atlas atau tidak.

“Jika kau menemukannya, basuh tubuhmu dan minumlah air itu! Alirannya berasal dari kedalaman gunung- tempatnya sangat dirahasiakan oleh para pendeta agung dan cendikiawan. Nanti kau akan tahu, bahwa Atlas telah menyucikanmu! Mata yang tertutup melihat hutan belantara, tetapi tidak dengan mata yang sudah terbuka.”

Sungguh gila, melalui pesan yang samar- kau memanduku ke tempat ini, dan membuat pikiran serta perasaanku bercampur aduk, sebab aku tak punya rencana samasekali. Namun akan lebih gila jika aku kembali- disambut oleh pandangan remeh orangtuaku- sebagaimana mereka menganggap aku tidak mewarisi tabiat srbagai seorang bangsawan. Mereka menganggap aku tidak pandai dan tidak tahu caranya menggunakan kekuasaan, sama seperti yang mereka pikirkan terhadap Baba.

Itu membuatku mengingat ketika pertama kali menghadiri pertemuan antara para bangsawan dan pejabat. Seketika tubuhku gemetar oleh keterkejutan dan kemarahan yang tak terkira- yang bahkan masih dapat kurasakan hingga saat ini.

Di balik kemegahan yang dinikmati dalam istana, dunia sedang dikuasai oleh ketidakadilan- dan kerajaan inilah yang mengakibatkan semua ketidakadilan itu! Semenjak itu aku menolak untuk menghadiri pertemuan kleuarga, dan tak ingin terlibat dalam rencana maupun diskusi mereka. Aku hanya mengikuti perkembangan berita melalui Raphael, dan menjadi tahu strategi masa depan mereka yang penuh kekejian.

Segera kuminum air yang mengalir dan tampak jernih itu, rasanya segar dan baunya harum, entah karena sugesti dari Baba atau karena aku lelah dan kehausan. Kubasuh wajah dan seluruh tubuhku, berganti pakaian, dan melepaskan semua atribut kerajaan, termasuk kuda milik prajurit kerajaan yang sepatutnya dikembalikan.

“Perjalanan kita sudah berakhir,” kataku sambil mengelus pundaknya sebagai salam perpisahan.

Selepasnya, segera kucari tempat yang teduh, mengerahkan seluruh pikiran untuk mengingat kembali ajaran Baba- dan mulai berlatih. Suaranya yang nyaring, berat, dan bersemangat menjadi ciri khasnya. Dan sebagaimana ia terlihat di dalam mimpi, ia tak pernah terlihat lebih menawan.

“Duduklah dengan tulang punggung, leher, dan kepala yang tegak, tanpa bergerak. Postur ini sangat penting agar pikiranmu tidak terdestruksi oleh rasa sakit yang diakibatkan oleh postur yang bungkuk, yang mengakibatkan tekanan pada saraf di area tersebut. Juga untuk menjaga energi kehidupan mengalir ke arah yang tepat- bersama dengan fokusmu yang bertumpi pada satu titik di tengah-tengah dahi- diantara kedua alis mata, yang melihat dan terserap ke dalam, mengabaikan semua sensasi inderawi.”

“Mata itu akan terlihat saat meditasimu semakin dalam. Cahaya-Nya seketika menyinari seluruh tubuhmu, mentransmusi dan meremajakan sel-selmu… Semua kesempurnaan dan setiap kebajikan ilahi tersembunyi di dalam dirimu. Ungkapkanlah itu pada dunia!”

Segala sesuatu yang dahulu terdengar seperti dongeng, kini menjadi satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan. Dengan gigih aku berlatih, hari demi hari berlalu hingga kurasakan sebagaimana cuaca yang berganti, begitupun diriku. Membakar benih masa lalu yang membelenggu, membuat seolah waktu menjadi transparan- bahkan aku tak lagi mengingat tujuanku.

Sampai di suatu malam ketika bulan tampak penuh, bunga-bunga menebarkan wewangian semerbak di udara. Cahaya perak memantulkan sinarnya di permukaan bumi, seketika Gunung Atlas dipenuhi oleh kristal yang tak terhitung banyaknya, mencuat dari tanah juga dinding-dindingnya.

Berpadu dengan cahaya bulan, kristal itu mengeluarkan sinar yang menenangkan, membentuk sebuah jalur yang mengarah ke puncak gunung- tempat dimana Baba berdiri disana. Meski aku tahu ini hanyalah mimpi, namun semua gelak emosi yang mengalir dan keindahannya terada sangat nyata- seolah aku sedang digeser ke dunia yang lain!

“Orang-orang berharap untuk melihat pertunjukkan yang ajaib. Tetapi keajaiban yang sebenarnya adalah kesabaranmu, ketahananmu dalam menghadapi musim kehidupan.”

Kau menyapa dengan senyuman hangat, jarak yang seolah dilipat membuatmu tampak begitu dekat. Suaramu bahkan seperti muncul dari dalam kepalaku sendiri.

“Kesetiaan untuk mengungkapkan kebenaran adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan. Benih itu sudah ada di dalam dirimu, dan kau telah menyiraminya melalui meditasi. Aku sangat bangga padamu, Pangeran.”

“Baba… Aku tahu ini adalah pernyataan yang bodoh. Tetapi aku telah kehilangan sangat banyak hal: identitasku, reputasiku, pencapaianku. Jika aku kembali ke dunia, maka aku harus memulai dari awal lagi, dengan pengetahuan bahwa aku pernah berada di posisi tertinggi dan bahkan berkesempatan untuk berkuasa dan mengubah dunia… Tidakkah itu semua terasa sangat aneh?”

“Sananda! Semakin banyak yang dilepaskan, semakin banyak pula yang didapatkan. Apa yang kau pikir tentang identitas, reputasi, dan pencapaian bukanlah sesuatu yang nyata- Itu bukan dirimu! Kau yang sekarang, yang berani menghadapi pergelutan batinmu sendiri, telah menyalakan cahaya agar mampu berjalan dengan kesadaran. Disana kau sudah menemukan jawaban, untuk menolong orang lain sebagaimana kau selalu inginkan. Itulah dirimu, cahaya abadi yang telah kau sendiri nyalakan!”

Wajahmu terlihat sedikit mengeras, tetapi aku mengerti, sebab setelah melewati hari-hari penuh refleksi pun, aku masih merasa ragu dan tak mampu membuat keputusan. Betapa aku sangat goyah dalam mempertahankan keyakinan!

“Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang-orang yang tercerahkan: para avatar, ascended masters, yang telah mencapai kesadaran tinggi dan penyatuan, bersedia untuk mengalami pengalaman manusia yang penuh keterbatasan?”

Kini kau berdiri tepat di sampingku, membuatku semakin yakin, aku sedang bergeser ke duniamu.

“Mereka tidak pernah takut atau menyerah pada keraguan, meski itu menyiksa dengan amat hebat. Dalam keadaan lupa, mereka selalu membawa keyakinan tentang asal-usul, bahwa manusia memiliki kesempatan untuk mengubah keterbatasan menjadi sesuatu yang abadi, dan pada akhirnya menjadi arsitek atas takdirnya sendiri. Itulah dirimu, Pangeran.”

Aku tahu, kau sangat berusaha agar aku terbebaskan. Kau sangat ingin aku menjadi sepenuhnya baru- bukan hanya dengan menanggalkan pakaian, tetapi supaya tidak lagi menumpahkan kotoran yang sama dan tersesat dalam pikiran-pikiranku.

Mimpi itu terasa sangat lama. Memainkan emosi dan pikiranku, membuatku merasa terpenuhkan sekaligus amat lelah.

“Yang menarik adalah, cahaya mengada oleh karena adanya upaya untuk menyalakannya. Dan upaya itu memiliki batas. Suatu saat, entah dalam waktu singkat atau bahkan jutaan tahun lagi, ia akan padam, sehingga satu-satunya hal yang abadi adalah kegelapan. Apa yang disebut Tuhan sebagai asal-mula adalah kegelapan yang ilahi. Tidakkah itu sangat mistik, indah, dan sederhana, Pangeran?”

Malam hampir berlalu, sinar bulan yang masih terasa kuat perlahan meredupkan sinar kristal, bagaikan lilin-lilin yang meleleh, bersama dengan setitik air mata mengalir dari ujung mataku.

Kedatanganmu bagaikan sinar mentari, memberi harapan dan perlindungan layaknya seorang Ayah. Aku merindukanmu, Baba. Rasa rinduku lebih besar daripada amarah dan kekecewaan yang pernah kurasakan terhadap dunia.

Baca kisah sebelumnya di: The Message

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.