Yoga to Relieve Stress, Strain, Anxiety and Headache

Dear Friends, dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi mengenai cara untuk meredakan sakit kepala, stress, ketegangan, dan rasa gelisah serta ketidaknyamanan melalui serangkaian latihan yoga yang sederhana, dan aman dilakukan oleh siapa saja secara mandiri. Informasi yang akan saya bagikan ini merupakan pengetahuan klasik Hatha Yoga yang diwariskan, serta dapat ditemui di berbagai teks yoga populer.

Perlu diingat bahwa dalam melakukan latihan yoga, pengalaman, sensasi, dan tingkat efektivitas bagi setiap individu akan berbeda-beda. Untuk itu praktisi dihimbau agar selalu aware, dan menjadikan pengalaman ini sebagai ruang pengamatan perihal apa yang benar-benar dirasakan dan dibutuhkan.

1. Meditasi

Meditasi adalah teknik untuk menyadari hal-hal yang selama ini tidak disadari. Artinya meditasi berfungsi untuk memperluas jangkauan kesadaran manusia. Dari tidak tahu menjadi tahu, mati menjadi aktif, gelap menjadi terang.

Teknik-teknik dalam meditasi ada bermacam-macam. Ada yang berfokus hanya pada nafas dan membiarkan kesadaran-kesadaran yang mati muncul ke permukaan, ada pula yang aktif, dimana seseorang berusaha menstimulasi energi kreatifnya ke pusat otak.

Dalam tema pembahasan ini, jenis meditasi yang cocok untuk meredakan ketegangan adalah meditasi relaksasi, yang bekerja melalui medium nafas. Hal yang perlu diperhatikan oleh praktisi adalah ketika melakukan meditasi, praktisi diharuskan untuk duduk dengan posisi tegak, agar aliran energi yang berpusat di tulang punggung bergerak bebas ke pusat-pusat spiritual yang berada pada tubuh bagian atas. Jika terasa kurang nyaman atau postur yang dimiliki kurang tegak, maka praktisi dapat menggunakan kursi atau tembok sebagai support, namun tanpa sepenuhnya bersandar.

Selanjutnya praktisi mengobservasi nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung, tanpa sengaja ditarik atau dihembuskan, alias natural breathing. Teknik pernafasan dasar ini meningkatkan kesadaran seseorang terhadap sistem pernapasan yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Dengan demikian, irama nafas menjadi lebih lembut, lamban, dan relaks.

Setelah terasa nyaman dan konsentrasi meningkat, nafas menjadi terkontrol, dan kesadaran perlahan menyatu menjadi nafas. Dengan demikian secara otomatis terjadi pelepasan dan pembebasan dari ‘hambatan-hambatan’. Hambatan yang dimaksud dapat berupa perasaan tidak nyaman- baik pada tubuh fisik maupun emosi (rasa sedih, marah, tidak sabar,dll)- serta pikiran yang aktif dan terus-menerus bergerak.

Slow down the rythym of the breath, slow down the activity of the mind.

Lakukanlah meditasi relaksasi secara bebas dan sesuai kebutuhan, tanpa memikirkan durasi atau pencapaian target tertentu.

2. Pranayama

Setelah menyadari dan menguasai nafas melalui teknik natural breathing, ipraktisi selanjutnya mencoba teknik-teknik pernapasan lain yang masih berhubungan dengan relaksasi dan penyeimbangan energi. Salah satu yang aman, populer, dan efektif untuk umum adalah nadhi sodhana atau alternate nostril breathing. Teknik ini berfungsi untuk mempurifikasi jalur energi/ lapisan tubuh pranic, serta memberi suplai oksigen tambahan pada tubuh fisik.

Cara melakukan:
Duduk tegak dengan posisi tangan kiri relaks di atas lutut/ paha, sementara tangan kanan terangkat di depan wajah. Pada tangan kanan, telunjuk dan jari tengah diletakkan lembut di tengah-tengah alis mata, sementara jempol dan jari manis secara bergantian memblok sisi luar lubang hidung kanan dan kiri.

Inhale left, exhale right. Inhale right, exhale left (1 round)

Secara tradisi, penarikan nafas dimulai dari lubang hidung kiri. Lalukan minimum sebanyak enam putaran, senyamannya.

Berikutnya adalah brahmari pranayama, atau juga sering disebut dengan bee sound, adalah jenis pranayama yang memanfaatkan medium suara sebagai alat untuk menenangkan pikiran dan saraf. Suara lembut yang timbul mengarahkan praktisi pada keadaan meditatif dan memudahkan untuk menyelaraskan diri dengan kesejatiannya.

Cara melakukan: angkat kedua tangan di samping kepala, blok pendengaran dari luar dengan masukkan masing-masing jempol ke masing-masing lubang telinga, sementara jari-jari lainnya menutup mata.Tarik nafas dalam, dan ketika menghembuskan lakukan suara ‘mmmm’ atau bee sound, lalu nikmati vibrasi suaranya.

3. Kriya Kapalabhati

Meski menggunakan medium nafas, kapalabhati masuk dalam kategori kriya, yaitu serangkaian latihan yoga yang aktif dan memiliki tujuan yang bersifat spiritual. Teknik ini berfungsi untuk purifikasi serta meng-energize tubuh dan pikiran. Sangat cocok untuk meredakan stress, gelisah, juga rasa kantuk.

Kontraindikasi: tidak disarankan bagi penderita kelainan jantung, high blood pressure, vertigo, epilepsi, stroke, dan hernia.

Cara melakukan: berfokus hanya pada hembusan nafas, dengan menghentakkannya hingga terjadi gerakan di perut. (Latihan ini sebaiknya dilakukan dengan bimbingan dari yang berpengalaman)

4. Mudra

Mudra secara umum diartikan sebagai gesture atau prilaku yang devosional, aestetik, dan psychic. Umumnya mudra dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi, namun bagi sejumlah praktisi advance, mudra dapat secara instan meningkatkan kuantum prana yang berpengaruh untuk membangkitkan chakra dan kundalini. Mudra tidak hanya merujuk pada posisi tangan tertentu, namun juga dapat mengikutsertakan seluruh bagian tubuh baik itu berupa asana, pranayama, dan bandha.

Ada dua jenis mudra yang cocok dengan tema pembahasan ini. Yang pertama adalah gyan mudra. Mudra ini sangat umum dan populer dipraktekkan selama meditasi, berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi, kesadaran, dan memori. Cara melakukannya adalah dengan mengatupkan ujung jari telunjuk dengan ujung jari jempol tangan.

Yang kedua adalah mahasirs mudra, yaitu mudra yang berfungsi untuk menyeimbangkan energi, terutama pada saat terjadi akumulasi energi yang berlebihan di bagian tubuh tertentu, sehingga mengakibatkan tension dan imbalance. Mudra ini sangat cocok dipalikasikan dalam latihan untuk tema ini. Contoh lihat gambar di bawah:

5. Yoga Poses

Sesungguhnya asanas atau pose yoga adalah ‘persiapan’ untuk melakukan meditasi. Asana membantu pergerakan prana agar mengalir tanpa hambatan, sehingga seseorang menjadi siap untuk masuk ke inti praktek, yaitu samadhi.

Selain itu asanas juga bermanfaat sebagai terapi, dimana gerakan-gerakan yoga yang memadukan mobilitas, fleksibilitas, kekuatan, serta keseimbangan, terbukti menjaga dan menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Berikut adalah contoh nama-nama pose yang sesuai dengan tema pembahasan ini:

Stress, anxiety, strain: surya namaskara, paschimottanasana, bhujangasana, salabhasana, sarvangasana, halasana, dhanurasana, bakasana.

Headeache: Vajrasana (bertimpuh), child pose, side stretch, simple twisting, janusirsasana, pawanmuktasana (reclining poses), savasana.

Aham Brahmanasmi

Menyelam ke dalam lautan kesadaran adalah anugerah dan kesempatan luarbiasa
Disana aku dapat mematikan pikiran
dan diperbolehkan untuk meminum air pengetahuan
Melampaui ilusi ruang dan waktu,
menghirup energi murni yang meremajakan,
merasakan keabadian…
DayaMu Luar biasa, Nyata, dan tak Tertandingkan.

Aham Brahmanasmi; I am THAT.

Tat Tvam Asi; You are THAT.

Signs

The breeze at dawn has secrets to tell you.
Don’t go back to sleep.
You must ask for what you really want.
Don’t go back to sleep.
People are going back and forth across the door sill
Where the two worlds touch.
The door is round and open.
Don’t go back to sleep.
~ Rumi

Translate:

Angin semilir di saat fajar membawa rahasia yang ingin diceritakan padamu.
Maka dari itu, janganlah kamu kembali tertidur.
Inilah saatnya untuk menyampaikan hasrat terdalammu.
Jangan kembali tertidur.
Orang-orang hanya bermondar-mandir dan melintas di ambang pintu,
tempat dimana dua dunia bertemu.
Sebuah pintu yang menjulang tinggi dan terbuka.
Janganlah kembali tertidur.

Catatan:

Alam semesta senantiasa meuntun dan membukakan jalan bagi siapa saja yang membuka mata, kala petunjuk itu datang.
Di setiap saat diantara sela kehidupan, pertanda diletakkan secara nyata di berbagai penjuru tempat, pribadi, dan kesempatan. Benar katamu, sahabatku, bahwa waktu yang nyata pada saat ini, adalah sebuah jangkauan dari kemampuan, kesatuan, dan keabadian.

Prana

Betapa uniknya caraMu mendewasakanku, Sehingga aku tak pernah bosan menjalani kehidupan ini. Sebab keberadaanMu telah menghidupkan daya yang begitu kompleks, dimanapun kuberada.

Aku tak bisa menahan keinginan untuk mengalami penyatuan denganMu. Pikiran dan segala hasratku tertuju pada itu. Maka jadilah semua makhluk di muka bumi mengalami anugerah pembebasan, sebab semua sudah jelas terlihat pada sikap yang terus-menerus.

Dan terutama pada saat ini, dimana aku tak bisa memikirkan hal lain selain diriMu!

Pada awalnya, segalanya adalah kosong; berupa lautan kesadaran yang belum termanifestasi. Sebuah titik keseimbangan sempurna yang dalam naskah yogic kuno disebut dengan para brahman, yang berarti absolute atau supreme reality.

Dalam totalitas keheningan ini, sebuah gerakan terjadi oleh karena hasrat yang bersumber dari kreativitas, yang lalu melahirkan keinginan-keinginan. Dan keinginan itu bergetar menjadi apa yang disebut sebagai spandan, yaitu vibrasi.

Energi primal yang mengakibatkan gerakan pertama tersebut adalah mahaprana, yang memiliki nama lain sebagai mahashakti, atau juga sering dikaitkan dengan istilah mahamaya, yang bermakna kekuatan ilusi. Hal ini disebabkan oleh karena gerakan tersebutlah, prana berkelana secara mandiri, dan berada dalam permainan konstan untuk terus-menerus berkoneksi dengan realitas tertinggi.

Prana tidak pernah terspisah dari kesadaran sejati, dan eksis dalam keabadian sebagai potensi dari kesadaran itu sendiri.

Para yogi menafsirkan prana sebagai kekuatan yang membagi dirinya menjadi lima elemen dasar penopang kehidupan, yang memiliki tingkat kepadatan, variasi, serta kombinasi tertentu. Dengan kata lain prana tinggal dalam setiap kreasi yang ada di jagat raya ini, baik itu makhluk hidup ataupun benda mati.

Yoga meyakini seluruh isi kosmos hidup dan berdenyut melalui prana. Setiap aksi, pikiran, pertumbuhan, penuaan, ada dan meniada dengan kekuatan prana. Kita sendiri sebagai manusia dilahirkan dengan kuantum prana tertentu, yang kualitasnya dapat ditambah atau dikurangi baik melalui nafas, pikiran, makanan, tingkah laku, serta jenis kehidupan yang dijalani.

Atas dasar itulah olah napas menjadi salah satu latihan populer dalam sejumlah praktek spiritual, termasuk yoga dengan sistem pranayama, yang berfungsi untuk memperluas jangkauan prana.

Saya ingin berlatih pranayama

Once Upon A Paradise

Saat itu adalah puncak malam purnama. Energinya deras memancar semenjak sehari sebelum dan sehari sesudahnya, mengakibatkan sejumlah fenomena alam yang terasa tidak alami.

“Jadi apa yang kita cari?”

“Pulang.”

“Hah?”

“Kita tidak sedang mencari atau mengembangkan sesuatu baru yang berada di luar diri.”

Ia lalu menunjuk ke tengah-tengah dadanya sendiri, mempertegas letak Jiwa yang memang menurut tradisi, terletak secara fisik di sebuah ruang kosong di balik ulu hati.

“Setiap makhluk adalah suci, tidak peduli apapun yang telah diperbuatnya, di level manapun tingkat kesadarannya. Semua makhluk diciptakan dengan kesucian sehingga setiap saat mereka bisa saja menyingkirkan apa yang tidak suci, dan kembali ke asalnya.”

Aku tersenyum ketika ia berkata ‘setiap saat’, yang menegaskan sifat ilahi dan belas kasih dari Tuhan Semesta Alam.

Dan benar saja, sesaat kemudian, muncul untaian cahaya merah bercampur emas membentuk sesuatu yang terlihat seperti burung berukuran raksasa, menyala-nyala dengan anggun dan berani, datang menghampiri kami. Burung phoenix!

“Phoenix adalah simbol keabadian, Kala yang sesungguhnya. Ia adalah matahari itu sendiri, yang membuat kita memutuskan kapan siang dan malam terjadi, dan perputarannya melahirkan sistem kalender yang menandai waktu di bumi,” ia menjelaskan.

“Namun, matahari juga sama seperti bulan, perputarannya dapat dipercepat dan diperlambat, bahkan pada satu, titik berhenti untuk berbalik arah putaran. Itulah sifat dari waktu yang tidak absolut, dapat diatur sesuai pikiran dan emosi kita yang menjalaninya, dan bahkan mengikutsertakan tubuh fisik bersamanya.”

“Yang nyata adanya adalah kepingan dari kejadian-kejadian, pergerakan, dan perubahan. Apa yang kita sebut sebagai waktu adalah cara kita untuk mengukur perubahan.”

Siwa dan Sakti

Cahaya itu tadinya satu, dan lalu terbelah menjadi sepasang kilau biru keunguan yang utuh dan mandiri, saling mengekori- kadang menyatu dan terlepas lagi.
Satu kalpa lamanya, alam yang kosong ini pun diisi oleh sisa-sisa kilau yang bertebaran. Terang dan redup dalam kegelapan dan kesunyian yang penuh potensi.

Dan ketika ruang tempat mereka muncul meluas, cahaya itu dengan keanggunan seolah bersepakat untuk berbagi tugas, untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan ledakan spektakuler yang kemudian menghasilkan butir-butir cahaya yang lebih banyak lagi…

Dan terjadilah.

Kilau warna-warni itu bermanifestasi dalam berbagai bentuk: cair, padat, gas…
Darisanalah segala keindahan di dunia ini tercipta, turun dari angkasa dan tinggal jauh di dalam perut bumi.

Yang satu mencuat menjadi gunung yang begitu tinggi, dan yang satunya lagi menjadi kaldera mahaluas yang menganga lebar. Mereka adalah sepasang Gunung Suci Abadi, yang secara bergantian menjadi penguasa, yang kekuatannya ditakuti sekaligus dinanti.

Bersamanya, lahir Air Terjun Pengetahuan yang mengaliri Sungai Abadi, dan terciptalah Negeri Surgawi, asal mula peradaban Dunia yang kita kenal kini, Leluhur yang asli.

Beyond The Science of Yoga

Kita semua setuju bahwa fisika kuantum adalah sebuah materi yang sangat rumit. Richard Feynman, tokoh yang dianggap ahli di bidang tersebut berkata: “if you think you understand quantum mechanics, you don’t understand quantum mechanics.” Poinnya, pikiran adalah lingkup yang terlalu sempit untuk menjabarkan semesta. Hal ini sama seperti yang diungkap oleh para yogi kuno bahwa ide dan kata-kata yang muncul dari pikiran untuk menjabarkan keagungan Tuhan justru mengurangi jarak kita pada kebenaran. Untuk ‘mengalamiNya’, kita membutuhkan keseimbangan antara keheningan, tindakan, dan apa-apa yang berada diantaranya.

Dalam teks ‘Sutras of Patanjali with the Bhashya of Vyasa’ (Yoga Darsana) yang berisi pembahasan mengenai Yoga Sutra oleh Patanjali, Yoga adalah Samadhi atau Meditasi. Samadhi merupakan sebuah kondisi dimana manusia berada dalam kesadaran yang terbebaskan dari maya/ ilusi duniawi, ruang, dan waktu yang selama ini membatasi jangkauan kesadaran manusia menuju kesadaran ilahi. Dengan begitu, samadhi dapat diartikan sebagai sebuah momen dimana manusia menyatu dalam kelilahian, yang bersumber dari kesejatian diri. Sebab itu tidak jarang kita menemukan sejumlah teks yang mengaitkan yoga dengan kata ‘yuj’ dalam bahasa Sanskrit- yang berarti penyatuan, serta ‘connection’ atau hubungan.

Pemahaman ini menegaskan bahwa yoga berusaha membahas sifat-sifat ilahiah/ Tuhan yang tidak jauh dengan ilmu fisika quantum, yaitu melalui energi, vibrasi, dan frekuensi. Fisikawan legendaris Nikola Tesla sering menyebut tiga kata tersebut untuk menjabarkan alam semesta. Ditegaskan bahwa semesta ini adalah sebuah lautan energi. Aliran energi kehidupan tersebut selanjutnya terjabarkan menjadi vibrasi; vibrasi menjadi frekuensi-frekuensi menjadi angka- dan angka dapat diatur menjadi bentuk serta pola, hingga pada akhirnya mewujud menjadi realitas dan materi fisik.

Itulah mengapa semesta ini disebut sebagai suatu hologram, dimana pikiran dan intensi kita adalah bagian dari vibrasi semesta, dan frekuensinyalah yang menentukan realita kehidupan. Istilah multidimensional universe menjadi kian jelas, ketika frekuensi setiap orang yang berbeda juga menciptakan tampilan hologram/ realita yang berbeda.

Lalu bagaimana Yoga yang merupakan sebuah ilmu seni hidup kuno dapat menjelaskan ini? Jawabannya adalah Yoga samasekali bukan ilmu kuno yang tertinggal dalam ketidakutuhan. Sebaliknya, Yoga justru mengarahkan kita untuk merenungi alur dan ritme semesta dengan nyata dan praktikal. Ada dua istilah dasar dalam yoga yang berkaitan dengan energi, yaitu prana dan kundalini. Prana yang lebih dikenal sebagai nafas kehidupan adalah energi yang mengatur pergerakan hingga memungkinkan terjadinya kehidupan. Perputaran planet, nafas yang keluar dan masuk di paru-paru, pertumbuhan menuju kematian sampai kelahiran kembali, merupakan sebuah ritme pergerakan yang diamunisi oleh prana.

Di satu sisi, pergerakkan ini juga menjelaskan bagaimana reinkarnasi menjadi sesuatu yang sangat mungkin, terlepas dari keyakinan agama-agama tertentu. Energi tidaklah pernah mati, melainkan bertransformasi. Ia merubah wujud sesuai keselarasan yang tercipta antara vibrasinya dengan vibrasi semesta. Dan oleh sebab segalanya adalah energi, jiwa pun bertransformasi dan mengganti wadah untuk menyesuaikan getarannya.

Lalu apa itu kundalini?

Berbeda dengan prana, kundalini lebih tepat disebut sebagai kekuatan atau potensi yang berfungsi sebagai agen perubahan. Tradisi yoga mengaitkan kundalini dengan filosofi Siwa dan Sakti, yang merupakan perwakilan dari energi feminim-maskulin atau juga digambarkan melalui hubungan antara jiwa dengan kesadaran murninya.

Yoga meyakini bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan evolusi kesadaran tidak lepas dari peran kundalini, sehingga pada awalnya yoga klasik/ tantra (hatha yoga yang dikenal luas saat ini berakar dari tantra) merupakan serangkaian latihan yang bertujuan untuk membangkitkannya. Secara visual, pada tubuh manusia kundalini bertempat di sekitaran otot perineum (diantara kemaluan dan anus) sebagai energi yang dorman/ tidak aktif. Di Nusantara, energi yang maha dashyat ini sering dihubungkan dengan gunung berapi yang berperan sebagai siwa, beserta magma-nya sebagai sakti.

Dalam praktek latihannya, kundalini bergerak secara gradual menelusuri pusat-pusat chakra yang terletak di sepanjang tulang punggung. Masing-masing chakra mewakili kondisi dan intensi kesadaran seseorang, dan salah satu teks yang menjabarkannya secara apik dalam bentuk simbol dan cerita dapat ditemukan dalam Lontar Sanghyang Tattwajnana Nirmala Nawaruci yang ditulis oleh Mpu Siwamurti pada zaman Majapahit.

Memayu Hayuning Bawana

Sinar kuning bercampur emas menembus ranting-ranting pohon, dan dedaunan terlihat gelap karena tertimpa bayangan. Hembusan angin dengan lembut membelainya, mereka pun saling membentur ke satu sama lainnya.

Kabar mengenai lahan temanku yang ternyata mengandung emas misterius memberi aroma di ruang sore hari ini. Kubayangkan kilau emas yang bagaikan butiran itu menyala-nyala di tangannya, sahabatku yang paling berharga, yang pantas menggenggamnya.

Ia menegaskan, selamanya emas itu akan dibiarkan tertimbun disana, katanya untuk menjaga keseimbangan lahannya- sehingga ia dapat selalu menyebut tempat tinggalnya sebagai rumah.

Kini aku mengerti mengapa orang-orang merendahkannya- kawanku yang maha lembut tutur katanya itu, dengan sebutan ndeso karena logat dan bahasanya. Juga mengapa orang-orang meremehkannya, oleh karena cara hidupnya yang terlalu sederhana. Aku sudah melihat sendiri, bahwa semenjak dahulu kala, orang-orang tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya, dan tak sedikitpun terkaan mengenainya yang mendekati kebenaran.

Di teras rumahku yang dikelilingi kebun yang ditumbuhi sejumlah tanaman obat dan umbi-umbian ini, kubayangkan diriku sedang bercakap-cakap dengannya.

“Apa benar berita mengenai emas itu?”

“Iya benar. Leluhurku, aku, dan semua keturunanku, semua mengetahuinya.”

“Kalau begitu mengapa orang-orang sekarang sibuk membicarakannya?”

“Orang-orang sebenarnya tidak tahu, dan selamanya tidak akan pernah tahu.”

“Apa maksudnya?”

“Karena mereka salah mengartikan tentang emas.”

“Emas di lahanku ini, memang dapat memberi lebih dari cukup makanan untuk semua orang di seluruh negeri untuk selamanya. Tapi mereka juga lupa bahwa tanpa memiliki emas ini pun, mereka dapat hidup kenyang jiwa dan raga.”

“Saat ini banyak yang salah paham, ketika mereka tahu bahwa tanah kita adalah Negeri Emas yang hilang, mereka jadi ikut-ikutan menggali untuk diri mereka sendiri. Mereka jadi berebut harta padahal harta yang sesungguhnya tak dapat diperebutkan.”

“Meski memang ada secara fisik, namun bukan itu yang dimaksudkan. Harta yang paling berharga adalah dirimu, kawanku, jiwa yang bebas dan dengan sadar menjaga keindahan negeri ini tanpa keinginan untuk memilikinya.”

“Jiwamu-lah sumber daya yang menambah keindahan Negeri ini. Jiwamu-lah satu dari jiwa-jiwa beraura emas yang menghadirkan zaman penuh kemuliaan di permukaan bumi.”

Kini kutahu, sikapnya yang sederhana adalah emas yang dicari itu, berwujud manusia dan bukanlah siapa siapa di dunia. Semenjak dahulu kala, orang-orang mencoba untuk merundingkan sejumlah penawaran, namun berakhir dalam kebingungan dan keheranan. Dan sampai hari ini, mereka tak mampu melihat sedikitpun Cahaya terang menderang yang mengelilingi sekujur tubuhnya; manusia yang paling didengarkan oleh penghuni langit dan bumi itu.

Satyayuga

Januari 2019. Kala itu angin bertiup kencang sepanjang hari, diiringi sedikit hujan. Beberapa pohon tumbang, tak kuasa menahan kuatnya angin yang bertiup dari arah Selatan. Berita tentang gempa dan gunung meletus ramai menghiasi surat kabar digital, yang kali ini bahkan juga mengguncang Suwarnadwipa- nama lain dari Pulau Sumatera yang berarti Pulau Emas, juga Celebes atau Sulawesi, yang semuanya masih bagian dari Kepualaun Sunda Besar.

Kuperhatikan titik-titik aktivitas alam di peta yang tersimpan di selulerku. Lekukan pulau-pulau nan eksotis dalam berbagai ukuran, serta rentetan gunung yang berjejer segaris terlihat mencolok di peta. Sambil duduk di samping meja yang berdampingan dengan jendela kamar, kubayangkan jika memang yang terlihat dan tercatat saja sudah semenakjubkan ini, bagaiamana dengan yang tidak terlihat dan belum terjelajahi?

Aku lalu membuka mesin pencari dan mengetik ‘krakatau’ sebagai kata kunci. Muncul sebuah gambar kota dengan sentuhan futuristic yang menarik perhatianku. Bangunan-bangunan yang membentuk lingkaran serta tanda cross di tengahnya. Bagian ujung bawahnya memanjang seolah menjadi penghubung antara tempat tersebut dengan sebuah tempat yang lain. Di bawahnya tersemat sebuah tulisan puitis yang cukup panjang tentang negeri itu:

Setelah akhir dari peradaban Induk Negeri Surgawi- yakni pada saat Gunung Toba meletus, dengan bantuan sejumlah tokoh dan para Sang Hyang, jalur-jalur baru terbuka, diaktifkan, sehingga munculah Negeri Surgawi yang Sesungguhnya. Sang Legenda yang termashyur, diagung-agungkan saentro dunia.

Kala itu suhu bumi menurun dan terjadilah musim dingin global pertanda zaman baru. Negeri inilah satu-satunya yang berlimpah dan gemilang.Tanah subur dengan sawah bertingkat nan luas, pohon-pohon kelapa yang melambai memberi kesejukan. Di tepi pantai berdiri karang-karang dan tebing yang gagah, ombak-ombak pun dengan cantik membenturkan diri ke dindingnya.

Jutaan burung di angkasa menghaturkan nyanyian persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kicauannya membangunkan jutaan makhluk dari tidurnya!

Bersamaan, mentari muncul memberi sinar kuning di atas tanah yang cokelat dan pada dedaunan. Terang benderang. Subur sejahtera. Mata berbinar dengan keberanian yang berbalut kedamaian. Di sore hari pun keindahan yang lain menampilkan kemashyurannya. Kilau oranye dan ungu di ufuk barat mengayun menenangkan, tanda petualangan baru yang menawarkan ungkapan tentang rahasia-rahasia. Rahasia yang sampai hari ini masih hidup dalam hati jiwa-jiwa yang pernah mencicipinya. Yakni tentang kerajaan yang menguasai seluruh alam raya. Semua kerajaan yang pernah ada bergabung dengan sukarela, tunduk pada satu-satunya pemimpin tunggal yang absolut.

Betulkah induk peradaban dunia berasal dari negeri kita, kampung halaman ini? Sesaat aku terhanyut dalam imajinasi yang memperluas data-data di otakku melalui simbol dan mitos, yang memang digunakan sebagai alat pengakses untuk mengungkap pesan-pesan leluhur.

Merah dan putih. Simbol warna ini dipercaya sebagai penyatu seluruh pulau dan lautan di permukaan bumi, sekaligus merupakan simbol Siwa dan Sakti, yang dipersonifikasikan sebagai gunung dan lautan yang memberi kehidupan di permukaan. Tanda-tanda langit pun dengan cermat terkodekan melalui struktur dan relief candi-candi, yang jumlahnya ratusan dan bahkan masih banyak lagi yang belum digali, tertimbun bersama legenda dan anomali.

Hal ini adalah petunjuk mengenai negeri ini yang dahulu pernah dihuni oleh sebuah peradaban maju, dengan teknologi serta pengetahuan yang mengungkap cerita semesta. Ada yang menyebutkan bahwa ‘pengaburan’ dan penutupan akses memang selama ini sengaja dilakukan oleh leluhur, untuk melindungi tanah ini dari kerusakan yang lebih parah.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membangun kembali dan mewujudkan zaman emas yang pasti akan terjadi adalah mengakses kesadaran leluhur. Mencari kebenaran masa lalu untuk membangun lagi dengan kekuatan saat ini. Kenyataannya, Nusantara yang pernah jaya sudah hancur dan tak akan kembali, tapi zaman emas yang cemerlang dan dibasuh oleh pengalaman dan kebijaksaan sedang dikerjakan saat ini.

Agama Budi

“Tak ada satupun ajaran yg dapat menjelaskan apa yg sesungguhnya, karena yang sesungguhnya merupakan apa yang kita alami sendiri. Maka itu sibuklah mendandani dalam diri, karena lebih seru lebih nyata, tidak mungkin diperdebatkan seperti yang sibuk mendandani apa yang ada di luar.”

Banyak sekali jalur untuk mendaki gunung. Pemandangan dan pengalaman dari setiap jalur tentu berbeda, namun puncaknya tetap sama, dan pada akhirnya mempertemukan kita dengan keberagaman yang menyeimbangkan.

Itulah ilustrasi mengenai pengalaman beragama. Jika agama dimaknai sebagai kumpulan dari sejumlah aturan, dogma, dan filosofi, maka agama menjadi sesuatu yang kaku dan bertolak belakang dengan kasih sayang yang lentur dan tak bersyarat. Sebab hanya kasih sayang yang dapat mewadahi dorongan naluriah manusia untuk terbang bebas agar dapat mengembangkan kreativitas, dan selalu terhubung pada jati dirinya.

Budaya leluhur Jawa menyebutnya dengan Budi atau buddhi, yang bermakna kesadaran sejati. Hal ini menekankan bahwa leluhur Jawa meyakini bahwa setiap manusia, secara instingtif memahami ritme semesta yang indah. Paham di dalam sanubarinya, merenunginya, dan sungguh-sungguh melaksanakannya sebagai sikap dalam kehidupan.

Maka dari itu, tembus dan lampauilah sempitnya penglihatan yang terbatas itu. Melalui batin yang melihat dari atas, akan tampak dengan jelas seluruh jalur menuju puncak gunung, yang menjadi simbol perjalanan menuju kesadaran sejati.

Rahayu.