Kisah Adiyogi Di Pegunungan

Pada saat Adiyogi gagal memenuhi keinginan kekasih jiwanya, ia naik ke puncak gunung Velliangiri dengan perasaan sedih, dan berdiam disana untuk waktu yang lama. Hingga hari ini energinya masih tertinggal di pegunungan itu, namun ia tidak melakukan meditasi yang menggembirakan, melainkan duduk disana dan larut dalam kesedihan.

Keputusasaan ini berangsur-angsur berubah menjadi kemarahan, sebuah kemarahan besar yang tak berarah dan tanpa tujuan, muncul oleh sikap tak berdaya terhadap keterbatasan. Kemarahan ini pada waktunya tumbuh menjadi lautan energi yang mampu menelan semua keterbatasan itu sendiri, hingga pada akhirnya, menjadikannya sebagai entitas yang tertinggi.

Dalam tradisi, dimanapun Adiyogi pernah tinggal dalam jangka waktu yang lama, tempat itu disebut sebagai Kailash. Itulah mengapa pegunungan Velliangiri kini disebut sebagai Kailash dari Selatan, sebab energinya yang mahadashyat telah menetap disana, sehingga sejumlah yogi pun mengikutinya, dan melahirkan cerita-cerita tentang para mistik yang berada di tempat itu selama ribuan tahun.

Sesungguhnya tak ada keramahan dalam meditasi Adiyogi, melainkan keganasan yang sangat intens. Intensitas itu memiliki kemungkinan yang luarbiasa, dimana hanya sedikit manusia yang pernah berhubungan dengan dimensi itu. Jika saja pernah, akan sangat sulit untuk diterima dalam kehidupan sosial, dan menyampaikannya pada dunia. Kebanyakan orang hanya ingin melihat keilahian dari sisi yang lembut, dan tak mampu menahan bentuk dari getaran tinggi yang sangat intens. Bahkan di masa lalu, ketika para yogis dari pegunungan Velliangiris turun, mereka menyebut Adiyogi dengan Shambo- yaitu wujud Adiyogi yang sangat lembut- sesuatu yang sebenarnya sangat jarang, sebab Shiva biasa diasosiasikan dengan keliaran.

Dengan menyebut nama Shambo, para yogis sebenarnya mencoba untuk melembutkan serta meredam energi intens dari pegunungan ini sehingga dapat befungsi bagi dunia. Kata Shambo berarti ‘yang begitu baik’, biasa diucapkan ‘Shiva Shambo’ secara bersamaan. Ia disebut begitu bukan karena lambang kehancuran yang dimilikinya, tetapi karena ia telah dihancurkan!

Getaran nama Shambo sebenarnya dirancang untuk menyalakan api yang berguna untuk membangunkan manusia hingga kesadarannya tak tertidur lagi- bahkan kematian pun tak dapat melenyapkan kesadaran itu. Shambo bukan hanya sekedar kata, melainkan sebuah kata sandi akan keberadaan.

Sebagai yogi yang telah disentuh oleh getaran dari ketinggian pegunungan Velliangiri, tujuan utama dalam hidup ini hanyalah untuk membiarkan anugerah dari gunung itu mengalir ke seluruh sisi lembah dan kaki bukit- hingga membanjiri planet ini.

Dikutip dari tulisan Sadhguru, “The Kailash Of The South”.

Pentingnya Hari Purnama

Bulan adalah satelit yang secara tak terbendung melakukan perputarannya di planet ini. Hal yang penting dari fakta ini adalah, jika seseorang secara mental terganggu di hari purnama, maka di saat bulan mati ia pun menjadi lebih terganggu dari biasanya.

Ketika berada dalam posisi tertentu, bulan akan memperkuat seperti apapun dirimu pada saat itu. Jika kau penuh cinta, gembira, dan kebahagiaan, maka semua dari itu akan ditambahkan. Sebaliknya jika kau sedikit terganggu dan tidak stabil, maka semua itu juga akan diperkuat.

Yang  terserap dalam meditasi, akan menyelam lebih dalam lagi, keberadaan bulan meningkatkan apapun intensi yang ada dalam diri. Maka kita menjadikan hari ini sebagai hari yang penting, dimana secara sadar kita menciptakan kualitas terbaik dari diri agar supaya ditingkatkan. Kita secara sengaja mengaturnya, dan membiarkan diri terseret dalam letupan-letupan yang muncul secara tak tersadarkan itu. Untuk itu bulan tidak menjadi baik atau buruk- ia hanya memperkuat jati diri yang terungkapkan pada saat itu.

Sementara di biara zen orang-orang duduk di bawah pohon dan menikmati bulan, purnama menjadi simbol yang sangat dekat dengan Gautama Buddha. Hal-hal penting yang berkaitan dengannya seperti kelahiran, pencerahan, dan ajaran Buddha, diturunkan pada hari tersebut.

The moon is a satellite for this planet and helplessly strung to this planet and making its rounds. So, what is the significance? Probably many of you know that if someone is mentally disturbed on a full moon day, on a new moon day they get little more disturbed than usual.

When the moon takes certain positions it heightens whatever you are. If you are loving you become more loving. If you are joyful you become more joyful. If you are blissful you become much more blissful. If you are little insane you become much more insane. If you are meditative you become far more meditative. It just enhances everything that you are. So, we considered these days important so that you consciously create the right kind of quality in you so that it gets enhanced.

~ Sadhguru, An Opportunity To Rise

The Destroyer

Membicarakan Shiva sesungguhnya sangat berkaitan dengan apa dan bagaimana mekanisme semesta. Sederhananya, apapun yang terjadi pada semesta ini dapat dilacak rekam kesamaannya pada diri kita. Sebuah kisah yang scientific sekaligus indah, mistik dan juga menggembirakan. Dengan ragam wajah, nama, dan fungsinya, sains kuno bernama yoga memberi petunjuk melalui simbol dan cerita.

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Siwa adalah ‘sang pelebur‘, dimana ia melenyapkan maya. Meski realita dunia adalah ‘nyata’, namun seringkali kita tidak melihat kenyataan itu sebagaimana adanya. Pikiran, persepsi, dan drama psikologis adalah hukum alam yang ‘melapisi’ tingkat kejernihan dan kewaspadaan ini.

Hukum alam itu disebut karma- dimana dari sumber yang sama, lahir ruang dan waktu, pergerakan dan siklus, gravitasi dan relativitas- segala hal yang menaungi alam raya ini. Oleh karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk membangun tanggungjawab terhadap apa yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan baui. Sebab pada akhirnya semua itu adalah karma milik kita sendiri.

Sadar atau tidak, segala aktivitas yang ditangkap melalui indera-indera menciptakan apa yang disebut takdir. Itulah mengapa spiritualitas mengajarkan kita untuk bersikap ‘aktif’ (berupaya)- agar senantiasa ‘bergerak’ (menuliskan karma) dengan penuh tanggungjawab. Inilah perbedaan karma dan kriya!

Meski memiliki akar kata yang sama yaitu ‘upaya’ dan ‘tindakan’, karma merupakan tindakan eksternal, sesuatu yang terikat dengan siklus kehidupan- sementara kriya adalah tindakan internal yang bebas dari siklus perputaran tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa Siwa- atau para avatar yang diutus ke dunia, tidak datang ke dunia untuk mendesain ‘agama’ atau doktrin tertentu. Secara nyata para entitas suci ini mengungkapkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk menuliskan takdir kita sendiri. Bahkan kemampuan itu dapat mengantarkan kita pada apa yang telah mereka capai.

Ketika sistem lama/ maya telah dihancurkan, maka spiritualitas tidak berupaya untuk mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan keyakinan baru. Spiritualitas yang autentik mengajarkan bahwa apa yang kita lihat sebagai kekosongan itulah merupakan ‘kecerdasaan yang tak tertandingi’- kecerdasan yang sama dengan asal mula seluruh semesta ini dimunculkan.

Ruang itu disebut dengan ‘pencerahan’ atau ‘pembebasan’. Shiva mendorong kita untuk melihat hal paling fundamental semenjak awal, karena hanya itulah yang dapat sepenuhnya meruntuhkan keterbatasan. Ia mengajak kita untuk menjadi sepenuhnya berani dan bertanggungjawab, sekarang dan saat ini juga!

Self Realization

Sumber gambar: jeyamohan.in

Ribuan manifestasi kristus yang turun belum tentu dapat mencerahkan. Tetapi dengan memilih untuk hidup dalam kristus, yakni dengan memperluas kesadaran hingga mengalami kontak yang nyata dalam indahnya meditasi, maka itulah ‘kedatangan Kristus yang kedua’.

Perjalanan para avatar memberi contoh dan bukti, bahwa kesempatan ini terbuka bagi manusia di dunia. Sebuah petunjuk yang nyata bahwa ketidakmurnian dapat dimurnikan, dan kekacauan yang terjadi dapat berubah menjadi keindahan dan sukacita.

Para avatar adalah jembatan diantara langit dan bumi, dengan mengajarkan ketidakterpisahan/kesatuan, serta universalitas. Ada satu hal yang menyentuh dari perjalanan para avatar, yakni cinta yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan. Ini adalah ungkapan tak terdeskripsi ketika vibrasi sang avatar selaras dengan kesadaran kosmis; hingga apapun yang dilakukannya, sesungguhnya adalah karya dari entitas tertinggi itu sendiri.

Melalui sumber yang sama, cinta itu mengalir dan digandakan pada setiap upaya sang avatar bagi manusia, agar mencapai kesadaran yang sama. Dalam hal ini, kita tidak dipandu untuk menjadi pengikut atau pelayan yang setia; melainkan seorang kawan yang mencintai satu sama lainnya, dan mengetahui seluk-beluk perjalanan transformasi diri serta kemungkinan-kemungkinan tentang pencapaiannya.

“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love, just as I have kept my Father’s commands and remain in his love. I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My command is this: Love each other as I have loved you.
Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends. You are my friends, if you do what I command. I no longer call you servants, because a servant does not know his master’s business. Instead, I have called you friends, for everything that I learned from my Father I have made known to you.
You did not choose me, but I chose you and appointed you so that you might go and bear fruit – fruit that will last—and so that whatever you ask in my name the Father will give you. This is my command: Love each other.” ~ John 15:9-17

Apa itu Self Realization?

Secara poetik, kita menjulukinya dengan ‘jembatan menuju kebahagiaan abadi’. Sebab itulah yang dicapai ketika seseorang mengetahui kebenaran, dan menyadari seluruh potensi dirinya.

Dalam keyakinan siwaisme, self realization adalah pencapaian tertinggi, yakni ‘mengetahui kebenaran Siwa’. Ada yang menyebutnya dengan asamprajnata samadhi, yaitu ‘terserap dalam kesadaran seutuhnya’ di kala sang yogi telah melihat kesatuan, keterhubungan, dan kesempurnaan yang meliputi seluruh penciptaan; Sementara Raja yoga menyebut ‘nirvikalpa samadhi‘ untuk hal yang sama.

Paramahnsa Yogananda, pendiri organisasi Self-Realization Fellowship dan seorang guru kriya yoga, menjelaskan bahwa self realization merupakan kesadaran meyeluruh di dalam tubuh, pikiran, dan jiwa. Bahwa keberadaan kita sendiri sesungguhnya merupakan kemahahadiran Tuhan, dan di setiap saatnya, tidaklah sekalipun kita pernah terpisah dari-Nya.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna pernah menyampaikan bahwa melalui self realization, manusia akan menemukan kebijaksanaan sejati- pada saat ini dan sekarang juga, sebagaimana ia merupakan puncak dari pengetahuan- memiliki julukan sebagai raja ilmu pengetahuan, dan esensi dari dharma (agama). Ia menyebut bahwa self realization adalah yoga, ‘penyatuan’ dengan kebenaran secara menyeluruh.

Seorang devotee yang melakukan yoga, akan mengalami esensi ‘kesatuan’ melalui kebijaksanaan intuitif yang menyusup dari kedalaman misteri ilahi. Dengan demikian sang yogi menjadi tahu dan menyadari bahwa ia memiliki kualitas ketuhanan- dan oleh karenanya, ia tinggal di dunia dengan tetap menjaga kesadaran akan asal-usulnya, dan menghindari segala ikatan yang delusif.

Adiyogi And The Eternal Darkness

Saat itu lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, tepatnya pada hari purnama, seluruh eksplorasi dari mekanisme kehidupan dibentangkan di planet ini. Sang Adiyogi menjadi Adiguru, yakni Sang Guru yang pertama. Hari tersebut kini dirayakan di seluruh belahan India sebagai Guru Purnima, sebab di hari itulah benih pembebasan ditanamkan dalam kesadaran manusia.

Di hari itu juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, terdeklarasikan bahwa takdir manusia bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis, dan sedungguhnya kesadarannya dapat berkembang hingga mencapai keilahian. Yang penuh terbatas dapat berubah menjadi tak terbatas, Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa ada cara untuk tinggal dalam tubuh fisik dan merasakan kesempurnaan, tanpa harus menjadi terikat olehnya. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tidak tersentuh oleh derita yang diakibatkan oleh fluktuasi pikiran. Adiyogi menegaskan pentingnya untuk mengetahui bahwa pada dimensi manapun, selalu ada cara untuk melampui keterbatasan- selalu ada cara lain untuk hidup di saat ini juga, untuk melakukan pekerjaan yang penting dan diperlukan oleh jiwa.

Wawasan ini tidak melahirkan kepercayaan tertentu, alih-alih melahirkan sains, ilmu pengetahuan. Sebuah ilmu yang bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai penentu atas nasib mereka sendiri. Pembentuk dan arsitek dari apa yang disebut dengan takdir.

Shiva, Sang Pelebur dan Sang Mahadewa

Lebih dari 99 persen atom dan kosmos adalah kekosongan, sehingga dalam tradisi yoga, ketika seseorang menyebut kata shiva, sesungguhnya ia sedang menyulut kerinduannya terhadap ketiadaan, sesuatu yang benar-benar diam. Atau dengan kata lain membangkitkan kehausan manusia akan sesuatu yang berada di luar jangkauan fisik.

Dalam perkembangan alami manusia terhadap penyelidikannya pada kesejatian, ia akan selalu tertarik pada segala sesuatu yang melampaui dunia materi ini. Yoga membagi eksistensi menjadi empat dimensi yaitu sthoola, sookshma, shoonya dan shiva. Sthoola adalah bagian yang kasar, dunia material. Ia dapat diukur, dihitung, dijangkau oleh kelima indera, dianalisa dan dipahami secara intelektual. Namun ketika eksistensi itu melampaui sensasi inderawi dan tidak dapat dipahami secara logika- namun jejak fisiknya masih tertinggal, maka itu disebut suksma. Pikiran manusia dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui hasil pengamatan, terletak pada dimensi ini.

Masuk lebih dalam lagi, terdapat shoonya, yaitu kekosongan, dimana tak ada fisikalitas maupun jejak-jekanya. Panca indera tidak berfungsi, semua seolah mati dan lenyap. Dan melampaui shoonya, ada dimensi yang lebih menggetarkan yakni shiva- kekosongan absolut- kebalikan dari semua yang ada, sekaligus asal mula dari semua yang mengada. Untuk itu ia dikenal sebagai Sang Pelebur. Namun di saat yang sama ia juga merupakan sebuah kreasi spektakuler, sekaligus pencipta dari kosmos, maka ia dikenal sebagai Siwa Mahadewa. Ini adalah penegasan bahwa proses penciptaan dan kehancuran sesungguhnya berada pada sosok yang sama.

Diterjemahkan dan disortir oleh blogger dari buku Adiyogi; The Source Of Yoga.

The Purpose Of Yoga (2)

“Prostating first to the guru, Yogi Swatmarama instructs the knowledge of hatha yoga only for the highest state of yoga (raja yoga).” ~ Hatha Yoga Pradipika, Chapter 1, Verse 2

Sujud pada Sang Guru (Sri Adinath), Yogi Swatmarama menginstruksikan pengetahuan hatha yoga sebagai jalan mencapai raja yoga.

Dengan memberikan penghormatan pada guru sebagai awal, Yogi Swatmarama menegaskan bahwa dirinya hanya berfungsi sebagai alat transmisi bagi pengetahuan yang akan diberikan. Hatha yoga saat ini banyak digunakan sebagai sarana pemulihan kesehatan, juga untuk memperkuat dan memperindah tubuh- sesuatu yang sebenarnya pasti didapat sebagai ‘efek samping’ latihan. Juga menjadi kebutuhan untuk membantu banyak orang, karena sains tidak mampu memberi jawaban yang mengakar terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental. Namun sebagai yogi, kita tidak melihatnya dengan sepintas, lalu menjadikan ini sebagai tujuan utama.

Kita tahu bahwa kesehatan tubuh dan mental saja tidak pernah cukup, sebab setiap orang adalah makhluk spiritual yang tidak berhenti di titik tertentu- tetapi berevolusi dan sepatutnya mengalami kebangkitan. Artinya yoga tidak hadir sebagai pengetahuan kuno yang menjawab problematika manusia di satu musim saja, tetapi di setiap musim dengan setiap tantangannya. Kita tidak dianjurkan untuk berhenti setelah mencapai kesehatan tubuh fisik, melainkan dituntut untuk terbebaskan darinya, serta melampaui aspek-aspeknya yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan.

Dengan teknik pelatihan hatha yoga, potensi pada tubuh dan mental seseorang akan meningkat secara signifikan. Diketahui bahwa otak manusia secara umum hanya digunakan sepersepuluh dari keseluruhan kapasitasnya, sementara lainnya tertidur, dan sains menyebutnya ‘silent area’. Sangat sedikit yang diketahui tentang area yang tertidur ini, namun sejumlah neurologis mengutarakan bahwa ini berhubungan dengan potensi supranatural.

Setelah latihan yang sulit dan panjang, potensi ini akan termanifestasi biasanya dalam wujud clairvoyance, clairaudience, clairsentience, telepati, telekinesis, psychic healing, dan lainnya. Wujud potensi inilah yang disebut siddhis. Sejumlah orang menganggapnya sebagai pencapaian yang besar, namun sebaliknya, ini hanyalah efek samping dan justru dapat menghambat perkembangan spiritual. Karena pada dasarnya tujuan latihan spiritual adalah untuk menemukan dan merasakan spirit universal di dalam diri.

Sebagaimanapun hebatnya perubahan dan buah-buah yang didapatkan, ingatlah bahwa manfaat terapetik, pencapaian duniawi, hingga kekuatan psikis bukanlah alasan dan tujuan hatha yoga yang diajarkan selama ribuan tahun. Dan barangsiapa yang melakukan yoga untuk tujuan-tujuan tersebut, tidak akan pernah berhasil menemukan kebebasan, dan tersesat dalam fluktuasi sensasi dan keinginan yang datang silih berganti.

HYP, Chapter 1, Verse 3

The Highest state of raja yoga is unknown due to misconceptions (darkness) created by varying ideas and concepts. In good will and as a blessing, Swatmarama offers light on hatha yoga.

Puncak dari raja yoga tidak diketahui oleh karena kesalahpahaman dari berbagai gagasan dan konsep. Untuk itu dengan berkat dan tujuan yang baik, Swatmarama menghadirkan pencerahan dalam hatha yoga.

Pencapaian tertinggi dari keseluruhan latihan spiritual adalah kaivalya, yang juga merupakan titik puncak dari raja yoga. Dalam  penggalan syair di atas, Swatmarama-  sebagai yang telah tercerahkan, dengan rendah hati memberi instruksi hatha yoga yang sistematis dan lebih mudah bagi kebanyakan orang.

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.

Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Light On Hatha Yoga

“There are not two minds, there is one mind trying to split itself into two. One mind wants to break the discipline and the other mind wants to maintain the discipline.” ~ Tidaklah ada dua pikiran, melainkan satu yang terbagi menjadi dua. Di satu sisi ingin mematahkan disiplin diri, sementara satu lainnya ingin menjaganya tetap kokoh.

     Salah satu teks popuper dalam hatha yoga adalah hatha yoga pradipika yang diterjemahkan menjadi Light On Hatha Yoga. Disusun oleh Yogi Swatmaratma di sekitar abad ke-6, buku ini terdiri atas empat bab masing-masing adalah: Asana, Shatkarma dan Pranayama, Mudra dan Bandha, dan Samadhi.

     Menariknya Swatmarama menghilangkan unsur yama dan niyama yang umumya menjadi titik permulaan dalam sistem buddhisme, jainisme, serta yoga patanjali- yang membagi raja yoga menjadi delapan tangga. Patanjali menganggap seorang murid harus menguasai yama dan niyama terlebih dahulu, untuk menghindari kegagalan dalam praktek asana dan pranayama.

     Sementara Swatmarama sangat menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para murid dalam melaksanakan kedua unsur tersebut. Ia menganggap yama dan niyama lebih seperti agama ketimbang spiritulitas, yang sejatinya berhubungan langsung dengan kehidupan. Menurutnya jika diamati, ketika berusaha menerapkan disiplin dan pengendalian diri, seringkali muncul masalah mental yang efeknya sangat mengganggu pikiran bahkan kepribadian kita.

     Lebih jauh ia menguraikan bahwa prinsip yang berlawanan sebaiknya tidak diajarkan, terutama perbedaan praktek religi dan spiritual yang dapat membawa kegagalan ketika menghadapi dilema evolusi kesadaran. Pesannya sangat jelas: pertama-tama murnikanlah tubuhmu- elemen-elemen halusnya, saluran energi, pola pergerakan energi vital, sistem saraf, dan keseluruhan bagiannya perlu diharmonisasikan. Begitulah caranya kita dapat membangun meditasi yang khusyuk, dan dilanjutkan pada tahap yang lebih dalam: pratyahara, dharana, dhyana, samadhi.  

Chapter 1, Verse 1:
Salutation to the glorious primal (original) guru, Sri Adinath, who instructed the knowledge of hatha yoga which shines forth as a stairway for those who wish to ascend to the highest stage of yoga, raja yoga.

Hormat kepada Sang Guru yang mulia, Sri Adinath, yang telah menyusun pengetahuan hatha yoga sebagai tangga yang bersinar bagi mereka yang ingin naik ke tingkat tertinggi dari yoga, yakni raja yoga.

Penjelasan:
Sri Adinath adalah nama lain yang diberikan kepada Siwa, sebagai kesadaran kosmik tertinggi (supreme cosmic consciousness). Dalam Tantra terdapat konsep siwa dan shakti, dimana siwa bertindak sebagai kesadaran abadi kosmos, dan shakti sebagai energi kreatifnya.

Tradisi samkhya menyebutnya dengan purusha, sementara vedanta menyebutnya brahman. Siwaisme menyebutnya siwa, waisnawa menyebutnya wisnu. Semuanya adalah satu dan sama, yaitu sumber kreasi dan sumber evolusi makhluk hidup, satu kekuatan yang meliputi segalanya.

Kekuatan itulah yang disebut sebagai guru, sebab ia membawa seseorang keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) ke dalam cahaya realitas (pengetahuan sejati). Sekte nath menyebutnya Adinath, sang pelindung utama.

Swatmarama adalah seorang penganut sekte nath, sehingga ia menghormati siwa dalam wujud Sri Adinath. Semua pengetahuan tanpa terkecuali berasal dari kesadaran kosmik. Tantra dan serangkaian cabang dari yoga pun berasal dari tempat yang sama, dan secara traditional penekanan itu diketahui sebagai siwa. Teks-teks suci berbahasa sansekerta selalu berawal dengan ungkapan: ‘Salutation to the supreme state of being‘, yang berarti ‘Hormat kepada Sang Maha Tertinggi’.

Hal pertama yang harus diingat sebelum memulai segala jenis latihan spiritual adalah: bahwa kekuatan kosmik adalah pemandu dari setiap gerakan, dan dirimu adalah instrumen dari kekuatan itu. Oleh karena itu, berilah hormat lalu mintalah perlindungan dan bimbingan-Nya terlebih dahulu.

Ketika Yogi Swatmarama memberi hormat kepada Adinath, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang akan datang pada sloka-sloka berikutnya adalah berkat kemuliaan dari Sang Guru, bukan pencapaian pribadinya. Terdapat kerendahan hati beserta absennya ego, dan hal ini sangatlah penting untuk memperolah kesadaran yang lebih tinggi.

Swatmarama lalu menjelaskan bahwa hatha yoga digunakan untuk mempersiapkan seseorang untuk mencapai raja yoga. Ha dan tha yang berarti matahari dan bulan, sebagai representasi dari dua energi kembar yang eksis dalam segala hal. Bulan adalah energi halus yang menguasai mental/ pikiran, sementara matahari adalah energi pranic yang aktif dan dinamis, merepresentasikan tubuh. Latihan hatha yoga memungkinkan fluktuasi dari kedua energi ini menjadi harmonis dan menyatu menjadi satu kekuatan.

“Sekalinya seseorang mencapai tahap raja yoga, maka hatha yoga tidak lagi menjadi kebutuhan untuknya.”

Yoga, Lembah Indus, Aryan, dan Atlantis

Menulis sejarah yoga yang didasarkan pada hasil riset data dan penelitian, sangatlah berat, tidak pasti, dan tidak menyenangkan! Bagi saya jauh lebih mudah memahami pesan-pesan masa lampau melalui kode yang diselipkan dalam karya seni dan sastra, sebagaimana nenek moyang kita melakukan tradisi penyampaian cerita secara oral atau mulut ke mulut. Hal ini seolah menghindari anggapan ‘sejarah ditulis oleh pemenang’, sebagaimana peradaban dunia saat ini ditentukan melalui hasil peperangan dan tersebar secara acak. Namun saya akan mencoba untuk menjabarkan ‘sejarah yang disepakati’ ini dengan jelas dan sesederhana mungkin, sebab hal ini tetap penting dan mendukung perluasan dimensi pikiran. Gunakan nurani dan temukanlah kebenaranmu sendiri.

     Secara umum yoga disimpulkan berasal dari India sekitar tahun 3000 sebelum masehi- namun banyak dari para peneliti yang bergerak di bidang sejarah dan arkeologi itu juga menyebut angka yang jauh di atasnya, yakni lebih dari 10000 tahun yang lalu. Era yang disebut sebagai pre-classical yoga ini bermula dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekarang Pakistan dan India Barat) yang berpusat di kota Mohenjodaro dan Harappa dan berkembang pada tahun 3000 SM hingga1700 SM oleh bangsa Dravida.

     Diperkirakan bangsa Dravida sudah lama menetap di wilayah Lembah Sungai Indus, dan berhasil membangun sebuah peradaban kuno yang sangat hebat di dataran Asia. Selain ahli dalam berdagang dan teknologi- yang terbukti dari konstruksi bangunan, tata jalan, serta pembuangan limbah modern yang ditinggalkan- terdapat kaum brahmanas dan sramanas yang menjalankan hidup selayaknya pertapa dan kemudian memunculkan ajaran yoga, jainisme, dan buddhisme.

     Setelah tahun 1700 SM terjadi kontak antara penduduk Sungai Indus dengan bangsa Arya, dimana kedatangan mereka mengakibatkan percampuran budaya, terutama mengenai konsep Tuhan/Dewa. Secara umum bangsa pendatang ini mengagungkan kekuatan alam dengan berbagai elemennya, dan agama yang didasarkan pada ritual persembahan, nyanyian, serta mantra. Kontak inilah yang menjadi awal lahirnya Periode Weda (1700 SM – 800 SM) dimana sistem kasta diperkenalkan, dan pada salah satu bagiannya yakni Rig-Veda, tertulis kata yoga untuk pertama kali.

     Siapakah sebenarnya bangsa Arya yang nomaden dan konon membawa pengetahuan canggih ‘dari atas langit’ ini? Ah, long story! Perlu pembahasan khusus mengenai kisah ini- dan sebagai pemancingnya, saya mengutipkan tulisan Prof. Arysio Santos dalam buku fenomenal Atlantis The Lost Continent Finally Found sebagai berikut:

Mesir, India, dan Asal Mula Legenda Atlantis (hal. 72-74): Plato mengakui bahwa ia mempelajari legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkan cerita itu dari para pendeta Mesir. Tetapi, para pendeta Mesir pada gilirannya mendapatkan cerita itu dari orang-orang Hindu, yaitu di India dan Indonesia, tempat legenda yang bisa saja benar itu senyatanya terjadi. Indonesia adalah Punt yang merupakan Tanah Leluhur (Tower), “Pulau Api” tempat bangsa Mesir semula berasal, pada zaman dahulu sekali. Bangsa itu terpaksa keluar karena bencana alam yang meluluhlantakkan tanah asal mereka, Indonesia (Punt), mereka pindah ke Tanah Harapan, di Timur Dekat. Mesir adalah Het-ka-Ptah, “kediaman-kedua Ptah”. Ptah adalah Pencipta Tertinggi dalam pantheon Mesir. Dia melambangkan paideuma Mesir, yaitu seluruh kebudayaan dan peradabannya.

Dari “Tanah Para Dewa” inilah bangsa Arya, Yahudi, dan Funisia juga berasal, demikian juga beberapa bangsa lain berketurunan campuran yang membangun peradaban luar biasa di masa kuno, termasuk bangsa Amerika. Hal itu menjadi alasan, mengapa semua bangsa ini berbicara secara obsesif tentang surga yang Hilang dan tentang daratan yang sudah tenggelam. Dari surga yang Hilang inilah—dari Atlantis purba—berkembang semua atau sebagian besar mitos suci dan tradisi agama kita. Dan senyatanya, tradisi-tradisi serta kenangan-kenangan suci itulah, satu-satunya yang membuat manusia berjaya di antara makhluk-makhluk liar lainnya di alam ini.
Dari Atlantis jugalah, langsung ataupun tidak langsung, tersebar semua atau sebagian dari ilmu pengetahuan dan tekno logi kita: irigasi, budaya bercocok tanam, metalurgi, penjinakan binatang, penggembalaan ternak, perkakas batu, astronomi, musik, agama, filsafat, abjad, penenunan serat seperti sutra dan kapas, bubuk mesiu, kertas, kompas magnetik, pengasahan batu mulia, dan sebagainya. Bahkan, bahasa sendiri sampai kepada kita tak bukan adalah dari sana.
Penemuan-penemuan ini sering sehingga tampak begitu alamiah kali begitu maju dan cemerlang, layaknya udara yang kita hirup dan dewa-dewa yang kita puja. Tetapi, penemuan-penemuan yang luar biasa maju itulah yang sampai kepada kita dari zaman purba, dari Atlantis kembar yang sudah kita lupakan sama sekali.

Bangsa Cina menegaskan bahwa “ikan adalah satu-satunya makhluk yang akan paling akhir menyadari keberadaan air”. Demikian juga, tidaklah mengejutkan jika kita begitu tidak peduli pada realitas yang tak terelakkan dari Atlantis, surga yang Hilang, yang dibicarakan oleh semua tradisi suci kita. Tetapi, Atlantis adalah jiwa dan semangat kita, Jiwa Dunia. Hubungan ini juga mengklarifikasi penggunaan kata ka (jiwa, semangat) oleh bangsa Mesir untuk menunjuk tanah asal mereka yang hilang. Punt, surga yang Hilang milik mereka, tak lain dan tak bukan adalah Indonesia, “tanah wewangian dan rempah-rempah” (Moluccas atau Maluku).

     Pada tahun 800 SM – 500 SM, yoga perlahan dikembangkan oleh para Resi dan pemuka agama yang mendokumentasikan latihan dan keyakinan mereka dalam sebuah karya yang disebut upanisads (bagian akhir dari weda). Dilanjutkan dengan karya epik Bhagavad Gita, hingga masa yang lebih terang saat tradisi bhakti (devosi) berkembang dan periode classical yoga yang ditandai oleh lahirnya teks Yoga Sutra Patanjali pada abad ke 4 masehi, sebagai sebuah presentasi sistematis Yoga yang pertama. Teks ini menjabarkan jalan dari Raja Yoga yang berisi tahap-tahap dan langkah menuju Samadhi.

Bersambung