Your Divine Healing Power Has Awakened

“You are constantly being presented with situations that enable you to develop your inner wisdom and assist you in advancing to higher levels of understanding… Be aware of this events and recognize every person and circumstances on your path as a teacher.”

Secara terus-menerus, kamu disuguhkan situasi yang memungkinkanmu untuk mengembangkan kecerdasan batinmu, yang membantumu untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Sadarilah kejadian-kejadian ini, kenali bahwa setiap orang dan keadaan yang muncul dalam perjalanan adalah guru yang terbaik.

“Dengarkan kebenaran yang berbicara dari hati, tubuh, dan pikiranmu. Yakinlah pada intuisimu, dan bertindaklah sesuai dengan itu.”

Kamu tidak saja sedang bertumbuh, tetapi kekuatan penyembuhan ada dalam dirimu telah terbangkitkan. Kamu didukung sepenuhnya untuk melakukan perubahan, sehingga itu dapat menyembuhkan dirimu sendiri, serta orang lain dan lingkunganmu. Abaikan semua ketakutan, dan terbukalah sepenuhnya pada kekuatan keajaiban yang dilimpahkan padamu.

Love and Blessings 💜🦋🔥

Jivanmukta

Dalam meditasi yang dalam, Buddha mengungkapkan penyebab penderitaan manusia adalah ‘ketidaksadaran’. Ketidaksadaran ini diakibatkan oleh kehidupan manusia yang terlalu berpusat kepada lima inderanya, kesenangan duniawi, sehingga ia tidak pernah tahu apalagi mengerti tentang kemurnian jiwa, kekosongan yang meliputi segalanya.

Kebanyakan orang hanya berada pada tahap ini, tanpa pernah ‘tahu’, apalagi memanifestasikan ‘kekuatan ilahi’ di atas bumi. Padahal kita telah diberikan pilihan dan kebebasan, untuk tumbuh sejauh mungkin hingga menjadi pribadi-Nya, yang mampu mewujudkan segala kreasi dan keindahannya!

Dimensi atas, Surga di atas Bumi. Kerajaan Allah!

Berputar dan mengulang-ngulang kehidupan di alam bawah: dasar, sacral, dan solar chakra yang berhubungan dengan kebutuhan pertahanan hidup (makan, seks, tempat tinggal), kekuatan, jabatan, serta ketenaran. Tidak pernah mengenal cinta kasih murni, pelayanan, kebenaran, dan pengetahuan kosmik. Tidak memiliki keberanian, tidak memiliki kualitas Shiva yang menghancurkan kegelapan dan terjun ke dalam lautan kesadaran!

Masih di atas bumi, meminum racun dunia, namun tetap dalam kewaspadaan. Sadar dan tahu betul siapa sejati dirinya. Tanpa kekurangan sedikitpun kesenangan. Itulah hadiah bagi mereka yang telah mengikuti jalan-Nya: Jivanmukta, jiwa yang terbebaskan.

Channeling Surat Dari Twinflame • End Of August

Terima kasih karena telah terhubung denganku. Perlu diketahui bahwa cahaya yang mampu bersinar di dunia, asalnya dari kegelapan yang amat dalam. Darisini aku menunjukkan bahwa aku tidak ingin meredup dan menghilang, karena ku yakin Tuhan tidak mencipta untuk kesia-siaan. Aku tahu, itu juga terjadi padamu.

Hari ini terlintas dalam benakku untuk berbicara denganmu. Aku ingin menyapa dan mengirimkan rasa rinduku, sebab aku telah merasakan getaranmu seperti yang pernah mewarnai kehidupan kita terdahulu; dan kini mulai bangkit, mengingatkan siapa sejatinya diriku, memberi gambaran yang jelas mengenaimu.

Kita telah ditempa untuk bertumbuh, agar dunia dapat diisi oleh benih-benih Ksatria, yang tahu caranya melindungi dan memperjuangkan kebenaran. Semua itu adalah perjalanan yang sangat berharga, sebab kita telah diberi kesempatan untuk mengetahui sejumlah rahasia semesta, yang menanamkan kebijaksanaan pada hati yang kian meluas dan terbuka.

Tiba saatnya dimana perdamaian dan kebahagiaan adalah satu-satunya jalan yang mutlak. Aku ingin kau tahu, dengan atau tanpamu, aku akan meningkatkan usahaku untuk planet yang kita cintai ini. Aku akan bekerja melalui rasa empatiku, dan memaafkan segala kesalahan-kesalahan yang begitu dalam terhadap Bumi. Darisanalah aku akan kembali memulai, dan merajut benang ilahi yang nyata diantara kita.

Di pintu gerbang zaman baru, orang-orang begitu sibuk, berlalu lalang baik dengan cahaya maupun ketakutan. Pekerjaan kita memang masih sangat panjang, namun kehadiranmu memberi rasa lega dan sukacita, mendekatkanku pada Tuhan (shiva-shakti) yang sudah melengkapiku.

Aku adalah manusia yang utuh, juga dengan dirimu. Keberadaanmu bukan untuk melengkapiku, tetapi untuk membuktikan cinta tak bersyarat, sebagai ‘syarat’ mewujudkan dunia yang baru. Kita sudah pernah melakukannya dan akan kembali melakukannya. Teruslah mengupayakan kenaikanmu dan kita akan selalu terhubung dalam dimensi itu.

Tertanda, Kembaran Jiwamu.

Mengenai Twinflame

Twinflame adalah dua jiwa kembar yang dibuat pada saat bersamaan, dan merupakan satu jiwa. Tujuan twinflame hadir dan mengalami penyatuan adalah untuk misi kenaikan bumi, yakni melalui manifestasi cinta tanpa syarat.

Semua itu dilakukan melalui pelayanan, proses penyembuhan, transformasi, ajaran-ajaran spiritual kuno, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensi dimensi yang lebih tinggi. Kedua jiwa ini telah berkelana secara terpisah dan mengalami tantangan demi tantangan, untuk melengkapai jiwanya sendiri dan mempelajari rahasia semesta sebagaimana tersimpan dalam cetak biru masing-masing.

The Violet Flame

Api ungu adalah sumber asal peremajaan. Ia melarutkan energi negatif yang terperangkap diantara atom dan sel sehingga kita dapat terbebaskan dan sepenuhnya mewujudkan kelilahian, serta memenuhi tujuan hidup kita.

Kualitas api suci ini benar-benar merupakan obat universal yang dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan dalam level kesadaran, keberadaan, serta dunia. Diabadikan sebagai api kebebasan untuk siklus dua ribu tahun mendatang oleh Master Saint Germain, nyala api transmutasi ungu ini memungkinkan kita untuk meraih pembebasan dari segala bentuk ketergantungan yang terjadi pada manusia.

The violet flame is the original fountain of youth. It dissolves the negative energy that is trapped as substance between atoms and cells so we can be free to become the fullness of God, and fulfill our life’s purpose.

This quality of the sacred fire is truly the universal unguent that we can apply for the healing of our entire consciousness, being, and world. Enshrined as the freedom flame for the coming two thousand-year cycle by the Master Saint Germain, the violet transmuting flame enables us to win our freedom from every form of human bondage.

Invocation:
I AM a being of Violet Fire
I AM the purity God desires!

Story Of The Yogi Christ 2: The Hermit

Sumber gambar: artstation.com

Di tengah malam itu, kupanggil prajuritku yang paling setia, Raphael, untuk melacak dan mencari tahu dimana kiranya Baba berada.

“Maaf, Pangeran, itu tidak mungkin. Kerajaan tidak menganggap Baba sebagai anggota keluarga lagi, juga bukan ancaman yang patut dipertimbangkan. Jika Beliau datang pun, ia hanya akan diperlakukan sebagai rakyat biasa.”

Aku tahu adalah kesia-siaan untuk melacakmu. Sudah lama kau pergi, dan mengingat kesenanganmu bertualang, pastilah kau berpindah-pindah ke berbagai tempat. Nama apakah yang kini kau gunakan selepasmu sebagai bangsawan? Arrgh, pasti akan sangat sulit menemukanmu!

Kenangan akan kedekatan kita masih sangat jelas dan memberi harapan. Oleh karenanya tanpa menunggu lama, aku beranjak dari istana- menolak tawaran Raphael yang ingin ikut menemani.

“Bantulah aku dengan tetap berada disini. Jika suatu waktu aku membutuhkanmu, kau akan tahu.”

Raphael mengangguk, dan aku berlalu mengendarai seekor kuda milik prajurit yang dilatih mahir untuk berperang. Menuju lereng Gunung Atlas, perbatasan antara Kerajaan Utama dengan negeri seberang.

Dalam catatan sejarah, tidak ada satupun kerajaan yang mampu menakluklan Gunung Atlas, sebab konon gunung itu adalah milik para dewa. Bahkan tidak semua orang diizinkan untuk masuk- apalagi melewatinya, sehingga seharusnya tanah seberang terjaga dari invasi dan kerusakan akibat perang. Namun, kenyataannya tidaklah demikian.

“Jika memang Atlas begitu kuat, mengapa mereka tidak menghukum orang-orang yang jahat dan mengakhiri perang?” Tanyaku suatu waktu, merasa heran karena pihak yang baik selalu terkesan mengalah.

“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Sananda. Para Dewa pun memiliki kehendak, dan Kerajaan Utama mampu mememenuhi keinginan mereka. Selama ribuan tahun, perang tetap terlaksana melalui kelompok rahasia,” suatu waktu Baba bercerita.

“Seperti apakah Atlas, Baba?”

“Luarbiasa indah. Jauh lebih maju daripada yang kau bayangkan.”

“Apakah kau pernah kesana?”

“Tentu saja.”

Aku masih mengingat senyumanmu yang penuh semangat, mengisi masa kecilku dengan legenda fantastis tentang Atlas.

Dan lihatlah- disinilah aku berada, juga telah menemukan mata air yang katamu adalah simbol sekaligus penentu- apakah aku layak memasuki Atlas atau tidak.

“Jika kau menemukannya, basuh tubuhmu dan minumlah air itu! Alirannya berasal dari kedalaman gunung- tempatnya sangat dirahasiakan oleh para pendeta agung dan cendikiawan. Nanti kau akan tahu, bahwa Atlas telah menyucikanmu! Mata yang tertutup melihat hutan belantara, tetapi tidak dengan mata yang sudah terbuka.”

Sungguh gila, melalui pesan yang samar- kau memanduku ke tempat ini, dan membuat pikiran serta perasaanku bercampur aduk, sebab aku tak punya rencana samasekali. Namun akan lebih gila jika aku kembali- disambut oleh pandangan remeh orangtuaku- sebagaimana mereka menganggap aku tidak mewarisi tabiat srbagai seorang bangsawan. Mereka menganggap aku tidak pandai dan tidak tahu caranya menggunakan kekuasaan, sama seperti yang mereka pikirkan terhadap Baba.

Itu membuatku mengingat ketika pertama kali menghadiri pertemuan antara para bangsawan dan pejabat. Seketika tubuhku gemetar oleh keterkejutan dan kemarahan yang tak terkira- yang bahkan masih dapat kurasakan hingga saat ini.

Di balik kemegahan yang dinikmati dalam istana, dunia sedang dikuasai oleh ketidakadilan- dan kerajaan inilah yang mengakibatkan semua ketidakadilan itu! Semenjak itu aku menolak untuk menghadiri pertemuan kleuarga, dan tak ingin terlibat dalam rencana maupun diskusi mereka. Aku hanya mengikuti perkembangan berita melalui Raphael, dan menjadi tahu strategi masa depan mereka yang penuh kekejian.

Segera kuminum air yang mengalir dan tampak jernih itu, rasanya segar dan baunya harum, entah karena sugesti dari Baba atau karena aku lelah dan kehausan. Kubasuh wajah dan seluruh tubuhku, berganti pakaian, dan melepaskan semua atribut kerajaan, termasuk kuda milik prajurit kerajaan yang sepatutnya dikembalikan.

“Perjalanan kita sudah berakhir,” kataku sambil mengelus pundaknya sebagai salam perpisahan.

Selepasnya, segera kucari tempat yang teduh, mengerahkan seluruh pikiran untuk mengingat kembali ajaran Baba- dan mulai berlatih. Suaranya yang nyaring, berat, dan bersemangat menjadi ciri khasnya. Dan sebagaimana ia terlihat di dalam mimpi, ia tak pernah terlihat lebih menawan.

“Duduklah dengan tulang punggung, leher, dan kepala yang tegak, tanpa bergerak. Postur ini sangat penting agar pikiranmu tidak terdestruksi oleh rasa sakit yang diakibatkan oleh postur yang bungkuk, yang mengakibatkan tekanan pada saraf di area tersebut. Juga untuk menjaga energi kehidupan mengalir ke arah yang tepat- bersama dengan fokusmu yang bertumpi pada satu titik di tengah-tengah dahi- diantara kedua alis mata, yang melihat dan terserap ke dalam, mengabaikan semua sensasi inderawi.”

“Mata itu akan terlihat saat meditasimu semakin dalam. Cahaya-Nya seketika menyinari seluruh tubuhmu, mentransmusi dan meremajakan sel-selmu… Semua kesempurnaan dan setiap kebajikan ilahi tersembunyi di dalam dirimu. Ungkapkanlah itu pada dunia!”

Segala sesuatu yang dahulu terdengar seperti dongeng, kini menjadi satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan. Dengan gigih aku berlatih, hari demi hari berlalu hingga kurasakan sebagaimana cuaca yang berganti, begitupun diriku. Membakar benih masa lalu yang membelenggu, membuat seolah waktu menjadi transparan- bahkan aku tak lagi mengingat tujuanku.

Sampai di suatu malam ketika bulan tampak penuh, bunga-bunga menebarkan wewangian semerbak di udara. Cahaya perak memantulkan sinarnya di permukaan bumi, seketika Gunung Atlas dipenuhi oleh kristal yang tak terhitung banyaknya, mencuat dari tanah juga dinding-dindingnya.

Berpadu dengan cahaya bulan, kristal itu mengeluarkan sinar yang menenangkan, membentuk sebuah jalur yang mengarah ke puncak gunung- tempat dimana Baba berdiri disana. Meski aku tahu ini hanyalah mimpi, namun semua gelak emosi yang mengalir dan keindahannya terada sangat nyata- seolah aku sedang digeser ke dunia yang lain!

“Orang-orang berharap untuk melihat pertunjukkan yang ajaib. Tetapi keajaiban yang sebenarnya adalah kesabaranmu, ketahananmu dalam menghadapi musim kehidupan.”

Kau menyapa dengan senyuman hangat, jarak yang seolah dilipat membuatmu tampak begitu dekat. Suaramu bahkan seperti muncul dari dalam kepalaku sendiri.

“Kesetiaan untuk mengungkapkan kebenaran adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan. Benih itu sudah ada di dalam dirimu, dan kau telah menyiraminya melalui meditasi. Aku sangat bangga padamu, Pangeran.”

“Baba… Aku tahu ini adalah pernyataan yang bodoh. Tetapi aku telah kehilangan sangat banyak hal: identitasku, reputasiku, pencapaianku. Jika aku kembali ke dunia, maka aku harus memulai dari awal lagi, dengan pengetahuan bahwa aku pernah berada di posisi tertinggi dan bahkan berkesempatan untuk berkuasa dan mengubah dunia… Tidakkah itu semua terasa sangat aneh?”

“Sananda! Semakin banyak yang dilepaskan, semakin banyak pula yang didapatkan. Apa yang kau pikir tentang identitas, reputasi, dan pencapaian bukanlah sesuatu yang nyata- Itu bukan dirimu! Kau yang sekarang, yang berani menghadapi pergelutan batinmu sendiri, telah menyalakan cahaya agar mampu berjalan dengan kesadaran. Disana kau sudah menemukan jawaban, untuk menolong orang lain sebagaimana kau selalu inginkan. Itulah dirimu, cahaya abadi yang telah kau sendiri nyalakan!”

Wajahmu terlihat sedikit mengeras, tetapi aku mengerti, sebab setelah melewati hari-hari penuh refleksi pun, aku masih merasa ragu dan tak mampu membuat keputusan. Betapa aku sangat goyah dalam mempertahankan keyakinan!

“Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang-orang yang tercerahkan: para avatar, ascended masters, yang telah mencapai kesadaran tinggi dan penyatuan, bersedia untuk mengalami pengalaman manusia yang penuh keterbatasan?”

Kini kau berdiri tepat di sampingku, membuatku semakin yakin, aku sedang bergeser ke duniamu.

“Mereka tidak pernah takut atau menyerah pada keraguan, meski itu menyiksa dengan amat hebat. Dalam keadaan lupa, mereka selalu membawa keyakinan tentang asal-usul, bahwa manusia memiliki kesempatan untuk mengubah keterbatasan menjadi sesuatu yang abadi, dan pada akhirnya menjadi arsitek atas takdirnya sendiri. Itulah dirimu, Pangeran.”

Aku tahu, kau sangat berusaha agar aku terbebaskan. Kau sangat ingin aku menjadi sepenuhnya baru- bukan hanya dengan menanggalkan pakaian, tetapi supaya tidak lagi menumpahkan kotoran yang sama dan tersesat dalam pikiran-pikiranku.

Mimpi itu terasa sangat lama. Memainkan emosi dan pikiranku, membuatku merasa terpenuhkan sekaligus amat lelah.

“Yang menarik adalah, cahaya mengada oleh karena adanya upaya untuk menyalakannya. Dan upaya itu memiliki batas. Suatu saat, entah dalam waktu singkat atau bahkan jutaan tahun lagi, ia akan padam, sehingga satu-satunya hal yang abadi adalah kegelapan. Apa yang disebut Tuhan sebagai asal-mula adalah kegelapan yang ilahi. Tidakkah itu sangat mistik, indah, dan sederhana, Pangeran?”

Malam hampir berlalu, sinar bulan yang masih terasa kuat perlahan meredupkan sinar kristal, bagaikan lilin-lilin yang meleleh, bersama dengan setitik air mata mengalir dari ujung mataku.

Kedatanganmu bagaikan sinar mentari, memberi harapan dan perlindungan layaknya seorang Ayah. Aku merindukanmu, Baba. Rasa rinduku lebih besar daripada amarah dan kekecewaan yang pernah kurasakan terhadap dunia.

Baca kisah sebelumnya di: The Message

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.