Raja Yoga

Krishna memberitakan injil mengenai Atman yang abadi kepada pemujanya, Arjuna, dalam perang di Kurukshetra. Ia mengatakan jika Atman yang merupakan pancaran Ketuhanan dalam diri manusia sepenuhnya disadari, dan menjadi dasar dari keberadaan- maka penderitaan akan lenyap, digantikan oleh kedamaian mutlak.

Itulah yang disebut penyatuan, tatkala roh manusia (Jivatman) melakukan kontak dengan roh universal (Paramatman). Jika seseorang mencapai keadaan luhur ini, maka ia tak perlu takut akan kematian, sebab Roh Kudus dapat menjelma dengan sendirinya, dimanapun, dengan sesuka hati.

Krishna mengajarkan ilmu rahasia ini pada Arjuna di zaman Dwapara Yuga, yaitu era sebelum zaman keemasan, Satyayuga. Kemudian datang Patanjali yang membuat ajaran ini menjadi sistematis, yang dikenal dengan istilah Raja yoga. Semua ini bukanlah fiksi- seperti kisah tentang Yesus Kristus, Sang Putra yang berasal dari Sang Bapa atau Brahman. Orang-orang suci lainnya seperti Eliah dan Kabir pun menggunakan teknik yang sama. Inkarnasi terkemuka lainnya yang telah mencapai keadaan ini adalah Babaji, yang telah membawa kembali Kriya- nama lain untuk Raja Yoga, sebagai jalan mistik rahasia menuju penyatuan yang sempat menghilang di zaman kegelapan.

The Kingdom Of God

Dalam mitologi Hindu, Krishna dilahirkan di dunia untuk memulihkan keseimbangan di dunia. Tradisi Hindu juga memercayai bahwa Yesus, seperti Krishna, adalah seorang avatar lainnya yang datang ke dunia untuk menunjukkan jalan kebenaran pada kemanusiaan. Ini adalah salah satu kesamaan dimana keduanya adalah manusia sekaligus makhluk ilahi.

Krishna dan Yesus sama-sama dijuluki sebagai penyelamat dan avatar, yang datang pada saat dunia membutuhkan pemulihan kesadaran. Mereka adalah inkarnasi Tuhan yang hidup sebagai manusia, agar dapat menjangkau dan mengajarkan cinta ilahi, kekuatan sejati, serta kebijaksanaan ilahi yang relevan dan dapat diikuti oleh setiap orang.

Krishna mengatakan: “I am the way, come to Me…Neither the multitude of gods nor great sages knows my origin, for I am the source of all the gods and great sages.” Hal yang sama juga diutarakan oleh Yesus: “I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me. If you really knew me, you would know my Father as well…

Raja Yoga sebagai jalan megah menuju penyatuan, adalah ajaran untuk merealisasikan kerajaan Tuhan di dalam diri. Tema inilah yang menjadi penghubung ajaran Barat dan Timur. Yesus dan Krishna sama-sama menyerukan bahwa Kerajaan Allah yang kekal, kesadaran kosmis, berada di dalam diri setiap manusia.

Hal ini pada akhirnya untuk mengungkapkan bahwa mekanisme besar tentang semesta, dapat diobservasi melalui apa yang terjadi pada tubuh, pikiran, dan energi dalam diri kita sendiri. Ringkasnya, apa yang terjadi pada diri ini adalah serpihan kejadian yang sama yang terjadi pada semesta.

The Meeting


Sembari mempertahankan kesunyian yang membingungkan, orang suci itu mendekati dan dengan lembut mengetuk dahiku. Melalui sentuhan magis itu, sebuah arus menakjubkan menyapu otakku dan melepaskan ingatan-ingatan manis dari kehidupan masa lalu.

Aku ingat! Dengan suara yang tertahan oleh isak tangis gembira, aku berkata: “Kau adalah guruku Babaji, yang selalu menjadi tujuanku! Bayangan masa lalu telah muncul dengan jelas, dan aku tahu di gua inilah kuhabiskan beberapa tahun di akhir inkarnasiku!” Saat ingatan itu dengan kuat membanjiri seluruh pikiranku, dengan penuh airmata kugapai kaki guru-ku.

“Lebih dari tiga dekade aku telah menunggu disini- menunggumu untuk kembali padaku!” Suara Babaji mendengungkan alunan cinta surgawi.

“Kau pergi menyelinap dalam gelombang hiruk-pikuk dunia setelah kematianmu. Tongkat sihir karma menyentuhmu, dan kau pun menghilang! Meski kau kehilangan ingatan tentang diriku, namun aku tak pernah melupakanmu! Aku mengejarmu dalam lautan cahaya astral tempat dimana para malaikat berlayar. Melalui kegelapan, badai, pergolakan dan cahaya aku mengikutimu, seperti induk burung yang menjaga anaknya.”

“Saat kau menjalani kehidupan manusiamu di dalam rahim, dan muncul sebagai seorang bayi manusia, tak pernah sekalipuan aku mengalihkan perhatianku. Di masa kecil, ketika kau menutup tubuhmu dalam postur lotus di bawah pasir Nadia, aku hadir tanpa terlihat. Dengan sabar, bulan demi bulan, tahun ke tahun, aku terus menyaksikanmu, menanti hari yang sempurna ini. Dan kini kau disini bersamaku!”

“Inilah guamu, yang dicintai sejak dulu. Aku telah menjaganya tetap bersih dan layak untukmu. Ini selimut suci untukmu ber-asana, dimana kau pernah duduk setiap hari untuk mengisi hatimu yang meluas dengan kelilahian. Peganglah mangkukmu, darimana kau biasa meminum nektar yang kupersiapkan untukmu. Lihatlah bagaimana aku telah menjaga gelas kuningan itu agar terpoles berkilau, agar supaya kamu dapat meminumnya lagi darisana! Anakku, apakah kau sekarang mengerti?”

As I maintained a bewildered silence, the saint approached and struck me gently on the forehead. At his magnetic touch, a wondrous current swept through my brain, releasing the sweet seed-memories of my previous life.

“I remember!’ My voice was half-choked with joyous sobs. ‘You are my guru Babaji, who has belonged to me always! Scenes of the past arise vividly in my mind; here in this cave I spent many years of my last incarnation!’ As ineffable recollections overwhelmed me, I tearfully embraced my master’s feet.

“For more than three decades I have waited for you here-waited for you to return to me!’ Babaji’s voice rang with celestial love. ‘You slipped away and vanished into the tumultuous waves of the life beyond death. The magic wand of your karma touched you, and you were gone! Though you lost sight of me, never did I lose sight of you! I pursued you over the luminescent astral sea where the glorious angels sail. Through gloom, storm, upheaval, and light I followed you, like a mother bird guarding her young. As you lived out your human term of womb-life, and emerged a babe, my eye was ever on you. When you covered your tiny form in the lotus posture under the Nadia sands in your childhood, I was invisibly present! Patiently, month after month, year after year, I have watched over you, waiting for this perfect day. Now you are with me! Lo, here is your cave, loved of yore! I have kept it ever clean and ready for you. Here is your hallowed asana-blanket, where you daily sat to fill your expanding heart with God! Behold there your bowl, from which you often drank the nectar prepared by me! See how I have kept the brass cup brightly polished, that you might drink again there from! My own, do you now understand?’

~ Mahavatar Babaji to Lahiri Mahasaya.

Kriya Yoga

Kriya yang berasal dari kata ‘kri‘ berarti aksi atau tindakan. Ia memiliki akar yang sama dengan kata karma, yaitu hukum sebab-akibat. Namun kebalikan dari karma sebagai konsekuensi dari keberadaan ruang dan waktu- sehingga melahirkan pergerakan dan siklus kehidupan, kriya adalah sebuah upaya internal: energi.

Ini menjelaskan mengapa kriya yoga disebut sebagai instrumen untuk mempercepat evolusi kesadaran manusia. Bahkan seorang kriyaban disebut dapat terbebas dari hukum karma. Dengan mengontrol pikiran secara langsung melalui energi vital, metode yoga ini dianggap paling mudah dan scientific, dimana darah manusia mengalami dekarbonasi (mengeluarkan zat arang) dan diisi kembali oleh oksigen. Atom dari oksigen ekstra tersebut akan bertransmutasi menjadi energi kehidupan yang berfungsi untuk meremajakan otak dan pusat-pusat tulang belakang (medullary, cervical, dorsal, lumbar, sacral, dan coccygeal plexuses). Bagi yogi yang sudah advanced, mereka dapat mengubah sel-sel tubuh menjadi energi murni, materi dan bukan materi- sesuai keinginan mereka.

Lalu bagaimana hal ini dapat terjadi? Para yogi menemukan bahwa rahasia kesadaran kosmik terletak pada penguasaan nafas. Secara mental, energi vital diarahkan naik dan turun melintasi pusat-pusat tulang belakang- efeknya secara langsung pada tubuh halus dan mempengaruhi evolusi kesadaran.

Jika pada umumnya manusia terikat oleh maya atau hukum alam, dimana energi vital mengalir ke arah luar sehingga menjadi terbuang oleh sensor inderawi- kriya membalik aliran itu ke dalam- menuju semesta di dalam diri. Dengan pengendalian itu, tubuh dan sel-sel otak diperbarui.

Sejarah Kriya Yoga

Seteleh hilang selama berabad-abad di zaman kegelapan, kriya yoga diperkenalkan kembali di zaman modern ini oleh Mahavatar Babaji. Mungkin karena alasan inilah, yakni sebagai garis pengawal yang masih hidup dan mengamati perkembangan dunia, ia dijuluki Mahavatar. Teknik yang sama diperkenalkan oleh Krishna pada Arjuna, juga diadaptasi oleh Buddha, Patanjali, Kristus, serta murid-muridnya seperti St. John dan Paul.

Babaji lalu mengajarkannya pada Lahiri Mahasaya, yang lalu meminta salah seorang murid dari Mahasaya yaitu Swami Sri Yukteswar Giri (1855-1936) untuk melatih Paramahansa Yogananda, dimana beliaulah yang kemudian mengungkapkan teknik kuno ini kepada dunia.

Kepada muridnya Lahiri Mahasaya, Babaji pernah berkata: “kriya yoga pada akhirnya akan menyebar di semua negeri, dan membantu menyelaraskan bangsa-bangsa melalui persepsi transendental pribadi Bapa yang tak terbatas.”

Proses Ascension

Sepertinya omong kosong jika saya membicarakan ascension tanpa memberi petunjuk jelas bagaimana cara melauinya. Yang ada hanyalah gambaran-gambaran ‘di atas’, tanpa informasi tentang perjalanannya. Untuk memperjelas, eksis terang dan gelap di dunia. Maka jangan pernah menganggap kegelapan sebagai sesuatu yang buruk, karena itu adalah persepsi.

Kegelapan adalah salah satu elemen keseimbangan, maka itu haruslah ditaklukkan, agar ia tidak menguasai. Sebagai contoh, sering muncul pikiran yang buruk, namun pikiran itu dapat dihentikan dan segera dikendalikan. Banyak orang-orang ‘terang’ menjadi gelap, karena tidak mampu menahan desiran energi kebangkitan. Gelap itu amatlah mudah, yakni mengikuti ego dan kenikmatan sesaat di dunia.

Sementara kebangkitan adalah ujian. Ujian harus ‘dikerjakan’ untuk dilalui, dan ujian ini tidaklah untuk semua orang, maka bersukacitalah dalam mengerjakannya!
Kebangkitan menyajikan banyak pelajaran, sehingga kadang perjalanan terasa sangat melelahkan. Maka berhenti dan nikmatilah Bumi, karena Ibu Bumi tidak ingin kita menjadi menjadi sakit dan bersedih.

Jika berkesempatan untuk menjalaninya, perlu diingat bahwa proses kebangkitan terjadi tidak hanya sekali, tetapi terus-menerus bagaikan estafet, sebab bumi ingin segera menyelasikan prosesnya secara menyeluruh, termasuk melalui diri kita. Jangan mengeluh! Bagian ini sangat baik untuk membakar semua karma. Jika memang kita mampu mengikuti petunjuk semesta, ini akan menjadi kehidupan terkahir sebagai manusia yang mengalami dualitas. Itulah Janji Semeta.

Forget The Past

Avoid dwelling on all the wrong things you have done. They do not belong to you now. Let them be forgotten. It is attention that creates habit and memory.
As soon as you put the needle on a phonograph record, it begins to play. Attention is the needle that plays the record of past actions. So you should not put your attention on bad ones. Why go on suffering over the unwise actions of your past? Cast their memory from your mind, and take care not to repeat those actions again.

Lupakanlah Masa Lalu

Hindarilah untuk berpikir terlalu jauh pada kesalahan yang telah diperbuat. Mereka bukan lagi dirimu, biarkanlah mereka dilupakan. Adalah perhatian yang telah menciptakan kebisaan dan ingatan.
Segera setelah diletakkannya jarum pada catatan fonograf (alat penyimpan suara), maka semua segera dimainkan. Perhatian adalah jarum yang memainkan catatan masa lalu. Jadi mengapa kamu harus memberi perhatianmu pada hal yang buruk? Mengapa harus menderita atas perlakuan tidak bijaksana yang pernah dilakukan? Keluarkanlah semua itu dari pikiranmu, dan berhati-hatilah untuk tidak mengulangi itu lagi.

~ Paramahansa Yogananda, Kriya Yoga guru, disciple of Mahaavatar Babaji

The Age Of Light

Seharusnya lanjutan tulisan dari Penakluk Kegelapan sudah selesai beberapa hari lalu, namun sayangnya tulisan itu tak sengaja terhapus sehingga saya harus mengulanginya lagi. Meski begitu tak ada kekecewaan, saya sepenuhnya mengerti bahwa hal ini berarti saya harus menulis ide yang baru.

Saya pun belajar untuk lebih jeli mengevaluasi dan memerhatikan hal kecil, yang secara tak sadar terus dihindari, namun sebenarnya menentukan langkah berikutnya. Betapa melegakan untuk tidak lagi merasa terbebani, dimana muncul insting untuk menata hidup lebih sederhana.

Selama pengalaman menulis, telah terjadi sejumlah penundaan oleh karena alur yang tidak mengalir. Tidak mudah bagi saya untuk yakin dan mengakui percampuran tangan semesta ini. Hingga diri sejati meminta untuk berhenti, agar tidak lagi menahan diri dan berani mengklaim kelimpahan sebagai janji keadilan Ibu Bumi.

Percayalah Beliau selalu mengasihi dan tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, terutama bagi yang setia berserah dalam tuntunan rencana-Nya. Saya jadi mengerti bahwa diperlukan ruang yang luas untuk menyimak dan mendengarkan.

Jutaan inspirasi dan jeda adalah cara untuk mengundang berkat alam. Kesabaran semata adalah waktu untuk merasakan puji syukur yang menghantar tahap kedua dari jurnal jiwa ini. Saya pun tidak lagi membicarakan pencerahan, tetapi merasakan mantapnya tercerahkan. Dan itulah yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini: to claim your light.

Ajaran Budi

Darimana datangnya Ajaran Budi, dan bagaimanakah perwujudannya?

Ajaran Budi merupakan ajaran dari Sabdo Palon, sosok yang hidup dalam legenda kearifan Jawa, yakni leluhur-nya Wong Jowo itu sendiri. Sosok ini sejatinya sama dengan tokoh lain yang tidak kalah populer, yakni Eyang Semar.

Disebutkan pada zaman Mahabharata, Sang Hyang Batoro Ismoyo, yakni sosok dewa yang dimuliakan sebagai pembimbing Tanah Jawa, mengejewantah menjadi Eyang Semar untuk mendampingi Pandowo. Pandowo Limo adalah ksatria yang berjuang menegakkan kebenaran, dengan lawan Kurowo yang berkehendak sebaliknya.

Sebagai sedulur setia, Semar lalu menciptakan Bagong dari bayangannya sendiri. Kedua tokoh ini lalu melanjutkan tugasnya di masa kerajaan, dengan menitis sebagai Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Jadilah mereka sebagai tokoh kunci yang membawa Nusantara ke era kejayaan.

Sementara penitisan dalam Ajaran Jawa merupakan simbol akan adanya ‘satu energi ketuhanan’. Satu energi dapat mengejewantah menjadi beragam sifat, yang masing-masing memiliki kehidupan dan kehendaknya sendiri. Orang Jawa dibebaskan untuk memuliakan sifat mana yang sesuai dan ingin dikembangkan dalam dirinya. Sebagai contoh Brahma-Wisnu-Siwa dengan sifat mencipta, merawat, dan meleburkan. Serta banyak lagi sifat-sifat lainnya.

Perlu ditegaskan bahwa Kawruh Jawa tidak berkaitan atau bertentangan dengan agama-agama tertentu. Justru ajarannya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yakni berupa laku, sehingga dapat menjadi pegangan manusia sepanjang zaman. Budaya spiritual Jawa menggunakan istilah kawruh sebagai sesuatu yang bukan sekedar diyakini, tetapi sudah diketahui betul sebagai gabungan hasil pelajaran hidup dan laku semedi.

Inti Ajaran Sabdo Palon

Dijabarkan bahwa manusia hendaknya meniru sifat Sabdo Palon, terutama sebagai pemomong, yakni pengasuh yang sabar dan berwelas asih. Hal ini dibarengi dengan sikap setia untuk membela dan mendampingi, teguh dalam berpendirian, mandiri dan tidak ikut-ikutan, sebab sudah menimbang kebenaran yang dihubungkan dengan kebijaksanaan untuk menghasilkan ketepatan (pener).

Beliau juga mengingatkan agar manusia selalu memupuk sikap rajin, bersemangat, dan mau belajar. Adalah penting untuk berlatih olah rasa, membedakan mana rasa yang subjektif dengan rasa yang objektif (rasa sejati). Oleh karena itu diperlukan latihan semedi sebagai optimalisasi ruang alam bawah sadar, agar berperan dan berpengaruh terhadap pikiran sadar. Dijelaskan bahwa dalam kondisi hening, alam bawah sadar sejatinya memberikan pengetahuan dan perintah yang benar, selayaknya pikiran yang secara tidak sadar mengirimkan sinyal pada jantung agar selalu berdetak dan menjaga kehidupan kita.

Sementara kewajiban untuk berkarya adalah komitmen dan semangat memayu hayuning bawono. Seiring dengan itu sebisa mungkin manusia menghindari konflik, sebab adalah sifat manusia untuk mengunggulkan keyakinannya, sehingga perdebatan hanya dapat membawa kehancuran. Di poin ini juga dipertegas bahwa energi yang baik sifatnya menghidupkan, sementara energi yang tidak baik membawa kematian.

Sebagai pribadi kita perlu memahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah kelebihan, juga apa yang tidak dimiliki adalah kelebihan. Kiranya kita dapat melihat hal yang sama pada orang lain dan senantiasa bersikap lepas terhadap kehidupan. Dengan begitu, terciptalah pola kerjasama yang indah.

Beliau pun berpesan agar kita selalu berupaya untuk berkomunikasi dengan penguasa jagad, mengenal dan mengingat leluhur, serta membudidayakan Kawruh Jawa pada generasi penerus agar senantiasa selamat.

Cahaya Yang Memudar

Aku merasa bagai tiang yang runtuh. Hancur menjadi serpihan yang diterbangkan oleh sejuknya angin menjelang musim kemarau.
Waktu itu, tepat di pohon ini, tak ada seorangpun yang melihat, terkecuali bayang-bayang indah bagai lukisan di sore hari.

Aku mendengar janji-janji para petinggi yang luntur wibawanya oleh harta duniawi. Seiring dengan itu, muncul pertanda diawalinya zaman Kalabendu ini. Tak kuasa menolak takdir Sang Maha Agung, dan untuk merenung bahwa Beliaulah yang akan menjaga serta mengembalikan kewibawaan kita nanti. Maka aku menangis, semoga kiranya airmataku menjadi minuman untuk kehidupan yang panjang dan anggun.

Dapat kulihat reruntuhan daun-daun yang layu serta tumbuhnya tunas-tunas baru. Kiranya Beliau Yang Maha Meliputi mengabulkan doaku, doa alam semesta ini. Setelah itu aku harus beranjak ke dunia yang lain, sebab dunia ini bukan lagi tempatku. Bersama ingatan berupa kebenaran, suatu saat meskipun jalan untuk mengalahkan angkara murka tersedia dalam beragam bentuk dan cerita, hanya akan ada satu kebenaran, tempat dimana kita bertemu dan meluapkan perasaan yang bercampur aduk ini!

Kukatakan padamu, apa yang membuat kita manusia, yang membuat kita dapat bercengkrama dengan alam, adalah perasaan yang kita miliki. Maka itu janganlah mengabaikan perasaan ini, sebab itulah penanda bahwa kita adalah anak-anak Sang Hyang Taya, kesunyataan yang mendengungkan rindu.

Jika suara ini mematahkan keinginan-keingananmu, dan tak sekalipun dapat menggoyahkan keteguhan hatimu, maka kesunyataan adalah jalanmu.

Berjalanlah bersama angkara murka, biarlah ia tetap hidup sebagai teman kewaspadaan. Sampai saatnya ia mengucapkan selamat tinggal, dengan kehormatan, meleburlah dunia yang lama.

Cinderamata

Tak ada manusia yang dapat bersikap adil. Keadilan senantiasa menjadi milik Alam, Tuhan yang Maha Agung itu sendiri.
Alam tidak berpihak pada apa dan siapapun,  namun secara berkala melakukan seleksi untuk menegakkan keadilan, melahirkan keseimbangan.
Semoga kita senantiasa ‘selamat’ dan selaras dengan Sang Ratu Adil.

Seperti yang sudah dimengerti bahwa tak ada bentuk pemikiran yang mampu menghasilkan keadilan, melainkan hanya sebagai penyeimbang oleh kosmos melalui manusia atau wujud alam lainnya; maka catatan-catatan yang ditulis, serta bangunan-bangunan yang ditinggalkan adalah referensi jejak kesadaran.

Coba lihat! Kemegahan dan relief candi bukan sepenuhnya mengenai estetika dan sebuah cerita masa lampau. Alasan yang ada dibalik pembangunannya, pemikiran megah yang hanya mampu mewujudkan satu persen dari apa yang dilihat.

Kini ia berdiri sebagai jejak kesadaran yang melampaui ruang dan waktu, mengguncah rasa di titik sanubari, menjadi sebuah cenderamata tentang kesadaran yang pernah dan telah tercapai.

Begitupun dengan kitab-kitab yang ditulis dengan hati-hati dan tanpa nama. Bukan sepenggal catatan kaku tentang apa yang sudah terjadi, untuk dipelajari dengan pikiran dan filosofi yang rumit. Tetapi kisah-kisah tentang anak manusia dengan serangkaian kemungkinan, pengulangan, dan ikatan yang mendorong untuk berpetualang.

Gunakan bekalmu sebagai asupan yang cukup, untuk menciptakan kisahmu sebagai cinderemata yang indah!

Lalu berlarilah, pergi ke tempat yang lebih tinggi dan turunlah sesekali. Bertemu kangen dengan sahabat dan saudara-saudaramu, berbagi inspirasi dan menyemangati mereka.
Sebarkan lebih banyak jejak di dunia- dengan cara menyentuh hati manusia dengan cinta, cinta!

Manunggaling Kawula Gusti

Masyarakat Jawa pasti tidak asing dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti, yang berarti menyatu dengan Gusti. Ajaran yang naluriah ini hidup dengan alami, sebelum berkembangnya sistem dan ragam agama yang dikenal saat ini.

Pada masa tersebut, istilah agama tidak dimaknai seperti sekarang, apalagi sebagai label yang kental dengan budaya tertentu. Agama adalah hasil interaksi yang tak terputus- sebuah pemahaman yang mendalam terhadap Alam, upaya yang tak berkesudahan.

Untuk itu kita mendengar bahwa leluhur Nusantara meyakini ajaran animisme dan dinamisme, sebuah pendekatan terhadap jalur-jalur indah planet ini- serangkaian pengetahuan tentang alam semesta yang menuntun manusia pada kecerdasan.

Selain bersifat pribadi, agama memiliki nuansa kalem, rendah hati, mendalam dan penuh makna/ filosofis. Juga ditekankan nilai-nilai feminim seperti pemeliharaan dan cinta kasih yang sangat dominan, oleh karena kedekatannya dengan Ibu Pertiwi.

Animisme sendiri mempelajari tentang jiwa, yakni cara mengolah jiwa, mengembangkan kepribadian yang luhur, serta memahami sifat jiwa yang abadi. Sementara dinamisme mempelajari bahwa alam ini adalah lautan energi, daya hidup yang mengalir dan menggerakkan kehidupan.

Pupuh Dangdanggula

(mengekspresikan ketentraman, keagungan, dan kegembiraan)

Sakehing kan dumadi makardi
Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan leren
Surya, candra lan bayu
Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya “sastra cetha” tanpa tulis
Nulat lakuning alam

Segala sesuatu yang mengada, bekerja
Bahkan Tuhan pun bekerja
Menghidupi dunia ini tanpa henti
Matahari, bulan, angin,
Bumi, air, dan api, semua bekerja demi kelangsungan hidup, tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib.
Alam adalah “ilmu nyata” yang tak tertulis
Kita wajib meniru dharma bhakti alam ini.