Konsultasi Tarot

Mulai September 2020 saya menerima klien yang ingin dibacakan kartu tarot. Pembacaan termasuk kategori fun dan bisa juga spiritual. Hasil reading akan dikirim dalam bentuk tulisan, maksimum 7 hari.

Untuk pembayaran, dapat dilakukan via bank transfer dengan promo price: 200k (dari normal price 250k) selama bulan September, untuk detail reading mengenai satu topik/aspek kehidupan. Jumlah klien dibatasi, agar hasil bacaan lebih fokus dan akurat, memberikan kecerahan serta perluasan pandangan sesuai kebutuhan.

Kirim permintaan kamu ke: winniemacheline@gmail.com

Love and blessings!

Universal Love

“If I consider myself as something different from you, then I actually ceate myself as a prisoner. I simply consider I am one of the seven billion human beings. We are mentally, emotionally, intelectually are the same.” ~ Dalai Lama

Ajaran tentang cinta yang universal adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia pada saat ini. Jika kita mengingat darimana kita berasal, dan kemana tujuan kita, maka segenap tatanan kehidupan akan berubah.

Pengertian tentang asal adalah kecerdasan yang melampaui dunia fisik. Kecerdasan ini adalah berkah untuk melihat dengan mata spiritual, dan melahirkan kesadaran untuk menciptakan takdir kehidupan. Hal ini membantu dunia untuk mulai menciptakan tatanan yang bukan berasal dari kekuatan, melainkan cinta dan kebahagiaan.

Memilih Untuk Bahagia

People are so judgemental about appearance. Tidak mengejutkan hal itu justru semakin intens dalam bidang kesehatan, olahraga, bahkan yoga- yang seharusnya menjadi ruang yang berbicara tentang kesembuhan.

Kita harus mulai mengatasi ini dengan memahami bahwa persepsi yang muncul berawal dari pikiran. Pikiran adalah benih yang kuat, dan ketika benih itu disirami dengan keyakinan, maka sebuah pohon yang rimbun akan tumbuh dan menjelaskan diri kita.

Pastikan kita tidak tumbuh dalam lingkungan yang melihat dunia melalui ukuran, angka, dan prestasi. Tidak hanya pada tubuh tetapi juga materi. Hanya jiwa yang berani dan bersedia tidak diterima secara sosial, yang dapat bertahan dalam lingkungan tersebut, untuk menyampaikan pesan-pesan tentang kebenaran: bahwa kita secara mendasar adalah energi, dan pikiran adalah benih.

To be honest, dua tahun yang lalu saya tidak cukup berani untuk bertahan dan menyampaikan hal ini. Untuk itulah saya berhenti bekerja di bidang yang katanya adalah tentang ‘kesehatan’, namun pada kenyatannya hanya untuk ‘menyenangkan’ dan ‘menyetujui’ pikiran-pikiran salah yang dibangun oleh industri ini.

Let me tell you: industri semacam ini membangun ‘insecurities‘ melalui apa yang mereka coba yakinkan padamu tentang ‘kesempurnaan dan kekuatan’. Melalui postingan foto-foto yang mengintimidasi, ajakan, hingga iklan yang mempromosikan konsumerisme, semua hanya menjauhkanmu dari pilihan yang sebenarnya sangat sederhana dan bijaksana: untuk menjadi damai dan bahagia!

Itulah alasan mengapa saya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pusat-pusat gym dan studio yoga. Tentu saja saya tetap berlatih, dan saya tetap menyampaikan pentingnya latihan itu. Namun saya akan mengutamakan pesan yang lebih penting: bahwa latihanmu haruslah ditujukan untuk hal yang lebih esensial, kedamaiaan dan kebahagiaan jiwamu… Choose wisely, my dear.

“Modern life is becoming very unsatisfactory. It does not give you happiness. There are too many things, too many desires. More nice cars and dresses and entertainments—and more worries! Free yourself from these so-called “necessities”… There is no security anywhere in this world; at any time your consciousness may be forced to give up the body by disease or misfortune… In these days of struggle, it is very hard to attain God, for your days are spent in restless activities and business pursuits — which mean nothing in the end but loss of time, and unhappiness.

Perfection?

Sumber foto: trekearth.com

Mari kita kupas standar kecantikan yang selama ini ditetapkan oleh fashion, trend, fitness, produk kecantikan dan kesehatan, usia, ras, warna kulit, sampai budaya dunia.

Apakah manusiawi untuk menilai tampilan fisik manusia dan memberikan penilaian terhadapnya? Alih-alih melihatnya sebagai keanekaragaman yang perlu dirawat oleh kehidupan, standar yang dibuat ini telah merubah cara kita memandang diri sebagai pribadi yang berbeda dan unik satu sama lainnya.

Standar yang diciptakan tersebut mau tidak mau menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri kita, hingga pada akhirnya tak dapat dipungkiri- mengurangi rasa kasih dan saling mengayomi antar sesama. Kompetisi semacam ini samasekali tidak sehat dan mempengaruhi sikap mental. Bahkan kontes kecantikan dunia pun memperagakan model-model dengan tampilan yang hampir serupa, dengan tujuan dan attitude yang sudah diatur untuk kepentingan komersil. Betapa membosankan menyaksikan itu!

Kini coba bayangkan sebuah kontes kecantikan dimana ukuran tubuh, tinggi badan, atau bahkan- penyandang cacat dan autisme dapat memiliki kesempatan sama seperti orang-orang dengan kondisi lainnya. Sebuah kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagaimana sinarnya memancarkan

Saya yakin mereka yang selama ini terhalang oleh standar dan diperlakukan berbeda, akan sangat senang jika dapat mengikuti kontes yang terbuka, merasakan kemenangan dan kekalahan sebagaimana setiap orang dapat belajar darinya. Bukan berdasarkan ukuran tertentu, melainkan sebagaimana diri kita dapat bersinar apa adanya.

Tidak hanya dalam bidang ini, kompetisi seharusnya didorong untuk mengutamakan nilai-nilai yang membangun dunia, dimana kita berlomba-lomba untuk mengisinya dengan limpahan kreativitas. Tidakkah itu yang seharusnya menjadi spirit dalam kompetisi? Yaitu sebagai ajang penyemangat untuk penciptaan, sekaligus pencarian solusi akan isu-isu yang perlu diselesaikan.

Dengan tujuan yang murni, kompetisi semacam ini akan melahirkan jawaban atas kebutuhan umat manusia, baik dalam skala lokal maupun global. Dan pada akhirnya kompetisi dapat menjadi gerbang yang kondusif bagi siapapun untuk menjalankan misi hidupnya- tempat dimana kekuatan terbaiknya berada.

Coba kita telisik lagi slogan salah satu kompetisi kecantikan dunia: Beauty with purpose. Pertanyaannya, tujuan siapa? Sponsor yang menjunjung nilai-nilai konsumerisme dan menaungi lembaga-lembaga sosial dan mengemasnya sebagai kerja sosial?

Arrgh, pikirkanlah kembali makna beramal, dan jangan pernah mengukur dunia dengan standar yang ditetapkan oleh kemasan! Yang kita perlukan adalah menjadi lebih peka untuk melihat kondisi dunia yang sebenarnya, dan memberi kesempatan bagi jiwa yang dibimbing oleh kesejatian untuk menyembuhkan dunia.

Janganlah lagi menjadikan dunia sebagai panggung sandiwara, tetapi gunakan dan berikan panggung itu untuk mereka yang berani menyuarakan kebenaran dan menolong sesama. Gunakanlah keahlianmu agar orang-orang mengenali, dan mendatangimu atas manfaat mampu diberikan.

Makanan Di Atas Mejaku

Kadangkala kita lupa, bahwa kehadirat Tuhan amatlah nyata, bagaikan makanan yang tersedia di atas meja. Bahkan aku telah terlampau diberkati, sebab makanan di mejaku datang tanpa aku bersusah payah. Ia mengasihiku melalui kasih yang diberikan orangtuaku, kebaikan hati teman-temanku, saudaraku, bahkan dari mereka yang tidak kukenal- semata-mata membuktikan bahwa kasih adalah bahasa-Mu.

Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus bersusah payah untuk mendapatkan anugerah-Mu.
Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus berjalan dengan kakiku sendiri untuk menemukan-Mu.
Dan aku telah salah mengira, bahwa segala cobaan dan kesulitan adalah hukuman-Mu.

Engkau senantiasa hadir tanpa diminta, sebab kehidupan ini hanya bersumber dari kasih-Mu. Engkau melakukan berbagai cara untuk menjaga kehidupan ini, dan mewarnainya dengan wajah-wajah optimistime dan keceriaan. Engkau memberikan kepastian agar kami semua tumbuh dengan baik, dan tidak ada satupun makhluk yang tidak Kau perhatikan.

Sumber gambar: pixabay.

Tuhan, Kau-lah yang telah merubahku. Kau-lah yang telah menyejukkan hatiku, dan mendorongku untuk meminta anugerah keteguhan; dan Kau pun menghadiahiku anugerah kepercayaan.

Seluruh hati dan nuraniku mengenali bahwa semua itu berasal dari-Mu, sebabnya aku sendiri tak memiliki kuasa atas Terang. Terima kasih Tuhan… Terang dari segala Terang.

Beragama Adalah Menjadi Manusia

Bagaimana seharusnya seseorang beragama? Bagaimana kita dapat meletakkan agama sebagai elemen kehidupan yang damai dan tidak destruktif?

Agama dapat menjadi momok apabila ia digunakan sebagai identitas dan dogma, tetapi menjadi ‘hidup’ jika ia berubah menjadi sebuah pekerjaan. Pekerjaan seperti apa? Pekerjaan untuk mendandani, merawat, dan menjaga diri. Sebab agama bukan alat untuk menghakimi atau barang untuk disebarluaskan, tetapi hal pribadi untuk meningkatkan kualitas diri.

Sejatinya semua agama memiliki esensi yang sangat indah. Tidak ada satupun yang kurang untuk dikoreksi, juga tidak ada satupun yang menolak kehadiran semua dari kita. Dengan perbedaan atau tujuan universalnya, keterpisahan hanya terletak pada persepsi, dan agama akan selalu menjadi ruang untuk mendekat kepada Tuhan. Untuk itu siapa berani menghakimi dan tidak menerima sesamanya sebagai saudara? Sementara kita hidup di atas bumi dengan udara, matahari, dan semua elemen alam yang sama.

Sayangnya kemanusiaan tidak selalu menjadi yang utama, dan kepentingan pribadi atau golongan kadang melebihi daripada yang lainnya. Seharusnya kita selalu mengingat, bahwa jikapun pengabdian kepada-Nya telah terlaksana, semua menjadi sia-sia jika itu tidak bergerak menjadi energi hidup yang menyentuh hati manusia. Dan inilah rahasia tentang cara beragama: bahwa hubungan kepada Tuhan hanya akan tergenapkan dan terpuaskan melalui cinta kasih terhadap sesama.

Memang manusia dapat menjadi sangat manipulatif, tetapi dengan kekurangannya- selalu ada potensi tak terbatas yang dapat digali dan dipelajari satu sama lain. Itulah yang diajarkan oleh agama melalui nurani, ‘bagaimana kita melihat kehidupan’ dapat mengubah kimia beracun menjadi makanan yang memuaskan dahaga spiritual; dan hanya dengan belajar kita dapat mencapai kebijaksanaan menyeluruh.

Well, bisa saja kita mencintai pohon, binatang, lautan, dan bahkan Tuhan tanpa cela. Tetapi apa arti semua itu tanpa mencintai anak manusia, yang dihadirkan untuk mengajari dan membahagiakanmu. Dan inilah rahasia yang lainnya: Tuhan ingin kita berbahagia pada saat ini juga, tidak menunda untuk mewujudkan surga-Nya di atas bumi!

Kemanusiaan adalah jalur cepat untuk mencapai kemuliaan kolektif; dikarenakan kita telah diberi kuasa tak terbatas untuk berkarya dan menciptakan peradaban.

Uncle Iroh Wisdom

“You are not the man you used to be. You are stronger and wiser and freer than you ever used to be. And now you have come at the crossroads of the destiny. Its time for you to choose. Its time for you to choose good.” ~ Iroh to Zuko

Api adalah kekuatan. Elemen ini memiliki hasrat dan keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Tanah adalah elemen zat atau kepadatan, mereka beraneka ragam serta kuat. Mereka gigih dan mampu bertahan lama.

Udara adalah elemen kebebasan, mereka melepas diri dari ikatan duniawi dan menemukan kedamaian serta kebebasan. Juga memiliki selera humor yang tinggi.
Air adalah elemen perubahan, mereka mampu beradaptasi dalam banyak hal. Mereka memiliki dorongan untuk saling berkumpul, dan cinta membuat mereka menyatu untuk melalui segalanya.

Sangat penting untuk menarik kebijaksanaan dari berbagai tempat, sebab jika hanya menarik kesimpulan di salah satunya saja, maka itu akan menjadi kaku dan lemah. Memahami elemen lainnya akan membantumu mencapai penyatuan, dan itulah yang menghasilkan kekuatan sejati. ***

Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

The New Normal Is Unconditional Love

     Merasa sedih sepenuhnya wajar, tetapi merasa terpuruk apalagi mengasihani diri sendiri adalah bentuk ketidaksyukuran yang justru mengundang kemalangan hidup. Hukum semesta tidak pernah berhenti membaca pikiran dan vibrasi, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan ‘Tuhan maha tahu’ dan ‘maha mengabulkan permintaan manusia’. Masalahnya apakah cara kita meminta sudah tepat? Karena cara kita meminta tergambarkan dari kebiasaan, dan apa yang diminta dibaca melalui frekuensi.

     Frekuensi apa? Setiap sel dalam tubuh kita sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, atau percikan listrik yang dapat berubah menjadi gelombang. Darisinilah kita berkomunikasi dengan semesta, yakni kekuatan manifestasi itu sendiri, untuk menghadirkan yang non-fisik ke alam fisik. Hal yang mempengaruhi frekuensi terutama adalah pikiran, intensi, dan emosi. Karena itu pencapaian sangat berhubungan erat dengan kualitas kedisiplinan serta tingkat kesadaran.
    
     Lalu apa hubungannya pengantar di atas dengan ‘new normal‘- fase yang secara serempak dimasuki oleh dunia saat ini? Well, jika cukup jeli membaca situasi, pandemi telah membuka mata kita terhadap kejelasan akan dunia macam apa yang kita inginkan, lebih deep bahkan pada takdir kehidupan. Ini menjadi fase dimana kunci misi jiwa terbuka sehingga apa yang menunjang dan sudah usang menjadi terang: jenis dan pola kehidupan, karir, pasangan, semua sektor diobrak-abrik untuk dipertimbangkan kembali. Yeah, kapan lagi ada waktu mikirin semua itu kan?

     Pembatasan sistem dan interaksi sosial adalah pelajaran terbaik untuk lebih saling menghargai. Karena melaksanakan ‘protokol’ tidak lagi cukup, kita benar-benar harus jujur dalam membangun hubungan. Entah mendekat atau menjauh, masing-masing dari kita berhak untuk mengatur timeline-nya, demi relasi yang seimbang, demi kebangkitan dan pada akhirnya, cinta tanpa syarat.
    
     Secara personal kita juga perlu menimang dan berpikir matang sebelum bertindak: bahwa di setiap pikiran, aksara tertulis, ucapan, hingga perbuatan adalah getaran yang dicatat dalam buku semesta dan harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah kesempatan emas bagi para lightworker agar menyesuaikan getarannya dengan realitas yang lebih tinggi. Dan bukankah selama ini, itulah yang dinanti?
    
     Gerbang Aquarius telah terbuka, and this is the judgement. Sebuah zaman pembebasan diberikan untuk mereka yang memilih untuk menyelaraskan frekuensinya, dan sebaliknya dunia lama untuk mereka yang memilih tinggal. Ini adalah zaman dimana tidak ada lagi kekerasan, maka sebisa mungkin- semenjak dini, hancurkan seluruh ego sebagaimana makhluk suci phoenix membakar dirinya dan terlahir kembali dari bekas abunya.
    
     Melenyapkan kesengsaraan dari atas bumi, semua pekerjaan ini bukanlah pengorbanan, tetapi kesadaran. Dari gerbang yang disimbolkan dengan angka 1111 itu (the gate, ascension, kelimpahan dan anugerah yang terbuka), kita didorong untuk beranjak naik, sehingga semenjak saat ini juga setiap langkah (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah ujian. Kekuatan manifestasi dilipatgandakan (makna angka 2222), dan ini adalah untuk memeneuhi kebutuhan perjalanan pulang ke rumah.

Pada akhirnya new normal barangkali hanya sebuah istilah untuk menandai cara hidup pasca pandemi oleh pemerintah, namun tentu kita tahu bahwa inilah perjalanan mewujudkan surga di bumi. Jalan dan kebaruan itu adalah cinta tanpa syarat.

Kopi Hitam Pahit, Simbol Hidup Terlampau Manis

   Duduk di meja yang sama dimana saya rutin ngopi sambil mencari inspirasi untuk menulis, terlintas sebuah gambaran tentang fase hidup dimana kenikmatan tidak lagi terasa semanis gula-gula. Seolah ada penegasan bahwa gula justru merusak cita rasa ‘kopiku yang autentik’, kujadikan warna hitam dan sentuhan bau tanah yang mengepul di udara sebagai simbol kreativitas, bahkan kebahagiaan.

   Ah udara! Elemen ini menjadi simbol yang terhubung dengan keduniawian, mulai dari pikiran yang bergerak-gerak, hasrat, dan indera-indera yang menjadi gerbang pengalaman dunia. Ini mengingatkan saya pada nasehat sinandi Alas Ketonggo yang terkenal di Pulau Jawa. Singkatnya, fenomena Alas Ketonggo mewakili kehidupan buwana alit atau tubuh jasmani, yang harus ditaklukkan untuk kebaikan hidup kolektif. Inilah kunci dan pijakan dasar untuk dapat memahami tujuh alam kehidupan rohani, yang perlu dialami oleh siapapun yang menjadikan kehadirat Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan.

   Filosofi Jawa memang serba wingit alias sakral. Ajaran yang diturunkan melalui tradisi mulut ke mulut hanya dapat dimaknai dengan sempurna kala jiwa telah siap untuk terhubung dengan sumber sejati, sehingga ia menjadi ajaran hidup berpengaruh dalam keseharian.

Eling Lan Waspada

   Kembali ke kopi yang senantiasa menemani, energinya masih terasa kuat meski telah men-dingin seiring dengan suhu ruangan yang terserap oleh gelas. Saya mulai belajar minum kopi semenjak masuk dunia kerja, untuk menghindari rasa kantuk dan sebagai energy booster tentu saja.

   Seumur hidup pekerjaan ‘resmi’ saya adalah mengajar hatha yoga, atau yang lebih dikenal sebagai sebuah seni latihan perpaduan nafas, gerakan/postur tubuh, dan pikiran yang terkonsentrasi. Sebenarnya ada satu hal yang secara spesik menjadi sentral jika praktik ini dihubungkan dengan ajaran filosofis Jawa, yaitu eling lan waspada.

   Eling berarti menyadari sepenuhnya asal-usul kita. Ini adalah pesan bahwa manusia harus tahu dan sadar diri untuk selalu manembah marang Gusti, sebagai sumber karunia dan kasih sayang. Sementara waspada yang dimaksud adalah mampu dengan jelas membedakan antara terang dan gelap, selalu berhati-hati dalam menyaring dan menyikapi segala macam hal di dunia.

   Kesederhanaan ajaran Jawa menguatkan kesan oral tradition dimana seolah tersampaikan secara langsung oleh orang tua. Contoh lainnya seperti pepatah ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh, yang berarti jangan mudah takjub, jangan mudah kaget, dan jangan bersikap mentang-mentang. Ini berarti terdapat takaran dalam menanggapi dan menikmati dunia. Di alam yang dinamis dan senantiasa berputar ini, bersikaplah sebagaimana manusia yang tidak kekal, sejenak mampir untuk menggenapkan tugasnya.

   Hmm… Obrolan semakin berat dan kopi sudah hampir habis nih. Btw, dibandingkan kopi mesin, kopi tubruk adalah favorit saya. Selain bau tanah yang mengingatkan hasil kerja petani lokal, ada aroma kayu yang berasal dari sepertiga sendok teh bubuk kayu manis yang saya tambahkan. Betul, kayu manis sangat baik untuk menjaga kesehatan. Perpaduan ini seketika mengingatkan saya pada suasana hutan, dan rasa nyaman dihadirkan perlahan mengaktifkan pineal gland, titik yang terletak di tengah alis mata.