Yoga, Lembah Indus, Aryan, dan Atlantis

Menulis sejarah yoga yang didasarkan pada hasil riset data dan penelitian, sangatlah berat, tidak pasti, dan tidak menyenangkan! Bagi saya jauh lebih mudah memahami pesan-pesan masa lampau melalui kode yang diselipkan dalam karya seni dan sastra, sebagaimana nenek moyang kita melakukan tradisi penyampaian cerita secara oral atau mulut ke mulut. Hal ini seolah menghindari anggapan ‘sejarah ditulis oleh pemenang’, sebagaimana peradaban dunia saat ini ditentukan melalui hasil peperangan dan tersebar secara acak. Namun saya akan mencoba untuk menjabarkan ‘sejarah yang disepakati’ ini dengan jelas dan sesederhana mungkin, sebab hal ini tetap penting dan mendukung perluasan dimensi pikiran. Gunakan nurani dan temukanlah kebenaranmu sendiri.

     Secara umum yoga disimpulkan berasal dari India sekitar tahun 3000 sebelum masehi- namun banyak dari para peneliti yang bergerak di bidang sejarah dan arkeologi itu juga menyebut angka yang jauh di atasnya, yakni lebih dari 10000 tahun yang lalu. Era yang disebut sebagai pre-classical yoga ini bermula dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekarang Pakistan dan India Barat) yang berpusat di kota Mohenjodaro dan Harappa dan berkembang pada tahun 3000 SM hingga1700 SM oleh bangsa Dravida.

     Diperkirakan bangsa Dravida sudah lama menetap di wilayah Lembah Sungai Indus, dan berhasil membangun sebuah peradaban kuno yang sangat hebat di dataran Asia. Selain ahli dalam berdagang dan teknologi- yang terbukti dari konstruksi bangunan, tata jalan, serta pembuangan limbah modern yang ditinggalkan- terdapat kaum brahmanas dan sramanas yang menjalankan hidup selayaknya pertapa dan kemudian memunculkan ajaran yoga, jainisme, dan buddhisme.

     Setelah tahun 1700 SM terjadi kontak antara penduduk Sungai Indus dengan bangsa Arya, dimana kedatangan mereka mengakibatkan percampuran budaya, terutama mengenai konsep Tuhan/Dewa. Secara umum bangsa pendatang ini mengagungkan kekuatan alam dengan berbagai elemennya, dan agama yang didasarkan pada ritual persembahan, nyanyian, serta mantra. Kontak inilah yang menjadi awal lahirnya Periode Weda (1700 SM – 800 SM) dimana sistem kasta diperkenalkan, dan pada salah satu bagiannya yakni Rig-Veda, tertulis kata yoga untuk pertama kali.

     Siapakah sebenarnya bangsa Arya yang nomaden dan konon membawa pengetahuan canggih ‘dari atas langit’ ini? Ah, long story! Perlu pembahasan khusus mengenai kisah ini- dan sebagai pemancingnya, saya mengutipkan tulisan Prof. Arysio Santos dalam buku fenomenal Atlantis The Lost Continent Finally Found sebagai berikut:

Mesir, India, dan Asal Mula Legenda Atlantis (hal. 72-74): Plato mengakui bahwa ia mempelajari legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkan cerita itu dari para pendeta Mesir. Tetapi, para pendeta Mesir pada gilirannya mendapatkan cerita itu dari orang-orang Hindu, yaitu di India dan Indonesia, tempat legenda yang bisa saja benar itu senyatanya terjadi. Indonesia adalah Punt yang merupakan Tanah Leluhur (Tower), “Pulau Api” tempat bangsa Mesir semula berasal, pada zaman dahulu sekali. Bangsa itu terpaksa keluar karena bencana alam yang meluluhlantakkan tanah asal mereka, Indonesia (Punt), mereka pindah ke Tanah Harapan, di Timur Dekat. Mesir adalah Het-ka-Ptah, “kediaman-kedua Ptah”. Ptah adalah Pencipta Tertinggi dalam pantheon Mesir. Dia melambangkan paideuma Mesir, yaitu seluruh kebudayaan dan peradabannya.

Dari “Tanah Para Dewa” inilah bangsa Arya, Yahudi, dan Funisia juga berasal, demikian juga beberapa bangsa lain berketurunan campuran yang membangun peradaban luar biasa di masa kuno, termasuk bangsa Amerika. Hal itu menjadi alasan, mengapa semua bangsa ini berbicara secara obsesif tentang surga yang Hilang dan tentang daratan yang sudah tenggelam. Dari surga yang Hilang inilah—dari Atlantis purba—berkembang semua atau sebagian besar mitos suci dan tradisi agama kita. Dan senyatanya, tradisi-tradisi serta kenangan-kenangan suci itulah, satu-satunya yang membuat manusia berjaya di antara makhluk-makhluk liar lainnya di alam ini.
Dari Atlantis jugalah, langsung ataupun tidak langsung, tersebar semua atau sebagian dari ilmu pengetahuan dan tekno logi kita: irigasi, budaya bercocok tanam, metalurgi, penjinakan binatang, penggembalaan ternak, perkakas batu, astronomi, musik, agama, filsafat, abjad, penenunan serat seperti sutra dan kapas, bubuk mesiu, kertas, kompas magnetik, pengasahan batu mulia, dan sebagainya. Bahkan, bahasa sendiri sampai kepada kita tak bukan adalah dari sana.
Penemuan-penemuan ini sering sehingga tampak begitu alamiah kali begitu maju dan cemerlang, layaknya udara yang kita hirup dan dewa-dewa yang kita puja. Tetapi, penemuan-penemuan yang luar biasa maju itulah yang sampai kepada kita dari zaman purba, dari Atlantis kembar yang sudah kita lupakan sama sekali.

Bangsa Cina menegaskan bahwa “ikan adalah satu-satunya makhluk yang akan paling akhir menyadari keberadaan air”. Demikian juga, tidaklah mengejutkan jika kita begitu tidak peduli pada realitas yang tak terelakkan dari Atlantis, surga yang Hilang, yang dibicarakan oleh semua tradisi suci kita. Tetapi, Atlantis adalah jiwa dan semangat kita, Jiwa Dunia. Hubungan ini juga mengklarifikasi penggunaan kata ka (jiwa, semangat) oleh bangsa Mesir untuk menunjuk tanah asal mereka yang hilang. Punt, surga yang Hilang milik mereka, tak lain dan tak bukan adalah Indonesia, “tanah wewangian dan rempah-rempah” (Moluccas atau Maluku).

     Pada tahun 800 SM – 500 SM, yoga perlahan dikembangkan oleh para Resi dan pemuka agama yang mendokumentasikan latihan dan keyakinan mereka dalam sebuah karya yang disebut upanisads (bagian akhir dari weda). Dilanjutkan dengan karya epik Bhagavad Gita, hingga masa yang lebih terang saat tradisi bhakti (devosi) berkembang dan periode classical yoga yang ditandai oleh lahirnya teks Yoga Sutra Patanjali pada abad ke 4 masehi, sebagai sebuah presentasi sistematis Yoga yang pertama. Teks ini menjabarkan jalan dari Raja Yoga yang berisi tahap-tahap dan langkah menuju Samadhi.

Bersambung

Once Upon A Paradise

Saat itu adalah puncak malam purnama. Energinya deras memancar semenjak sehari sebelum dan sehari sesudahnya, mengakibatkan sejumlah fenomena alam yang terasa tidak alami.

“Jadi apa yang kita cari?”

“Pulang.”

“Hah?”

“Kita tidak sedang mencari atau mengembangkan sesuatu baru yang berada di luar diri.”

Ia lalu menunjuk ke tengah-tengah dadanya sendiri, mempertegas letak Jiwa yang memang menurut tradisi, terletak secara fisik di sebuah ruang kosong di balik ulu hati.

“Setiap makhluk adalah suci, tidak peduli apapun yang telah diperbuatnya, di level manapun tingkat kesadarannya. Semua makhluk diciptakan dengan kesucian sehingga setiap saat mereka bisa saja menyingkirkan apa yang tidak suci, dan kembali ke asalnya.”

Aku tersenyum ketika ia berkata ‘setiap saat’, yang menegaskan sifat ilahi dan belas kasih dari Tuhan Semesta Alam.

Dan benar saja, sesaat kemudian, muncul untaian cahaya merah bercampur emas membentuk sesuatu yang terlihat seperti burung berukuran raksasa, menyala-nyala dengan anggun dan berani, datang menghampiri kami. Burung phoenix!

“Phoenix adalah simbol keabadian, Kala yang sesungguhnya. Ia adalah matahari itu sendiri, yang membuat kita memutuskan kapan siang dan malam terjadi, dan perputarannya melahirkan sistem kalender yang menandai waktu di bumi,” ia menjelaskan.

“Namun, matahari juga sama seperti bulan, perputarannya dapat dipercepat dan diperlambat, bahkan pada satu, titik berhenti untuk berbalik arah putaran. Itulah sifat dari waktu yang tidak absolut, dapat diatur sesuai pikiran dan emosi kita yang menjalaninya, dan bahkan mengikutsertakan tubuh fisik bersamanya.”

“Yang nyata adanya adalah kepingan dari kejadian-kejadian, pergerakan, dan perubahan. Apa yang kita sebut sebagai waktu adalah cara kita untuk mengukur perubahan.”

Memayu Hayuning Bawana

Sinar kuning bercampur emas menembus ranting-ranting pohon, dan dedaunan terlihat gelap karena tertimpa bayangan. Hembusan angin dengan lembut membelainya, mereka pun saling membentur ke satu sama lainnya.

Kabar mengenai lahan temanku yang ternyata mengandung emas misterius memberi aroma di ruang sore hari ini. Kubayangkan kilau emas yang bagaikan butiran itu menyala-nyala di tangannya, sahabatku yang paling berharga, yang pantas menggenggamnya.

Ia menegaskan, selamanya emas itu akan dibiarkan tertimbun disana, katanya untuk menjaga keseimbangan lahannya- sehingga ia dapat selalu menyebut tempat tinggalnya sebagai rumah.

Kini aku mengerti mengapa orang-orang merendahkannya- kawanku yang maha lembut tutur katanya itu, dengan sebutan ndeso karena logat dan bahasanya. Juga mengapa orang-orang meremehkannya, oleh karena cara hidupnya yang terlalu sederhana. Aku sudah melihat sendiri, bahwa semenjak dahulu kala, orang-orang tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya, dan tak sedikitpun terkaan mengenainya yang mendekati kebenaran.

Di teras rumahku yang dikelilingi kebun yang ditumbuhi sejumlah tanaman obat dan umbi-umbian ini, kubayangkan diriku sedang bercakap-cakap dengannya.

“Apa benar berita mengenai emas itu?”

“Iya benar. Leluhurku, aku, dan semua keturunanku, semua mengetahuinya.”

“Kalau begitu mengapa orang-orang sekarang sibuk membicarakannya?”

“Orang-orang sebenarnya tidak tahu, dan selamanya tidak akan pernah tahu.”

“Apa maksudnya?”

“Karena mereka salah mengartikan tentang emas.”

“Emas di lahanku ini, memang dapat memberi lebih dari cukup makanan untuk semua orang di seluruh negeri untuk selamanya. Tapi mereka juga lupa bahwa tanpa memiliki emas ini pun, mereka dapat hidup kenyang jiwa dan raga.”

“Saat ini banyak yang salah paham, ketika mereka tahu bahwa tanah kita adalah Negeri Emas yang hilang, mereka jadi ikut-ikutan menggali untuk diri mereka sendiri. Mereka jadi berebut harta padahal harta yang sesungguhnya tak dapat diperebutkan.”

“Meski memang ada secara fisik, namun bukan itu yang dimaksudkan. Harta yang paling berharga adalah dirimu, kawanku, jiwa yang bebas dan dengan sadar menjaga keindahan negeri ini tanpa keinginan untuk memilikinya.”

“Jiwamu-lah sumber daya yang menambah keindahan Negeri ini. Jiwamu-lah satu dari jiwa-jiwa beraura emas yang menghadirkan zaman penuh kemuliaan di permukaan bumi.”

Kini kutahu, sikapnya yang sederhana adalah emas yang dicari itu, berwujud manusia dan bukanlah siapa siapa di dunia. Semenjak dahulu kala, orang-orang mencoba untuk merundingkan sejumlah penawaran, namun berakhir dalam kebingungan dan keheranan. Dan sampai hari ini, mereka tak mampu melihat sedikitpun Cahaya terang menderang yang mengelilingi sekujur tubuhnya; manusia yang paling didengarkan oleh penghuni langit dan bumi itu.

Satyayuga

Januari 2019. Kala itu angin bertiup kencang sepanjang hari, diiringi sedikit hujan. Beberapa pohon tumbang, tak kuasa menahan kuatnya angin yang bertiup dari arah Selatan. Berita tentang gempa dan gunung meletus ramai menghiasi surat kabar digital, yang kali ini bahkan juga mengguncang Suwarnadwipa- nama lain dari Pulau Sumatera yang berarti Pulau Emas, juga Celebes atau Sulawesi, yang semuanya masih bagian dari Kepualaun Sunda Besar.

Kuperhatikan titik-titik aktivitas alam di peta yang tersimpan di selulerku. Lekukan pulau-pulau nan eksotis dalam berbagai ukuran, serta rentetan gunung yang berjejer segaris terlihat mencolok di peta. Sambil duduk di samping meja yang berdampingan dengan jendela kamar, kubayangkan jika memang yang terlihat dan tercatat saja sudah semenakjubkan ini, bagaiamana dengan yang tidak terlihat dan belum terjelajahi?

Aku lalu membuka mesin pencari dan mengetik ‘krakatau’ sebagai kata kunci. Muncul sebuah gambar kota dengan sentuhan futuristic yang menarik perhatianku. Bangunan-bangunan yang membentuk lingkaran serta tanda cross di tengahnya. Bagian ujung bawahnya memanjang seolah menjadi penghubung antara tempat tersebut dengan sebuah tempat yang lain. Di bawahnya tersemat sebuah tulisan puitis yang cukup panjang tentang negeri itu:

Setelah akhir dari peradaban Induk Negeri Surgawi- yakni pada saat Gunung Toba meletus, dengan bantuan sejumlah tokoh dan para Sang Hyang, jalur-jalur baru terbuka, diaktifkan, sehingga munculah Negeri Surgawi yang Sesungguhnya. Sang Legenda yang termashyur, diagung-agungkan saentro dunia.

Kala itu suhu bumi menurun dan terjadilah musim dingin global pertanda zaman baru. Negeri inilah satu-satunya yang berlimpah dan gemilang.Tanah subur dengan sawah bertingkat nan luas, pohon-pohon kelapa yang melambai memberi kesejukan. Di tepi pantai berdiri karang-karang dan tebing yang gagah, ombak-ombak pun dengan cantik membenturkan diri ke dindingnya.

Jutaan burung di angkasa menghaturkan nyanyian persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kicauannya membangunkan jutaan makhluk dari tidurnya!

Bersamaan, mentari muncul memberi sinar kuning di atas tanah yang cokelat dan pada dedaunan. Terang benderang. Subur sejahtera. Mata berbinar dengan keberanian yang berbalut kedamaian. Di sore hari pun keindahan yang lain menampilkan kemashyurannya. Kilau oranye dan ungu di ufuk barat mengayun menenangkan, tanda petualangan baru yang menawarkan ungkapan tentang rahasia-rahasia. Rahasia yang sampai hari ini masih hidup dalam hati jiwa-jiwa yang pernah mencicipinya. Yakni tentang kerajaan yang menguasai seluruh alam raya. Semua kerajaan yang pernah ada bergabung dengan sukarela, tunduk pada satu-satunya pemimpin tunggal yang absolut.

Betulkah induk peradaban dunia berasal dari negeri kita, kampung halaman ini? Sesaat aku terhanyut dalam imajinasi yang memperluas data-data di otakku melalui simbol dan mitos, yang memang digunakan sebagai alat pengakses untuk mengungkap pesan-pesan leluhur.

Merah dan putih. Simbol warna ini dipercaya sebagai penyatu seluruh pulau dan lautan di permukaan bumi, sekaligus merupakan simbol Siwa dan Sakti, yang dipersonifikasikan sebagai gunung dan lautan yang memberi kehidupan di permukaan. Tanda-tanda langit pun dengan cermat terkodekan melalui struktur dan relief candi-candi, yang jumlahnya ratusan dan bahkan masih banyak lagi yang belum digali, tertimbun bersama legenda dan anomali.

Hal ini adalah petunjuk mengenai negeri ini yang dahulu pernah dihuni oleh sebuah peradaban maju, dengan teknologi serta pengetahuan yang mengungkap cerita semesta. Ada yang menyebutkan bahwa ‘pengaburan’ dan penutupan akses memang selama ini sengaja dilakukan oleh leluhur, untuk melindungi tanah ini dari kerusakan yang lebih parah.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membangun kembali dan mewujudkan zaman emas yang pasti akan terjadi adalah mengakses kesadaran leluhur. Mencari kebenaran masa lalu untuk membangun lagi dengan kekuatan saat ini. Kenyataannya, Nusantara yang pernah jaya sudah hancur dan tak akan kembali, tapi zaman emas yang cemerlang dan dibasuh oleh pengalaman dan kebijaksaan sedang dikerjakan saat ini.

Nadi-Nadi Swargaloka…

Angin dingin musim kemarau menyapu punggungku, meski sudah berpakaian tebal. Bintang berkelap-kelip di angkasa, bau asap yang membakar ranting kayu memberi aroma menghangatkan, namun rasa ngilu tetap menusuk tulangku dengan tak tertahankan.

Saat ini ribuan manusia yang tengah serius mempelajari Weda Jawa dan tersebar dengan ritme yang mengagumkan, bersorak-sorai menanti petualangan yang menggetarkan. Petualangan yang perlahan akan mengungkap jati diri insan manusia, yang masing-masing membawa serpihan cerita untuk kemudian dipersatukan, agar menemukan jalan keluar.

Mereka berjalan sendiri-sendiri, menyelesaikan permasalah demi permasalahan, sendiri-sendiri. Terlindung oleh malaikat yang mengawal dari berbagai penjuru, mereka hanya perlu yakin dan menjaga batin agar tetap seputih salju.

Ah betapa menyejukkan, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka bertebaran di bumi… berupa mereka yang mencintai, melestarikan, dan hidup dalam kreativitas. Berupa mereka yang senantiasa setia pada dharma, dan berusaha menegakkannya. Dalam hati, di seumur hidupnya, rasa tentang keadilan begitu kuat hingga auranya terpancar dengan dominan dibanding teman-teman seusianya.

Seni, budaya, dan teknologi bukan hanya menjadi alat untuk menghidupkan kembali wujud jati diri yang telah lama dikaburkan oleh lapisan-lapisan ketidaksadaran. Tetapi menjadi nadi yang mewarnai kehidupan sehari-hari… Nadi-nadi Swargaloka…

“Memang sebenarnya, jiwa-jiwa lama yang kesadarannya sudah terlanjur terbolak-balikkan tidak lagi dapat ditolong…”

“Jadi apa mereka semua harus mati?”

“Betul.”

Aku bergidik ngeri, kubayangkan jika akumulasi dari jiwa yang tak tertolong ini pada akhirnya harus menghadirkan bencana besar dan menghanyutkan seluruh pulau, seperti yang pernah terjadi puluhan ribu tahun lalu.

“Dengan pemahaman bahwa kematian dan kelahiran menjadi satu-satunya jalur alamiah yang akan menyeimbangkan segala sesuatu yang sudah terlanjur, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka itu hadir. Mereka sendiri, setelah mengalami berbagai cobaan kehidupan terutama saat remaja, sadar bahwa proses ini harus dialami oleh setiap orang yang ingin terbebaskan dari kepalsuan.”

“Mati sajroning urip, urip sajroning pati.”

“Tepat.”

“Seperti apa itu menjadi mati?”

“Kematian bagi kebanyakan orang hanya terjadi pada jasad, yakni selayaknya berganti pakaian, atribut, ruang, dan waktu. Tetapi bagi para Ksatria, Pendeta Agung, dan Para Raja, kematian sama dengan kelahiran, dimana puing-puing belenggu telah tersingkirkan. Hidup bukan sekedar hidup. Hidup adalah kesadaran.”

Jangkrik berhenti mengerik. Angin berhenti bertiup. Awan-awan kecil yang sebelumnya melayang bebas tak terarah seolah membeku di angkasa. Kuyakin sejenak waktu terhenti- atau melamban dengan begitu signifikan.

Perlahan, suara derak api yang membakar ranting-ranting kering kembali memantulkan getarannya di udara. Rasa dingin menusuk tulangku lagi, menyibukkan pikiran dengan mencari cara untuk menghangatkan diri.