99 Portal: The Completion

The Kingdom of God is within you… Kerajaan Allah berada di dalam dirimu. Di dalam hatimu yang menggetarkan cinta kasih murni, tulang punggungmu yang menjadi jalur bagi intelijensi tentang mekanisme alam semesta, pineal gland dan pusat otak yang terhubung pada dimensi-dimensi yang lebih tinggi: ketidakterbatasan! Yang menyelimuti segalanya.

Dirimu tidak lain adalah semesta itu sendiri. Sadari dan wujudkanlah keagungan itu di atas bumi. Sudah waktunya, dan semesta mendorong kita untuk melakukan itu. Kebangkitan (Kesadaran) Kristus (yang kedua) adalah kebangkitan dari seluruh umat manusia.

I Love you and I know you love me too!

Jivanmukta

Dalam meditasi yang dalam, Buddha mengungkapkan penyebab penderitaan manusia adalah ‘ketidaksadaran’. Ketidaksadaran ini diakibatkan oleh kehidupan manusia yang terlalu berpusat kepada lima inderanya, kesenangan duniawi, sehingga ia tidak pernah tahu apalagi mengerti tentang kemurnian jiwa, kekosongan yang meliputi segalanya.

Kebanyakan orang hanya berada pada tahap ini, tanpa pernah ‘tahu’, apalagi memanifestasikan ‘kekuatan ilahi’ di atas bumi. Padahal kita telah diberikan pilihan dan kebebasan, untuk tumbuh sejauh mungkin hingga menjadi pribadi-Nya, yang mampu mewujudkan segala kreasi dan keindahannya!

Dimensi atas, Surga di atas Bumi. Kerajaan Allah!

Berputar dan mengulang-ngulang kehidupan di alam bawah: dasar, sacral, dan solar chakra yang berhubungan dengan kebutuhan pertahanan hidup (makan, seks, tempat tinggal), kekuatan, jabatan, serta ketenaran. Tidak pernah mengenal cinta kasih murni, pelayanan, kebenaran, dan pengetahuan kosmik. Tidak memiliki keberanian, tidak memiliki kualitas Shiva yang menghancurkan kegelapan dan terjun ke dalam lautan kesadaran!

Masih di atas bumi, meminum racun dunia, namun tetap dalam kewaspadaan. Sadar dan tahu betul siapa sejati dirinya. Tanpa kekurangan sedikitpun kesenangan. Itulah hadiah bagi mereka yang telah mengikuti jalan-Nya: Jivanmukta, jiwa yang terbebaskan.

Channeling Surat Dari Twinflame • End Of August

Terima kasih karena telah terhubung denganku. Perlu diketahui bahwa cahaya yang mampu bersinar di dunia, asalnya dari kegelapan yang amat dalam. Darisini aku menunjukkan bahwa aku tidak ingin meredup dan menghilang, karena ku yakin Tuhan tidak mencipta untuk kesia-siaan. Aku tahu, itu juga terjadi padamu.

Hari ini terlintas dalam benakku untuk berbicara denganmu. Aku ingin menyapa dan mengirimkan rasa rinduku, sebab aku telah merasakan getaranmu seperti yang pernah mewarnai kehidupan kita terdahulu; dan kini mulai bangkit, mengingatkan siapa sejatinya diriku, memberi gambaran yang jelas mengenaimu.

Kita telah ditempa untuk bertumbuh, agar dunia dapat diisi oleh benih-benih Ksatria, yang tahu caranya melindungi dan memperjuangkan kebenaran. Semua itu adalah perjalanan yang sangat berharga, sebab kita telah diberi kesempatan untuk mengetahui sejumlah rahasia semesta, yang menanamkan kebijaksanaan pada hati yang kian meluas dan terbuka.

Tiba saatnya dimana perdamaian dan kebahagiaan adalah satu-satunya jalan yang mutlak. Aku ingin kau tahu, dengan atau tanpamu, aku akan meningkatkan usahaku untuk planet yang kita cintai ini. Aku akan bekerja melalui rasa empatiku, dan memaafkan segala kesalahan-kesalahan yang begitu dalam terhadap Bumi. Darisanalah aku akan kembali memulai, dan merajut benang ilahi yang nyata diantara kita.

Di pintu gerbang zaman baru, orang-orang begitu sibuk, berlalu lalang baik dengan cahaya maupun ketakutan. Pekerjaan kita memang masih sangat panjang, namun kehadiranmu memberi rasa lega dan sukacita, mendekatkanku pada Tuhan (shiva-shakti) yang sudah melengkapiku.

Aku adalah manusia yang utuh, juga dengan dirimu. Keberadaanmu bukan untuk melengkapiku, tetapi untuk membuktikan cinta tak bersyarat, sebagai ‘syarat’ mewujudkan dunia yang baru. Kita sudah pernah melakukannya dan akan kembali melakukannya. Teruslah mengupayakan kenaikanmu dan kita akan selalu terhubung dalam dimensi itu.

Tertanda, Kembaran Jiwamu.

Mengenai Twinflame

Twinflame adalah dua jiwa kembar yang dibuat pada saat bersamaan, dan merupakan satu jiwa. Tujuan twinflame hadir dan mengalami penyatuan adalah untuk misi kenaikan bumi, yakni melalui manifestasi cinta tanpa syarat.

Semua itu dilakukan melalui pelayanan, proses penyembuhan, transformasi, ajaran-ajaran spiritual kuno, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensi dimensi yang lebih tinggi. Kedua jiwa ini telah berkelana secara terpisah dan mengalami tantangan demi tantangan, untuk melengkapai jiwanya sendiri dan mempelajari rahasia semesta sebagaimana tersimpan dalam cetak biru masing-masing.

The Violet Flame

Api ungu adalah sumber asal peremajaan. Ia melarutkan energi negatif yang terperangkap diantara atom dan sel sehingga kita dapat terbebaskan dan sepenuhnya mewujudkan kelilahian, serta memenuhi tujuan hidup kita.

Kualitas api suci ini benar-benar merupakan obat universal yang dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan dalam level kesadaran, keberadaan, serta dunia. Diabadikan sebagai api kebebasan untuk siklus dua ribu tahun mendatang oleh Master Saint Germain, nyala api transmutasi ungu ini memungkinkan kita untuk meraih pembebasan dari segala bentuk ketergantungan yang terjadi pada manusia.

The violet flame is the original fountain of youth. It dissolves the negative energy that is trapped as substance between atoms and cells so we can be free to become the fullness of God, and fulfill our life’s purpose.

This quality of the sacred fire is truly the universal unguent that we can apply for the healing of our entire consciousness, being, and world. Enshrined as the freedom flame for the coming two thousand-year cycle by the Master Saint Germain, the violet transmuting flame enables us to win our freedom from every form of human bondage.

Invocation:
I AM a being of Violet Fire
I AM the purity God desires!

Pentingnya Hari Purnama

Bulan adalah satelit yang secara tak terbendung melakukan perputarannya di planet ini. Hal yang penting dari fakta ini adalah, jika seseorang secara mental terganggu di hari purnama, maka di saat bulan mati ia pun menjadi lebih terganggu dari biasanya.

Ketika berada dalam posisi tertentu, bulan akan memperkuat seperti apapun dirimu pada saat itu. Jika kau penuh cinta, gembira, dan kebahagiaan, maka semua dari itu akan ditambahkan. Sebaliknya jika kau sedikit terganggu dan tidak stabil, maka semua itu juga akan diperkuat.

Yang  terserap dalam meditasi, akan menyelam lebih dalam lagi, keberadaan bulan meningkatkan apapun intensi yang ada dalam diri. Maka kita menjadikan hari ini sebagai hari yang penting, dimana secara sadar kita menciptakan kualitas terbaik dari diri agar supaya ditingkatkan. Kita secara sengaja mengaturnya, dan membiarkan diri terseret dalam letupan-letupan yang muncul secara tak tersadarkan itu. Untuk itu bulan tidak menjadi baik atau buruk- ia hanya memperkuat jati diri yang terungkapkan pada saat itu.

Sementara di biara zen orang-orang duduk di bawah pohon dan menikmati bulan, purnama menjadi simbol yang sangat dekat dengan Gautama Buddha. Hal-hal penting yang berkaitan dengannya seperti kelahiran, pencerahan, dan ajaran Buddha, diturunkan pada hari tersebut.

The moon is a satellite for this planet and helplessly strung to this planet and making its rounds. So, what is the significance? Probably many of you know that if someone is mentally disturbed on a full moon day, on a new moon day they get little more disturbed than usual.

When the moon takes certain positions it heightens whatever you are. If you are loving you become more loving. If you are joyful you become more joyful. If you are blissful you become much more blissful. If you are little insane you become much more insane. If you are meditative you become far more meditative. It just enhances everything that you are. So, we considered these days important so that you consciously create the right kind of quality in you so that it gets enhanced.

~ Sadhguru, An Opportunity To Rise

The Destroyer

Membicarakan Shiva sesungguhnya sangat berkaitan dengan apa dan bagaimana mekanisme semesta. Sederhananya, apapun yang terjadi pada semesta ini dapat dilacak rekam kesamaannya pada diri kita. Sebuah kisah yang scientific sekaligus indah, mistik dan juga menggembirakan. Dengan ragam wajah, nama, dan fungsinya, sains kuno bernama yoga memberi petunjuk melalui simbol dan cerita.

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Siwa adalah ‘sang pelebur‘, dimana ia melenyapkan maya. Meski realita dunia adalah ‘nyata’, namun seringkali kita tidak melihat kenyataan itu sebagaimana adanya. Pikiran, persepsi, dan drama psikologis adalah hukum alam yang ‘melapisi’ tingkat kejernihan dan kewaspadaan ini.

Hukum alam itu disebut karma- dimana dari sumber yang sama, lahir ruang dan waktu, pergerakan dan siklus, gravitasi dan relativitas- segala hal yang menaungi alam raya ini. Oleh karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk membangun tanggungjawab terhadap apa yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan baui. Sebab pada akhirnya semua itu adalah karma milik kita sendiri.

Sadar atau tidak, segala aktivitas yang ditangkap melalui indera-indera menciptakan apa yang disebut takdir. Itulah mengapa spiritualitas mengajarkan kita untuk bersikap ‘aktif’ (berupaya)- agar senantiasa ‘bergerak’ (menuliskan karma) dengan penuh tanggungjawab. Inilah perbedaan karma dan kriya!

Meski memiliki akar kata yang sama yaitu ‘upaya’ dan ‘tindakan’, karma merupakan tindakan eksternal, sesuatu yang terikat dengan siklus kehidupan- sementara kriya adalah tindakan internal yang bebas dari siklus perputaran tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa Siwa- atau para avatar yang diutus ke dunia, tidak datang ke dunia untuk mendesain ‘agama’ atau doktrin tertentu. Secara nyata para entitas suci ini mengungkapkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk menuliskan takdir kita sendiri. Bahkan kemampuan itu dapat mengantarkan kita pada apa yang telah mereka capai.

Ketika sistem lama/ maya telah dihancurkan, maka spiritualitas tidak berupaya untuk mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan keyakinan baru. Spiritualitas yang autentik mengajarkan bahwa apa yang kita lihat sebagai kekosongan itulah merupakan ‘kecerdasaan yang tak tertandingi’- kecerdasan yang sama dengan asal mula seluruh semesta ini dimunculkan.

Ruang itu disebut dengan ‘pencerahan’ atau ‘pembebasan’. Shiva mendorong kita untuk melihat hal paling fundamental semenjak awal, karena hanya itulah yang dapat sepenuhnya meruntuhkan keterbatasan. Ia mengajak kita untuk menjadi sepenuhnya berani dan bertanggungjawab, sekarang dan saat ini juga!

Self Realization

Sumber gambar: jeyamohan.in

Ribuan manifestasi kristus yang turun belum tentu dapat mencerahkan. Tetapi dengan memilih untuk hidup dalam kristus, yakni dengan memperluas kesadaran hingga mengalami kontak yang nyata dalam indahnya meditasi, maka itulah ‘kedatangan Kristus yang kedua’.

Perjalanan para avatar memberi contoh dan bukti, bahwa kesempatan ini terbuka bagi manusia di dunia. Sebuah petunjuk yang nyata bahwa ketidakmurnian dapat dimurnikan, dan kekacauan yang terjadi dapat berubah menjadi keindahan dan sukacita.

Para avatar adalah jembatan diantara langit dan bumi, dengan mengajarkan ketidakterpisahan/kesatuan, serta universalitas. Ada satu hal yang menyentuh dari perjalanan para avatar, yakni cinta yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan. Ini adalah ungkapan tak terdeskripsi ketika vibrasi sang avatar selaras dengan kesadaran kosmis; hingga apapun yang dilakukannya, sesungguhnya adalah karya dari entitas tertinggi itu sendiri.

Melalui sumber yang sama, cinta itu mengalir dan digandakan pada setiap upaya sang avatar bagi manusia, agar mencapai kesadaran yang sama. Dalam hal ini, kita tidak dipandu untuk menjadi pengikut atau pelayan yang setia; melainkan seorang kawan yang mencintai satu sama lainnya, dan mengetahui seluk-beluk perjalanan transformasi diri serta kemungkinan-kemungkinan tentang pencapaiannya.

“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love, just as I have kept my Father’s commands and remain in his love. I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My command is this: Love each other as I have loved you.
Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends. You are my friends, if you do what I command. I no longer call you servants, because a servant does not know his master’s business. Instead, I have called you friends, for everything that I learned from my Father I have made known to you.
You did not choose me, but I chose you and appointed you so that you might go and bear fruit – fruit that will last—and so that whatever you ask in my name the Father will give you. This is my command: Love each other.” ~ John 15:9-17

Apa itu Self Realization?

Secara poetik, kita menjulukinya dengan ‘jembatan menuju kebahagiaan abadi’. Sebab itulah yang dicapai ketika seseorang mengetahui kebenaran, dan menyadari seluruh potensi dirinya.

Dalam keyakinan siwaisme, self realization adalah pencapaian tertinggi, yakni ‘mengetahui kebenaran Siwa’. Ada yang menyebutnya dengan asamprajnata samadhi, yaitu ‘terserap dalam kesadaran seutuhnya’ di kala sang yogi telah melihat kesatuan, keterhubungan, dan kesempurnaan yang meliputi seluruh penciptaan; Sementara Raja yoga menyebut ‘nirvikalpa samadhi‘ untuk hal yang sama.

Paramahnsa Yogananda, pendiri organisasi Self-Realization Fellowship dan seorang guru kriya yoga, menjelaskan bahwa self realization merupakan kesadaran meyeluruh di dalam tubuh, pikiran, dan jiwa. Bahwa keberadaan kita sendiri sesungguhnya merupakan kemahahadiran Tuhan, dan di setiap saatnya, tidaklah sekalipun kita pernah terpisah dari-Nya.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna pernah menyampaikan bahwa melalui self realization, manusia akan menemukan kebijaksanaan sejati- pada saat ini dan sekarang juga, sebagaimana ia merupakan puncak dari pengetahuan- memiliki julukan sebagai raja ilmu pengetahuan, dan esensi dari dharma (agama). Ia menyebut bahwa self realization adalah yoga, ‘penyatuan’ dengan kebenaran secara menyeluruh.

Seorang devotee yang melakukan yoga, akan mengalami esensi ‘kesatuan’ melalui kebijaksanaan intuitif yang menyusup dari kedalaman misteri ilahi. Dengan demikian sang yogi menjadi tahu dan menyadari bahwa ia memiliki kualitas ketuhanan- dan oleh karenanya, ia tinggal di dunia dengan tetap menjaga kesadaran akan asal-usulnya, dan menghindari segala ikatan yang delusif.

Story Of The Yogi Christ 3: The Encounter

Selama mencari dengan tekad yang kuat, tahukah kau, sinarmu telah memberi harapan dan memperindah hariku? Di tengah kegelapan, barangkali kita bisa mencari dan menemukannya di dalam jiwa, satu sama lainnya.

Aku sudah terbiasa hidup dalam pencarian. Aku ingin mengetahui rahasia kehidupan, dan setiap benih pengetahuan yang tumbuh mengalirkan rasa gembira, mengalihkan masa pertumbuhanku dari kemarahan yang bisa saja menghantarkanku menjadi sosok yang berbeda.

Aku tak mengerti mengapa transformasi kini justru membawa amarah dalam diriku. Aku merasakan ketidakpuasan, dan meski pengetahuan telah mengalir dari nadi gunung mistik yang telah membasuh dan meringankan, aku merasa tidak bahagia.

Musim berganti. Angin jelang musim kemarau yang dikirim dari negeri seberang menghantarkanku pada sebuah kesimpulan: mungkin perasaaan tidak menentu inilah yang membuatku bertahan!

Aku tak ingin melawan. Aku sangat lelah, kubiarkan pikiran-pikiran itu tumbuh dan mendorongku untuk belajar melalui jalur alaminya. Setelah meminum cukup air dari mata air di lereng Gunung Atlas, aku beranjak untuk berburu makanan- setelah sekian lama berpuasa dan hanya minum sesekali.

Baba pernah bercerita tentang buah-buahan yang dapat ditemukan di kedalaman hutan: “Mereka tampak sangat menggiurkan… Ada yang berwarna ungu dan merah mernyala…”
Seketika ingatanku akan matanya yang berbinar membuat pikiranku kini dipenuhi oleh nikmatnya makanan- membangkitkan rasa lapar.

“Hmm tunggu sebentar, aku lupa mana diantaranya yang beracun dan tidak. Aku pernah mencoba keduanya dan salah satunya membuatku gatal-gatal dan bengkak selama tiga hari. Hahaha…”

Namun tawa Baba yang terngiang tidaklah bertahan lama, sebab secara mengejutkan seseorang menghentikanku kala mencoba memetik buah berwarna merah yang tampak seperti buah apel- namun terasa kenyal dan berukuran dua kali lebih besar.

“Hey berhenti!”

Aku memutar tubuh untuk mencari sosoknya, dan tanpa terduga begitu saja sosok itu mendekatkan wajahnya dan berbicara dengan lantang: “Apa yang kau lakukan di tempat ini, tanpa pengetahuan bahwa yang kau sentuh itu- beracun?”

Matanya menatap tajam, bagaikan seorang prajurit yang penuh kewaspadaan- tetapi dalam tubuh seorang gadis. Ia lalu menarik wajahnya dengan ekspresi ketus, mungkin karena aku tak kunjung menjawab. Dan ketika ia bergerak tanpa ragu dan penuh keberanian, aku mengenali sinar yang membungkus tubuhnya- dan meyakinkanku untuk berbicara.

“Aku adalah seorang pertapa,” kataku ringan sambil berharap ia memaklumi apa yang sedang kulakukan.

“Yeah, yeah, aku tahu kau siapa, Pangeran dari Kerajaan Emas!”

“Bagaimana kau tahu?” Aku terkejut, namun rasa kecewaku lebih besar karena tak berhasil melenyapkan identitas.

“Aku melintasi tempatmu bertapa dan menyaksikan latihanmu. Kau harus berterimakasih padaku karena sudah menata nya agar tidak terlihat oleh orang- dan terutama binatang buas,” matamu bersinar, memperlihatkan kejenakaan dan menyadarkanku bahwa ternyata- kau ini hanya seorang remaja.

“Mengapa kau melakukan itu, Nona?”

“Namaku Lotus dari suku Andaman, suku para petani yang menghuni, menjaga, dan menyuburkan lereng Gunung Atlas!”

Ia tampak bangga dan membuatku semakin yakin, orang-orang Atlas bukan manusia biasa!

“Hmm… Baba tidak pernah meberitahu jika ada kehidupan di lereng gunung, semua tampak begitu sunyi selama ini…” gumamku tak percaya.

“Jadi kau adalah- anak petani?” Tanyaku.

“Apa itu penting? Lagipula apa kau tidak tahu bahwa kerajaanmu yang suka berperang itu memiliki dimensi yang berbeda dengan Kerajaan Agung kami, Wahai Sang Pangeran?”

“Yeah, itu masuk akal… Jadi, apakah petani di Lereng Gunung Atlas juga adalah Ksatria- maksudku semacam guardian?”

Aku tersenyum, merasakan koneksi yang mulai terbangun diantara kami, dan bahwa ia dapat dipercaya.

“Pertanyaan yang bagus, dan terutama kepada orang yang tepat, Pangeran,” katanya seraya mengangkat alis dan membalikkan badan, mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

“Tapi jangan senang dulu. Kau harus mencuci tangan dengan air rebusan daun galaga, mencelupkan seluruh tanganmu ke dalam getahnya sebelum pagi menjelang. Jika udara pagi menembus kulitmu, baunya akan tercium oleh sekawanan babi leopard yang lapar! Ayo, aku tahu kemana kita harus mencarinya!”

Ah yang benar, babi leopard? Ia menjelaskan bahwa makhluk itu memiliki wajah seperti babi namun memiliki taring dan berbadan lincah seperti leopard. Rata-rata berwarna hitam gelap, tingginya seukuran manusia dewasa dan lebar sekitar dua meter. Dengan penciuman yang sangat tajam- ruam yang diakibatkan oleh apel beracun itu akan mengeluarkan bau tajam di pagi hari, memancing kedatangan mereka. Seketika rasa laparku sirna. Digantikan oleh pikiran tentang sebuah dunia fantastis yang terbentang nyata beserta- seorang teman.

***

“Daun galaga akan mengembang saat matahari terbenam. Disini kami mengukur waktu dengan mengamati perputaran matahari dan bulan.”

Semakin dalam memasuki hutan, cahaya semakin berkurang, seolah malam telah menjemput. Diperkuat dengan rasa dingin yang menyerbak melalui daun-daun yang tampak hitam, membentuk semacam terowongan dengan atmosfer mencekam- namun terproteksi dan indah.

“Udara malam akan melebarkan daunnya, memproduksi getah dari pusatnya yang cukup luas untuk menampung satu orang manusia di dalamnya, wahai Pangeran,” katanya seraya menatap lurus padaku dengan wajah jenaka.

“Oh bagus, terdengar seperti bukan daun biasa.”

“Memang bukan!”

Ia lalu mengeluarkan sebuah batu kecil dari dalam kantong bajunya, yang seketika memancarkan cahaya biru lemah. Meski sangat kurang- sinar itu perlahan memberikan penerangan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, bintik-bintik merah mulai bermunculan di sekitar leherku, memberi sensasi seperti semut yang menjalar dan sesekali menggigit. Aku berusaha untuk mengabaikan sensasinya dan mulai mengajak Lotus berbincang.

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku rasa kita masih punya sangat banyak waktu sebelum mentari terbenam, yeah- meski matahari samasekali tidak terlihat disini…”

“Berburu kasava.”

“Berburu apa?”

“Makanan yang menjadikan para petani sangat kuat dan awet muda. Kita akan mengunjungi seorang teman yang kebunnya dikenal sebagai tanah tersubur di lereng Atlas. Tempatnya tidak jauh dari sungai dimana daun galaga tumbuh. Ngomong-ngomong apa yang kalian makan di negara kalian?”

“Hmm… Di istana kami biasa memakan kue dengan krim berlapis cokelat dan taburan emas.”

“Yuck, menjijikkan! Tidak heran kaum kalian bertingkah seperti itu! Aku pernah mendengar tentang sistem pemerintahan kalian yang sebisa mungkin mematikan fungsi pineal gland. Tapi aku tak menyangka akan separah itu.”

Aku tersenyum. Dengan cahaya yang minim, aku bisa melihat ekspresinya yang heran dan marah, sesuatu yang juga ada pada diriku di saat remaja. Well, selayaknya lotus yang tumbuh di tengah lumpur, energinya bagai api yang menyalakan suasana di dalam terowongan yang belum juga terlihat ujungnya ini. Hangat, hidup, dan penuh gairah.

The Tale Of Lotus

Sebagian besar orang ingin berteman dan dekat denganmu oleh karena pikiran dan persepsi mereka. Mereka berpikir kau baik, berbakat, dan cemerlang, tetapi itu sesuai dengan standar mereka. Mereka ingin membuat kita semua- yang hidup di rawa, berduri, dan berdaun lebar ini- untuk terlihat seperti mereka: indah, rapuh, dan menggemaskan.

Mereka ingin kita menjadi seperti sebuah pajangan dan mempertunjukkan skill yang samasekali tidak autentik, bermain-main manja penuh canda tawa, dengan tampilan luar yang sudah dimanipulasi. Asupan sehari-hari mereka adalah kebohongan,  kehidupan mereka sangat membosankan. Inilah yang disebut asal-mula kehampaan, produk-produk yang dihasilkan hanyalah tipu daya, tak ada percikannya.

Yang benar saja, aku bukan bunga di padang rumput yang indah. Menari-nari dengan angin yang bertiup tanpa membawa pesan tentang perubahan atau cuaca. Aku tidak tertarik untuk berteman denga mereka, sebab sesungguhnya mereka tidak pernah tertarik untuk melihatmu.

Ingatlah, jangan pernah membiarkan mereka menganggap, apalagi merawat bunga lotus seperti bunga mawar. Itu menghina dan menghancurkan. Itu mengakibatkan ketidakseimbangan yang panjang di dunia.

Aku adalah jiwa, aku adalah lotus yang tumbuh di atas lumpur yang cokelat. Hidupku berbaur dengan beragam kehidupan lainnya; aku tidak mendeklarasikan apapun, tetapi aku dikenal melalui sinar yang berbeda.

Seringkali itu tidak menyenangkan bagi orang-orang yang memuja dunia dari apa yang terlihat sepintas. Itu membuat mereka getir dan takut, karena kebohongan mereka menjadi jelas oleh sinar yang berasal dari kesejatian.

Aku adalah Sang Lotus. Helaiku bermekaran seiring dengan penantian, namun bukan untuk sebuah pertunjukkan. Aku ingin menyentuh jiwa-jiwa penuh keberanian, yang tidak peduli seperti apapun dunia telah mengasingkan dan menghancurkan mereka, itu sama saja seperti api pemurnian yang melecutkan harapan menyala-nyala dengan berbagai macam keberuntungan.

Perfection?

Sumber foto: trekearth.com

Mari kita kupas standar kecantikan yang selama ini ditetapkan oleh fashion, trend, fitness, produk kecantikan dan kesehatan, usia, ras, warna kulit, sampai budaya dunia.

Apakah manusiawi untuk menilai tampilan fisik manusia dan memberikan penilaian terhadapnya? Alih-alih melihatnya sebagai keanekaragaman yang perlu dirawat oleh kehidupan, standar yang dibuat ini telah merubah cara kita memandang diri sebagai pribadi yang berbeda dan unik satu sama lainnya.

Standar yang diciptakan tersebut mau tidak mau menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri kita, hingga pada akhirnya tak dapat dipungkiri- mengurangi rasa kasih dan saling mengayomi antar sesama. Kompetisi semacam ini samasekali tidak sehat dan mempengaruhi sikap mental. Bahkan kontes kecantikan dunia pun memperagakan model-model dengan tampilan yang hampir serupa, dengan tujuan dan attitude yang sudah diatur untuk kepentingan komersil. Betapa membosankan menyaksikan itu!

Kini coba bayangkan sebuah kontes kecantikan dimana ukuran tubuh, tinggi badan, atau bahkan- penyandang cacat dan autisme dapat memiliki kesempatan sama seperti orang-orang dengan kondisi lainnya. Sebuah kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagaimana sinarnya memancarkan

Saya yakin mereka yang selama ini terhalang oleh standar dan diperlakukan berbeda, akan sangat senang jika dapat mengikuti kontes yang terbuka, merasakan kemenangan dan kekalahan sebagaimana setiap orang dapat belajar darinya. Bukan berdasarkan ukuran tertentu, melainkan sebagaimana diri kita dapat bersinar apa adanya.

Tidak hanya dalam bidang ini, kompetisi seharusnya didorong untuk mengutamakan nilai-nilai yang membangun dunia, dimana kita berlomba-lomba untuk mengisinya dengan limpahan kreativitas. Tidakkah itu yang seharusnya menjadi spirit dalam kompetisi? Yaitu sebagai ajang penyemangat untuk penciptaan, sekaligus pencarian solusi akan isu-isu yang perlu diselesaikan.

Dengan tujuan yang murni, kompetisi semacam ini akan melahirkan jawaban atas kebutuhan umat manusia, baik dalam skala lokal maupun global. Dan pada akhirnya kompetisi dapat menjadi gerbang yang kondusif bagi siapapun untuk menjalankan misi hidupnya- tempat dimana kekuatan terbaiknya berada.

Coba kita telisik lagi slogan salah satu kompetisi kecantikan dunia: Beauty with purpose. Pertanyaannya, tujuan siapa? Sponsor yang menjunjung nilai-nilai konsumerisme dan menaungi lembaga-lembaga sosial dan mengemasnya sebagai kerja sosial?

Arrgh, pikirkanlah kembali makna beramal, dan jangan pernah mengukur dunia dengan standar yang ditetapkan oleh kemasan! Yang kita perlukan adalah menjadi lebih peka untuk melihat kondisi dunia yang sebenarnya, dan memberi kesempatan bagi jiwa yang dibimbing oleh kesejatian untuk menyembuhkan dunia.

Janganlah lagi menjadikan dunia sebagai panggung sandiwara, tetapi gunakan dan berikan panggung itu untuk mereka yang berani menyuarakan kebenaran dan menolong sesama. Gunakanlah keahlianmu agar orang-orang mengenali, dan mendatangimu atas manfaat mampu diberikan.

Story Of The Yogi Christ 2: The Hermit

Sumber gambar: artstation.com

Di tengah malam itu, kupanggil prajuritku yang paling setia, Raphael, untuk melacak dan mencari tahu dimana kiranya Baba berada.

“Maaf, Pangeran, itu tidak mungkin. Kerajaan tidak menganggap Baba sebagai anggota keluarga lagi, juga bukan ancaman yang patut dipertimbangkan. Jika Beliau datang pun, ia hanya akan diperlakukan sebagai rakyat biasa.”

Aku tahu adalah kesia-siaan untuk melacakmu. Sudah lama kau pergi, dan mengingat kesenanganmu bertualang, pastilah kau berpindah-pindah ke berbagai tempat. Nama apakah yang kini kau gunakan selepasmu sebagai bangsawan? Arrgh, pasti akan sangat sulit menemukanmu!

Kenangan akan kedekatan kita masih sangat jelas dan memberi harapan. Oleh karenanya tanpa menunggu lama, aku beranjak dari istana- menolak tawaran Raphael yang ingin ikut menemani.

“Bantulah aku dengan tetap berada disini. Jika suatu waktu aku membutuhkanmu, kau akan tahu.”

Raphael mengangguk, dan aku berlalu mengendarai seekor kuda milik prajurit yang dilatih mahir untuk berperang. Menuju lereng Gunung Atlas, perbatasan antara Kerajaan Utama dengan negeri seberang.

Dalam catatan sejarah, tidak ada satupun kerajaan yang mampu menakluklan Gunung Atlas, sebab konon gunung itu adalah milik para dewa. Bahkan tidak semua orang diizinkan untuk masuk- apalagi melewatinya, sehingga seharusnya tanah seberang terjaga dari invasi dan kerusakan akibat perang. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.

“Jika memang Atlas begitu kuat, mengapa mereka tidak menghukum orang-orang yang jahat dan mengakhiri perang?” Tanyaku suatu waktu, merasa heran karena pihak yang baik selalu terkesan mengalah.

“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Sananda. Para Dewa pun memiliki kehendak, dan Kerajaan Utama mampu mememenuhi keinginan mereka. Selama ribuan tahun, perang tetap terlaksana melalui kelompok rahasia,” suatu waktu Baba bercerita.

“Seperti apakah Atlas, Baba?”

“Luarbiasa indah. Jauh lebih maju daripada yang kau bayangkan.”

“Apakah kau pernah kesana?”

“Tentu saja.”

Aku masih mengingat senyumanmu yang penuh semangat, mengisi masa kecilku dengan legenda fantastis tentang Atlas.

Dan lihatlah- disinilah aku berada, juga telah menemukan mata air yang katamu adalah simbol sekaligus penentu- apakah aku layak memasuki Atlas atau tidak.

“Jika kau menemukannya, basuh tubuhmu dan minumlah air itu! Alirannya berasal dari kedalaman gunung- tempatnya sangat dirahasiakan oleh para pendeta agung dan cendikiawan. Nanti kau akan tahu, bahwa Atlas telah menyucikanmu! Mata yang tertutup melihat hutan belantara, tetapi tidak dengan mata yang sudah terbuka.”

Sungguh gila, melalui pesan yang samar- kau memanduku ke tempat ini, dan membuat pikiran serta perasaanku bercampur aduk, sebab aku tak punya rencana samasekali. Namun akan lebih gila jika aku kembali- disambut oleh pandangan remeh orangtuaku- sebagaimana mereka menganggap aku tidak mewarisi tabiat srbagai seorang bangsawan. Mereka menganggap aku tidak pandai dan tidak tahu caranya menggunakan kekuasaan, sama seperti yang mereka pikirkan terhadap Baba.

Itu membuatku mengingat ketika pertama kali menghadiri pertemuan antara para bangsawan dan pejabat. Seketika tubuhku gemetar oleh keterkejutan dan kemarahan yang tak terkira- yang bahkan masih dapat kurasakan hingga saat ini.

Di balik kemegahan yang dinikmati dalam istana, dunia sedang dikuasai oleh ketidakadilan- dan kerajaan inilah yang mengakibatkan semua ketidakadilan itu! Semenjak itu aku menolak untuk menghadiri pertemuan kleuarga, dan tak ingin terlibat dalam rencana maupun diskusi mereka. Aku hanya mengikuti perkembangan berita melalui Raphael, dan menjadi tahu strategi masa depan mereka yang penuh kekejian.

Segera kuminum air yang mengalir dan tampak jernih itu, rasanya segar dan baunya harum, entah karena sugesti dari Baba atau karena aku lelah dan kehausan. Kubasuh wajah dan seluruh tubuhku, berganti pakaian, dan melepaskan semua atribut kerajaan, termasuk kuda milik prajurit kerajaan yang sepatutnya dikembalikan.

“Perjalanan kita sudah berakhir,” kataku sambil mengelus pundaknya sebagai salam perpisahan.

Selepasnya, segera kucari tempat yang teduh, mengerahkan seluruh pikiran untuk mengingat kembali ajaran Baba- dan mulai berlatih. Suaranya yang nyaring, berat, dan bersemangat menjadi ciri khasnya. Dan sebagaimana ia terlihat di dalam mimpi, ia tak pernah terlihat lebih menawan.

“Duduklah dengan tulang punggung, leher, dan kepala yang tegak, tanpa bergerak. Postur ini sangat penting agar pikiranmu tidak terdestruksi oleh rasa sakit yang diakibatkan oleh postur yang bungkuk, yang mengakibatkan tekanan pada saraf di area tersebut. Juga untuk menjaga energi kehidupan mengalir ke arah yang tepat- bersama dengan fokusmu yang bertumpi pada satu titik di tengah-tengah dahi- diantara kedua alis mata, yang melihat dan terserap ke dalam, mengabaikan semua sensasi inderawi.”

“Mata itu akan terlihat saat meditasimu semakin dalam. Cahaya-Nya seketika menyinari seluruh tubuhmu, mentransmusi dan meremajakan sel-selmu… Semua kesempurnaan dan setiap kebajikan ilahi tersembunyi di dalam dirimu. Ungkapkanlah itu pada dunia!”

Segala sesuatu yang dahulu terdengar seperti dongeng, kini menjadi satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan. Dengan gigih aku berlatih, hari demi hari berlalu hingga kurasakan sebagaimana cuaca yang berganti, begitupun diriku. Membakar benih masa lalu yang membelenggu, membuat seolah waktu menjadi transparan- bahkan aku tak lagi mengingat tujuanku.

Sampai di suatu malam ketika bulan tampak penuh, bunga-bunga menebarkan wewangian semerbak di udara. Cahaya perak memantulkan sinarnya di permukaan bumi, seketika Gunung Atlas dipenuhi oleh kristal yang tak terhitung banyaknya, mencuat dari tanah juga dinding-dindingnya.

Berpadu dengan cahaya bulan, kristal itu mengeluarkan sinar yang menenangkan, membentuk sebuah jalur yang mengarah ke puncak gunung- tempat dimana Baba berdiri disana. Meski aku tahu ini hanyalah mimpi, namun semua gelak emosi yang mengalir dan keindahannya terada sangat nyata- seolah aku sedang digeser ke dunia yang lain!

“Orang-orang berharap untuk melihat pertunjukkan yang ajaib. Tetapi keajaiban yang sebenarnya adalah kesabaranmu, ketahananmu dalam menghadapi musim kehidupan.”

Kau menyapa dengan senyuman hangat, jarak yang seolah dilipat membuatmu tampak begitu dekat. Suaramu bahkan seperti muncul dari dalam kepalaku sendiri.

“Kesetiaan untuk mengungkapkan kebenaran adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan. Benih itu sudah ada di dalam dirimu, dan kau telah menyiraminya melalui meditasi. Aku sangat bangga padamu, Pangeran.”

“Baba… Aku tahu ini adalah pernyataan yang bodoh. Tetapi aku telah kehilangan sangat banyak hal: identitasku, reputasiku, pencapaianku. Jika aku kembali ke dunia, maka aku harus memulai dari awal lagi, dengan pengetahuan bahwa aku pernah berada di posisi tertinggi dan bahkan berkesempatan untuk berkuasa dan mengubah dunia… Tidakkah itu semua terasa sangat aneh?”

“Sananda! Semakin banyak yang dilepaskan, semakin banyak pula yang didapatkan. Apa yang kau pikir tentang identitas, reputasi, dan pencapaian bukanlah sesuatu yang nyata- Itu bukan dirimu! Kau yang sekarang, yang berani menghadapi pergelutan batinmu sendiri, telah menyalakan cahaya agar mampu berjalan dengan kesadaran. Disana kau sudah menemukan jawaban, untuk menolong orang lain sebagaimana kau selalu inginkan. Itulah dirimu, cahaya abadi yang telah kau sendiri nyalakan!”

Wajahmu terlihat sedikit mengeras, tetapi aku mengerti, sebab setelah melewati hari-hari penuh refleksi pun, aku masih merasa ragu dan tak mampu membuat keputusan. Betapa aku sangat goyah dalam mempertahankan keyakinan!

“Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang-orang yang tercerahkan: para avatar, ascended masters, yang telah mencapai kesadaran tinggi dan penyatuan, bersedia untuk mengalami pengalaman manusia yang penuh keterbatasan?”

Kini kau berdiri tepat di sampingku, membuatku semakin yakin, aku sedang bergeser ke duniamu.

“Mereka tidak pernah takut atau menyerah pada keraguan, meski itu menyiksa dengan amat hebat. Dalam keadaan lupa, mereka selalu membawa keyakinan tentang asal-usul, bahwa manusia memiliki kesempatan untuk mengubah keterbatasan menjadi sesuatu yang abadi, dan pada akhirnya menjadi arsitek atas takdirnya sendiri. Itulah dirimu, Pangeran.”

Aku tahu, kau sangat berusaha agar aku terbebaskan. Kau sangat ingin aku menjadi sepenuhnya baru- bukan hanya dengan menanggalkan pakaian, tetapi supaya tidak lagi menumpahkan kotoran yang sama dan tersesat dalam pikiran-pikiranku.

Mimpi itu terasa sangat lama. Memainkan emosi dan pikiranku, membuatku merasa terpenuhkan sekaligus amat lelah.

“Yang menarik adalah, cahaya mengada oleh karena adanya upaya untuk menyalakannya. Dan upaya itu memiliki batas. Suatu saat, entah dalam waktu singkat atau bahkan jutaan tahun lagi, ia akan padam, sehingga satu-satunya hal yang abadi adalah kegelapan. Apa yang disebut Tuhan sebagai asal-mula adalah kegelapan yang ilahi. Tidakkah itu sangat mistik, indah, dan sederhana, Pangeran?”

Malam hampir berlalu, sinar bulan yang masih terasa kuat perlahan meredupkan sinar kristal, bagaikan lilin-lilin yang meleleh, bersama dengan setitik air mata mengalir dari ujung mataku.

Kedatanganmu bagaikan sinar mentari, memberi harapan dan perlindungan layaknya seorang Ayah. Aku merindukanmu, Baba. Rasa rinduku lebih besar daripada amarah dan kekecewaan yang pernah kurasakan terhadap dunia.

Baca kisah sebelumnya di: The Message