Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

Asal-Usul Yoga: Sebuah Kisah Tentang Siwa

     Tulisan ini adalah sebuah opini pribadi, bahwa asal-usul yoga berdampingan dengan peradaban tertua manusia. Alasannya adalah jika memang tujuan dari praktek yoga adalah untuk mencapai dimensi ketuhanan, maka seharusnya yoga pun berasal dari tempat yang sama. Ini kurang lebih sama seperti penyederhanaan bahwa dalam ragam perannya, ‘perjalanan ke dalam’ adalah signifikasi terang bahwa leluhur kita adalah para yogi.
    
     Secara lebih spesifik yoga hadir diantara awal dan akhir, menawarkan jalan ‘penyembuhan’ saat terjadinya gonjang-ganjing. Artinya yoga dirancang sesempurna mungkin oleh Sang Maha Agung, dan diturunkan pada masa transisi sebagai ‘anugerah’ untuk memberi jawaban perihal cara untuk kembali kepada-Nya. Maka dari itu izinkan saya memulai cerita mengenai turunnya yoga ke dunia melalui Sang Hyang Siwa, Sang Maha Guru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bathara Guru di Nusantara. Beliau adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dengan istrinya Dewi Rekatawati, dimana bersama mereka telah menciptakan sebuah telur yang bersinar.
    
     Telur itu terbagi menjadi tiga, yakni kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung (Togog), putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Hyang Tunggal lalu menugaskan Manikmaya untuk berkuasa di Suryalaya, sebagai pemimpin para dewa di kahyangan. Untuk itulah sebutan Mahadewa, dewa dari para dewa, ia dapatkan. Sementara dua saudaranya, Ismaya dan Hyang Punggung, turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa dan Kurawa sebagai simbol penguasa terang dan gelap.

     Cerita tentang Siwa memang tidak berdiri sendiri, sebab ada banyak sifat dan elemen yang membangun keseimbangan dunia. Maka jangan heran terdapat pula banyak dewa yang dipuja dalam ragamnya tradisi. Di Nusantara sendiri nama Siwa disebut dalam sejumlah Kakawin kuno seperti Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa di abad ke-10, Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung di akhir masa kejayaan Majapahit abad ke-15, Kakawain Kunjarakarna, dan lain sebagainya.
    
     Selain siwaisme, sejumlah keyakinan juga pernah berkembang di Nusantara antara lain adalah waisnawa, buddha, tantra, hingga titik kejayaan saat terjadinya sinkritisme ajaran siwa dan buddha, menjadi siwa buda. Berikut adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma yang mashyur nyawanya bagi Indonesia, karangan Mpu Tantular pada abad ke-14:
    
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Namun bagaimana kita dapat menyatakannya berbeda hanya dalam selintas pandang?
Sebab  hakikat Sanghyang Jina (Buddha) dan Sanghyang Siwa adalah tunggal adanya
Terlihat berbeda tapi tunggal juga, sebab tiada dharma (kebenaran) yang mendua

Siwa dan Tantra

Ada yang menyebutkan bahwa tantra pertama kali muncul di daratan India sekitar 5000 SM, dalam bentuk keyakinan lokal yang belum terpadu. Tak lama Siwa lahir di tempat yang sama, dan memperkenalkan tantra sebagai sebuah ajaran yang lebih mudah diterima. Berikut kutipan cerita yang tersebar mengenainya:

Namanya Sadashiva, artinya ‘dia yang selalu terserap dalam kesadaran’ dan ‘dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan’. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.”

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai ‘Bapa peradaban manusia’.”

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti ‘sifat dari sananya’. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.”

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.”

Tantra yang secara etimologi berarti memperluas kesadaran, menjadi ajaran filosofi yang terurai indah di kalangan tantris sektor kanan. Di sisi kiri yang terkenal melalui ritualnya, kemudian dianggap nyeleneh dan membuat tantra dipandang sebagai ajaran gelap oleh masyarakat. Seiring waktu ajatan tantra ‘diperhalus’ dan menurun menjadi hatha, kundalini, kriya, dan lainnya. Signifikasi kuat dari tantra pelatihan kebangkitan kundalini dan inisiasi.

Artikel terkait: Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Siwa Mahadewa

Semenjak ku tahu bahwa tiada jalan dapat memuaskan dahagaku,
Selain ajaran dari Sang Mahaguru, Siwa Mahadewa
Kulepaskan tahta yang menopang kepala dan membungkus kakiku
Untuk berjalan tanpa alas dan mahkota menuju taman dimana teratai emas tumbuh

Jalan yang terlampau sepi
Hanya kesendirian yang tertinggal sambil menggenggam erat rasa percaya
Bagaikan jangkar yang tertancap dan menegakkan badan
Adalah sabda-Mu, aksara yang melahirkan pikiran dan detak jantung
Di dunia tempat aku berpijak, membutuhkan dengungan suara, denyut, dan tarian-Mu
Di manakah semua itu?
Apakah tertinggal pada sunyi kuncup teratai?

Om Namah Siwaya!

Sungguh kubutuh perlindungan, tuntunan, dan keselamatan dari-Mu.

Once Upon A Paradise

Saat itu adalah puncak malam purnama. Energinya deras memancar semenjak sehari sebelum dan sehari sesudahnya, mengakibatkan sejumlah fenomena alam yang terasa tidak alami.

“Jadi apa yang kita cari?”

“Pulang.”

“Hah?”

“Kita tidak sedang mencari atau mengembangkan sesuatu baru yang berada di luar diri.”

Ia lalu menunjuk ke tengah-tengah dadanya sendiri, mempertegas letak Jiwa yang memang menurut tradisi, terletak secara fisik di sebuah ruang kosong di balik ulu hati.

“Setiap makhluk adalah suci, tidak peduli apapun yang telah diperbuatnya, di level manapun tingkat kesadarannya. Semua makhluk diciptakan dengan kesucian sehingga setiap saat mereka bisa saja menyingkirkan apa yang tidak suci, dan kembali ke asalnya.”

Aku tersenyum ketika ia berkata ‘setiap saat’, yang menegaskan sifat ilahi dan belas kasih dari Tuhan Semesta Alam.

Dan benar saja, sesaat kemudian, muncul untaian cahaya merah bercampur emas membentuk sesuatu yang terlihat seperti burung berukuran raksasa, menyala-nyala dengan anggun dan berani, datang menghampiri kami. Burung phoenix!

“Phoenix adalah simbol keabadian, Kala yang sesungguhnya. Ia adalah matahari itu sendiri, yang membuat kita memutuskan kapan siang dan malam terjadi, dan perputarannya melahirkan sistem kalender yang menandai waktu di bumi,” ia menjelaskan.

“Namun, matahari juga sama seperti bulan, perputarannya dapat dipercepat dan diperlambat, bahkan pada satu, titik berhenti untuk berbalik arah putaran. Itulah sifat dari waktu yang tidak absolut, dapat diatur sesuai pikiran dan emosi kita yang menjalaninya, dan bahkan mengikutsertakan tubuh fisik bersamanya.”

“Yang nyata adanya adalah kepingan dari kejadian-kejadian, pergerakan, dan perubahan. Apa yang kita sebut sebagai waktu adalah cara kita untuk mengukur perubahan.”

Siwa dan Sakti

Cahaya itu tadinya satu, dan lalu terbelah menjadi sepasang kilau biru keunguan yang utuh dan mandiri, saling mengekori- kadang menyatu dan terlepas lagi.
Satu kalpa lamanya, alam yang kosong ini pun diisi oleh sisa-sisa kilau yang bertebaran. Terang dan redup dalam kegelapan dan kesunyian yang penuh potensi.

Dan ketika ruang tempat mereka muncul meluas, cahaya itu dengan keanggunan seolah bersepakat untuk berbagi tugas, untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan ledakan spektakuler yang kemudian menghasilkan butir-butir cahaya yang lebih banyak lagi…

Dan terjadilah.

Kilau warna-warni itu bermanifestasi dalam berbagai bentuk: cair, padat, gas…
Darisanalah segala keindahan di dunia ini tercipta, turun dari angkasa dan tinggal jauh di dalam perut bumi.

Yang satu mencuat menjadi gunung yang begitu tinggi, dan yang satunya lagi menjadi kaldera mahaluas yang menganga lebar. Mereka adalah sepasang Gunung Suci Abadi, yang secara bergantian menjadi penguasa, yang kekuatannya ditakuti sekaligus dinanti.

Bersamanya, lahir Air Terjun Pengetahuan yang mengaliri Sungai Abadi, dan terciptalah Negeri Surgawi, asal mula peradaban Dunia yang kita kenal kini, Leluhur yang asli.

Memayu Hayuning Bawana

Sinar kuning bercampur emas menembus ranting-ranting pohon, dan dedaunan terlihat gelap karena tertimpa bayangan. Hembusan angin dengan lembut membelainya, mereka pun saling membentur ke satu sama lainnya.

Kabar mengenai lahan temanku yang ternyata mengandung emas misterius memberi aroma di ruang sore hari ini. Kubayangkan kilau emas yang bagaikan butiran itu menyala-nyala di tangannya, sahabatku yang paling berharga, yang pantas menggenggamnya.

Ia menegaskan, selamanya emas itu akan dibiarkan tertimbun disana, katanya untuk menjaga keseimbangan lahannya- sehingga ia dapat selalu menyebut tempat tinggalnya sebagai rumah.

Kini aku mengerti mengapa orang-orang merendahkannya- kawanku yang maha lembut tutur katanya itu, dengan sebutan ndeso karena logat dan bahasanya. Juga mengapa orang-orang meremehkannya, oleh karena cara hidupnya yang terlalu sederhana. Aku sudah melihat sendiri, bahwa semenjak dahulu kala, orang-orang tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya, dan tak sedikitpun terkaan mengenainya yang mendekati kebenaran.

Di teras rumahku yang dikelilingi kebun yang ditumbuhi sejumlah tanaman obat dan umbi-umbian ini, kubayangkan diriku sedang bercakap-cakap dengannya.

“Apa benar berita mengenai emas itu?”

“Iya benar. Leluhurku, aku, dan semua keturunanku, semua mengetahuinya.”

“Kalau begitu mengapa orang-orang sekarang sibuk membicarakannya?”

“Orang-orang sebenarnya tidak tahu, dan selamanya tidak akan pernah tahu.”

“Apa maksudnya?”

“Karena mereka salah mengartikan tentang emas.”

“Emas di lahanku ini, memang dapat memberi lebih dari cukup makanan untuk semua orang di seluruh negeri untuk selamanya. Tapi mereka juga lupa bahwa tanpa memiliki emas ini pun, mereka dapat hidup kenyang jiwa dan raga.”

“Saat ini banyak yang salah paham, ketika mereka tahu bahwa tanah kita adalah Negeri Emas yang hilang, mereka jadi ikut-ikutan menggali untuk diri mereka sendiri. Mereka jadi berebut harta padahal harta yang sesungguhnya tak dapat diperebutkan.”

“Meski memang ada secara fisik, namun bukan itu yang dimaksudkan. Harta yang paling berharga adalah dirimu, kawanku, jiwa yang bebas dan dengan sadar menjaga keindahan negeri ini tanpa keinginan untuk memilikinya.”

“Jiwamu-lah sumber daya yang menambah keindahan Negeri ini. Jiwamu-lah satu dari jiwa-jiwa beraura emas yang menghadirkan zaman penuh kemuliaan di permukaan bumi.”

Kini kutahu, sikapnya yang sederhana adalah emas yang dicari itu, berwujud manusia dan bukanlah siapa siapa di dunia. Semenjak dahulu kala, orang-orang mencoba untuk merundingkan sejumlah penawaran, namun berakhir dalam kebingungan dan keheranan. Dan sampai hari ini, mereka tak mampu melihat sedikitpun Cahaya terang menderang yang mengelilingi sekujur tubuhnya; manusia yang paling didengarkan oleh penghuni langit dan bumi itu.

Satyayuga

Januari 2019. Kala itu angin bertiup kencang sepanjang hari, diiringi sedikit hujan. Beberapa pohon tumbang, tak kuasa menahan kuatnya angin yang bertiup dari arah Selatan. Berita tentang gempa dan gunung meletus ramai menghiasi surat kabar digital, yang kali ini bahkan juga mengguncang Suwarnadwipa- nama lain dari Pulau Sumatera yang berarti Pulau Emas, juga Celebes atau Sulawesi, yang semuanya masih bagian dari Kepualaun Sunda Besar.

Kuperhatikan titik-titik aktivitas alam di peta yang tersimpan di selulerku. Lekukan pulau-pulau nan eksotis dalam berbagai ukuran, serta rentetan gunung yang berjejer segaris terlihat mencolok di peta. Sambil duduk di samping meja yang berdampingan dengan jendela kamar, kubayangkan jika memang yang terlihat dan tercatat saja sudah semenakjubkan ini, bagaiamana dengan yang tidak terlihat dan belum terjelajahi?

Aku lalu membuka mesin pencari dan mengetik ‘krakatau’ sebagai kata kunci. Muncul sebuah gambar kota dengan sentuhan futuristic yang menarik perhatianku. Bangunan-bangunan yang membentuk lingkaran serta tanda cross di tengahnya. Bagian ujung bawahnya memanjang seolah menjadi penghubung antara tempat tersebut dengan sebuah tempat yang lain. Di bawahnya tersemat sebuah tulisan puitis yang cukup panjang tentang negeri itu:

Setelah akhir dari peradaban Induk Negeri Surgawi- yakni pada saat Gunung Toba meletus, dengan bantuan sejumlah tokoh dan para Sang Hyang, jalur-jalur baru terbuka, diaktifkan, sehingga munculah Negeri Surgawi yang Sesungguhnya. Sang Legenda yang termashyur, diagung-agungkan saentro dunia.

Kala itu suhu bumi menurun dan terjadilah musim dingin global pertanda zaman baru. Negeri inilah satu-satunya yang berlimpah dan gemilang.Tanah subur dengan sawah bertingkat nan luas, pohon-pohon kelapa yang melambai memberi kesejukan. Di tepi pantai berdiri karang-karang dan tebing yang gagah, ombak-ombak pun dengan cantik membenturkan diri ke dindingnya.

Jutaan burung di angkasa menghaturkan nyanyian persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kicauannya membangunkan jutaan makhluk dari tidurnya!

Bersamaan, mentari muncul memberi sinar kuning di atas tanah yang cokelat dan pada dedaunan. Terang benderang. Subur sejahtera. Mata berbinar dengan keberanian yang berbalut kedamaian. Di sore hari pun keindahan yang lain menampilkan kemashyurannya. Kilau oranye dan ungu di ufuk barat mengayun menenangkan, tanda petualangan baru yang menawarkan ungkapan tentang rahasia-rahasia. Rahasia yang sampai hari ini masih hidup dalam hati jiwa-jiwa yang pernah mencicipinya. Yakni tentang kerajaan yang menguasai seluruh alam raya. Semua kerajaan yang pernah ada bergabung dengan sukarela, tunduk pada satu-satunya pemimpin tunggal yang absolut.

Betulkah induk peradaban dunia berasal dari negeri kita, kampung halaman ini? Sesaat aku terhanyut dalam imajinasi yang memperluas data-data di otakku melalui simbol dan mitos, yang memang digunakan sebagai alat pengakses untuk mengungkap pesan-pesan leluhur.

Merah dan putih. Simbol warna ini dipercaya sebagai penyatu seluruh pulau dan lautan di permukaan bumi, sekaligus merupakan simbol Siwa dan Sakti, yang dipersonifikasikan sebagai gunung dan lautan yang memberi kehidupan di permukaan. Tanda-tanda langit pun dengan cermat terkodekan melalui struktur dan relief candi-candi, yang jumlahnya ratusan dan bahkan masih banyak lagi yang belum digali, tertimbun bersama legenda dan anomali.

Hal ini adalah petunjuk mengenai negeri ini yang dahulu pernah dihuni oleh sebuah peradaban maju, dengan teknologi serta pengetahuan yang mengungkap cerita semesta. Ada yang menyebutkan bahwa ‘pengaburan’ dan penutupan akses memang selama ini sengaja dilakukan oleh leluhur, untuk melindungi tanah ini dari kerusakan yang lebih parah.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membangun kembali dan mewujudkan zaman emas yang pasti akan terjadi adalah mengakses kesadaran leluhur. Mencari kebenaran masa lalu untuk membangun lagi dengan kekuatan saat ini. Kenyataannya, Nusantara yang pernah jaya sudah hancur dan tak akan kembali, tapi zaman emas yang cemerlang dan dibasuh oleh pengalaman dan kebijaksaan sedang dikerjakan saat ini.

Nadi-Nadi Swargaloka…

Angin dingin musim kemarau menyapu punggungku, meski sudah berpakaian tebal. Bintang berkelap-kelip di angkasa, bau asap yang membakar ranting kayu memberi aroma menghangatkan, namun rasa ngilu tetap menusuk tulangku dengan tak tertahankan.

Saat ini ribuan manusia yang tengah serius mempelajari Weda Jawa dan tersebar dengan ritme yang mengagumkan, bersorak-sorai menanti petualangan yang menggetarkan. Petualangan yang perlahan akan mengungkap jati diri insan manusia, yang masing-masing membawa serpihan cerita untuk kemudian dipersatukan, agar menemukan jalan keluar.

Mereka berjalan sendiri-sendiri, menyelesaikan permasalah demi permasalahan, sendiri-sendiri. Terlindung oleh malaikat yang mengawal dari berbagai penjuru, mereka hanya perlu yakin dan menjaga batin agar tetap seputih salju.

Ah betapa menyejukkan, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka bertebaran di bumi… berupa mereka yang mencintai, melestarikan, dan hidup dalam kreativitas. Berupa mereka yang senantiasa setia pada dharma, dan berusaha menegakkannya. Dalam hati, di seumur hidupnya, rasa tentang keadilan begitu kuat hingga auranya terpancar dengan dominan dibanding teman-teman seusianya.

Seni, budaya, dan teknologi bukan hanya menjadi alat untuk menghidupkan kembali wujud jati diri yang telah lama dikaburkan oleh lapisan-lapisan ketidaksadaran. Tetapi menjadi nadi yang mewarnai kehidupan sehari-hari… Nadi-nadi Swargaloka…

“Memang sebenarnya, jiwa-jiwa lama yang kesadarannya sudah terlanjur terbolak-balikkan tidak lagi dapat ditolong…”

“Jadi apa mereka semua harus mati?”

“Betul.”

Aku bergidik ngeri, kubayangkan jika akumulasi dari jiwa yang tak tertolong ini pada akhirnya harus menghadirkan bencana besar dan menghanyutkan seluruh pulau, seperti yang pernah terjadi puluhan ribu tahun lalu.

“Dengan pemahaman bahwa kematian dan kelahiran menjadi satu-satunya jalur alamiah yang akan menyeimbangkan segala sesuatu yang sudah terlanjur, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka itu hadir. Mereka sendiri, setelah mengalami berbagai cobaan kehidupan terutama saat remaja, sadar bahwa proses ini harus dialami oleh setiap orang yang ingin terbebaskan dari kepalsuan.”

“Mati sajroning urip, urip sajroning pati.”

“Tepat.”

“Seperti apa itu menjadi mati?”

“Kematian bagi kebanyakan orang hanya terjadi pada jasad, yakni selayaknya berganti pakaian, atribut, ruang, dan waktu. Tetapi bagi para Ksatria, Pendeta Agung, dan Para Raja, kematian sama dengan kelahiran, dimana puing-puing belenggu telah tersingkirkan. Hidup bukan sekedar hidup. Hidup adalah kesadaran.”

Jangkrik berhenti mengerik. Angin berhenti bertiup. Awan-awan kecil yang sebelumnya melayang bebas tak terarah seolah membeku di angkasa. Kuyakin sejenak waktu terhenti- atau melamban dengan begitu signifikan.

Perlahan, suara derak api yang membakar ranting-ranting kering kembali memantulkan getarannya di udara. Rasa dingin menusuk tulangku lagi, menyibukkan pikiran dengan mencari cara untuk menghangatkan diri.