Lakshmi, Flow Of Prosperity

Shri Lakhsmi, the consort of Vishnu.

“Doamu mengenai finansial telah didengarkan dan dijawab. Ketuklah kekuatan manifestasi dengan cara berfokus pada kelimpahan, bukan pada rasa takut atau khawatir perihal keuangan. Kamu mendapatkan dukungan untuk melakukan upaya perubahan yang diingankan saat ini, maka itu visualisasi dan afirmasikan keinginan tersebut setiap hari. Kesejahteraan senantiasa mengaliri kehidupanmu, juga pada orang-orang yang kamu cintai.”

Lakshmi adalah dewi yang menaungi kesejahteraan serta membantu kita untuk mengatasi kekhawatiran finansial. Dengan kebajikannya, ia meyakinkan kita untuk maju dan mengetuk aliran finansial yang sesungguhnya terbuka bagi siapa saja. Ia mendorong kita agar bekerja keras, serta berani mengambil tindakan. Panggilah Beliau untuk mentransmutasi energi kekhawatiran menjadi aliran kesejahteraan.

Your prayers about finances have been heard and answered. Tap into your manifestation power by focusing on abundance instead of worrying about money. You have nothing to fear. A new flow of prosperity is supporting you and your loved ones. Everything is going to be OK, especially with respect to your finances. You have the support to make a desired life change right now. Visualize and affirm prosperity daily.”

Lakshmi is the Hindu goddess of prosperity who helps us overcome financial fears and tap into the river of abundance that is available to everyone. It is helpful to put a statue or painting of Lakshmi in the financial corner (according to Feng Shui principles, this is the left rear corner of your home or office as you stand looking inward from the front door). Call upon Lakshmi to help transmute money worries into financial flow.

~ Doreen Virtue, Ph.D

Hatiku Adalah Kesehatanku

Tubuh manusia memiliki kecerdasan yang luarbiasa. Setiap sel, organ, dan detail bagiannya bekerja secara mandiri bahkan tanpa diperintahkan oleh otak. Hidup hanya akan selalu terjadi, dengan atau tanpa keinginanmu!

Namun pikiran dan intensi memiliki daya yang besar, ia mampu mengembangkan kinerja hingga ke titik maksimal atau sebaliknya, menghancurkannya. Darisana kita dapat memahami bahwa ada bagian yang lebih penting daripada kesadaran ini; yaitu asal sumber, kekuatan, shakti yang mendorong terjadinya kehidupan itu, sesuatu  ingin selalu muncul dan berkembang.

Itulah yang disebut dengan Shiva dan Shakti dalam terminologi yoga. Keduanya adalah kualitas tentang keseimbangan dan realisasi Tuhan.

Seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatanmu, sebenarnya ditentukan oleh kekuatan hatimu. Seberapa besar cinta kasih yang dimiliki, menentukan kualitas pikiran dan kreativitas yang akan bekerja untuk mewujudkan keinginan. Itulah yang membedakanmu dengan makhluk lainnya, itulah yang meyakinkanmu bahwa manusia diciptakan serupa dengan-Nya.

Amaterasu, Shinto Goddess of the Sun and Mother Of All

Come out of the closet.”

Saatnya untuk mengungkapkan perasaan dan keyakinanmu yang sebenarnya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ini bisa jadi dengan melakukan pembicaraan yang terbuka dengan orang terdekat, atau mengizinkan orang lain untuk melihat warna sejatimu. Dalam proses ini kamu akan didukung secara spiritual, para ascended masters akan membantumu untuk menjadi sedemikian jujur. Sebagai hasilnya, setiap aspek hubunganmu akan menjadi lebih intens, sebab kamu tahu bahwa kamu dicintai apa adanya.

Lepaskan penilaian terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ungkapkanlah kebenaran tentang dirimu dengan cara cinta. Yakinlah bahwa nilai autentikmu sangat indah dan dihargai oleh dunia; dan semakin kamu mewujudkan nilai itu, vibrasimu meningkat dan menjadi magnet dari kesuksesan.

Amaterasu adalah Dewi Matahari dalam keyakinan Shinto, yaitu ia yang begitu bersinar sehingga orangtuanya mengirimnya ke surga, dimana ia dapat melimpahkan sinarnya ke dunia. Suatu waktu ia menjadi amat marah ketika saudara laki-lakinya, dewa badai, menghancurkan planet ini, hingga Amaterasu pun bersembunyi di dalam gua sebagai bentuk protes. Akibatnya, dunia berubah menjadi dingin dan gelap. Para dewa dan dewi pun berusaha datang membujuknya, namun tak ada satupun yang berhasil, hingga akhirnya mereka memasang cermin di pintu masuk gua.

Ketika Amaterasu melihat refleksi dirinya yang indah memantul dari cermin, ia keluar dari dalam gua, dan dunia pun kembali bercahaya. Panggilah Beliau tatkala dirimu membutuhkan keyakinan atas penghargaan terhadap diri sendiri, serta keberanian untuk mengungkapkan sejatinya dirimu pada dunia.

It is time for you to make your real feelings and beliefs known. This card asks you to reveal who you really are to yourself and others. This may involved having a heart to heart discussion with a loved one or allowing other people to see your true nature. You will be spiritually supported in this process, and the ascended masters will help you to be lovingly honest. As a result of coming out of the closet, your relationships will deepen because you will know that you are loved for who you really are.

Let go of judgements about yourself or others. Speak your truth with love. Allow others to get to know the real you. Trust that your authentic self is lovable and likeable. The more authentic you are, the higher the energy and success of all of your projects.”

Amerterasu is the Japanese Shinto Sun Goddess who was so bright and radiant that her parents sent her to Heaven, where she now shines down upon humanity. Amaterasu became upset when her brother the storm god was demolishing the planet, so she hid herself in a cave in protest, and the world grew cold and dark. The other gods tried everything to coax her out. Nothing worked until they finally put a mirror at the cave entrance.

When Amaterasu saw her bright and beautiful reflection, she finally came out of the cave. You can call upon Amaterasu to increase your self-esteem and to reveal your true self to others.

~ The Ascended Masters Oracle Card deck by Doreen Virtue, Ph.D

The Violet Flame

Api ungu adalah sumber asal peremajaan. Ia melarutkan energi negatif yang terperangkap diantara atom dan sel sehingga kita dapat terbebaskan dan sepenuhnya mewujudkan kelilahian, serta memenuhi tujuan hidup kita.

Kualitas api suci ini benar-benar merupakan obat universal yang dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan dalam level kesadaran, keberadaan, serta dunia. Diabadikan sebagai api kebebasan untuk siklus dua ribu tahun mendatang oleh Master Saint Germain, nyala api transmutasi ungu ini memungkinkan kita untuk meraih pembebasan dari segala bentuk ketergantungan yang terjadi pada manusia.

The violet flame is the original fountain of youth. It dissolves the negative energy that is trapped as substance between atoms and cells so we can be free to become the fullness of God, and fulfill our life’s purpose.

This quality of the sacred fire is truly the universal unguent that we can apply for the healing of our entire consciousness, being, and world. Enshrined as the freedom flame for the coming two thousand-year cycle by the Master Saint Germain, the violet transmuting flame enables us to win our freedom from every form of human bondage.

Invocation:
I AM a being of Violet Fire
I AM the purity God desires!

Memilih Untuk Bahagia

People are so judgemental about appearance. Tidak mengejutkan hal itu justru semakin intens dalam bidang kesehatan, olahraga, bahkan yoga- yang seharusnya menjadi ruang yang berbicara tentang kesembuhan.

Kita harus mulai mengatasi ini dengan memahami bahwa persepsi yang muncul berawal dari pikiran. Pikiran adalah benih yang kuat, dan ketika benih itu disirami dengan keyakinan, maka sebuah pohon yang rimbun akan tumbuh dan menjelaskan diri kita.

Pastikan kita tidak tumbuh dalam lingkungan yang melihat dunia melalui ukuran, angka, dan prestasi. Tidak hanya pada tubuh tetapi juga materi. Hanya jiwa yang berani dan bersedia tidak diterima secara sosial, yang dapat bertahan dalam lingkungan tersebut, untuk menyampaikan pesan-pesan tentang kebenaran: bahwa kita secara mendasar adalah energi, dan pikiran adalah benih.

To be honest, dua tahun yang lalu saya tidak cukup berani untuk bertahan dan menyampaikan hal ini. Untuk itulah saya berhenti bekerja di bidang yang katanya adalah tentang ‘kesehatan’, namun pada kenyatannya hanya untuk ‘menyenangkan’ dan ‘menyetujui’ pikiran-pikiran salah yang dibangun oleh industri ini.

Let me tell you: industri semacam ini membangun ‘insecurities‘ melalui apa yang mereka coba yakinkan padamu tentang ‘kesempurnaan dan kekuatan’. Melalui postingan foto-foto yang mengintimidasi, ajakan, hingga iklan yang mempromosikan konsumerisme, semua hanya menjauhkanmu dari pilihan yang sebenarnya sangat sederhana dan bijaksana: untuk menjadi damai dan bahagia!

Itulah alasan mengapa saya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pusat-pusat gym dan studio yoga. Tentu saja saya tetap berlatih, dan saya tetap menyampaikan pentingnya latihan itu. Namun saya akan mengutamakan pesan yang lebih penting: bahwa latihanmu haruslah ditujukan untuk hal yang lebih esensial, kedamaiaan dan kebahagiaan jiwamu… Choose wisely, my dear.

“Modern life is becoming very unsatisfactory. It does not give you happiness. There are too many things, too many desires. More nice cars and dresses and entertainments—and more worries! Free yourself from these so-called “necessities”… There is no security anywhere in this world; at any time your consciousness may be forced to give up the body by disease or misfortune… In these days of struggle, it is very hard to attain God, for your days are spent in restless activities and business pursuits — which mean nothing in the end but loss of time, and unhappiness.

Perfection?

Sumber foto: trekearth.com

Mari kita kupas standar kecantikan yang selama ini ditetapkan oleh fashion, trend, fitness, produk kecantikan dan kesehatan, usia, ras, warna kulit, sampai budaya dunia.

Apakah manusiawi untuk menilai tampilan fisik manusia dan memberikan penilaian terhadapnya? Alih-alih melihatnya sebagai keanekaragaman yang perlu dirawat oleh kehidupan, standar yang dibuat ini telah merubah cara kita memandang diri sebagai pribadi yang berbeda dan unik satu sama lainnya.

Standar yang diciptakan tersebut mau tidak mau menumbuhkan jiwa kompetisi dalam diri kita, hingga pada akhirnya tak dapat dipungkiri- mengurangi rasa kasih dan saling mengayomi antar sesama. Kompetisi semacam ini samasekali tidak sehat dan mempengaruhi sikap mental. Bahkan kontes kecantikan dunia pun memperagakan model-model dengan tampilan yang hampir serupa, dengan tujuan dan attitude yang sudah diatur untuk kepentingan komersil. Betapa membosankan menyaksikan itu!

Kini coba bayangkan sebuah kontes kecantikan dimana ukuran tubuh, tinggi badan, atau bahkan- penyandang cacat dan autisme dapat memiliki kesempatan sama seperti orang-orang dengan kondisi lainnya. Sebuah kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagaimana sinarnya memancarkan

Saya yakin mereka yang selama ini terhalang oleh standar dan diperlakukan berbeda, akan sangat senang jika dapat mengikuti kontes yang terbuka, merasakan kemenangan dan kekalahan sebagaimana setiap orang dapat belajar darinya. Bukan berdasarkan ukuran tertentu, melainkan sebagaimana diri kita dapat bersinar apa adanya.

Tidak hanya dalam bidang ini, kompetisi seharusnya didorong untuk mengutamakan nilai-nilai yang membangun dunia, dimana kita berlomba-lomba untuk mengisinya dengan limpahan kreativitas. Tidakkah itu yang seharusnya menjadi spirit dalam kompetisi? Yaitu sebagai ajang penyemangat untuk penciptaan, sekaligus pencarian solusi akan isu-isu yang perlu diselesaikan.

Dengan tujuan yang murni, kompetisi semacam ini akan melahirkan jawaban atas kebutuhan umat manusia, baik dalam skala lokal maupun global. Dan pada akhirnya kompetisi dapat menjadi gerbang yang kondusif bagi siapapun untuk menjalankan misi hidupnya- tempat dimana kekuatan terbaiknya berada.

Coba kita telisik lagi slogan salah satu kompetisi kecantikan dunia: Beauty with purpose. Pertanyaannya, tujuan siapa? Sponsor yang menjunjung nilai-nilai konsumerisme dan menaungi lembaga-lembaga sosial dan mengemasnya sebagai kerja sosial?

Arrgh, pikirkanlah kembali makna beramal, dan jangan pernah mengukur dunia dengan standar yang ditetapkan oleh kemasan! Yang kita perlukan adalah menjadi lebih peka untuk melihat kondisi dunia yang sebenarnya, dan memberi kesempatan bagi jiwa yang dibimbing oleh kesejatian untuk menyembuhkan dunia.

Janganlah lagi menjadikan dunia sebagai panggung sandiwara, tetapi gunakan dan berikan panggung itu untuk mereka yang berani menyuarakan kebenaran dan menolong sesama. Gunakanlah keahlianmu agar orang-orang mengenali, dan mendatangimu atas manfaat mampu diberikan.

Beragama Adalah Menjadi Manusia

Bagaimana seharusnya seseorang beragama? Bagaimana kita dapat meletakkan agama sebagai elemen kehidupan yang damai dan tidak destruktif?

Agama dapat menjadi momok apabila ia digunakan sebagai identitas dan dogma, tetapi menjadi ‘hidup’ jika ia berubah menjadi sebuah pekerjaan. Pekerjaan seperti apa? Pekerjaan untuk mendandani, merawat, dan menjaga diri. Sebab agama bukan alat untuk menghakimi atau barang untuk disebarluaskan, tetapi hal pribadi untuk meningkatkan kualitas diri.

Sejatinya semua agama memiliki esensi yang sangat indah. Tidak ada satupun yang kurang untuk dikoreksi, juga tidak ada satupun yang menolak kehadiran semua dari kita. Dengan perbedaan atau tujuan universalnya, keterpisahan hanya terletak pada persepsi, dan agama akan selalu menjadi ruang untuk mendekat kepada Tuhan. Untuk itu siapa berani menghakimi dan tidak menerima sesamanya sebagai saudara? Sementara kita hidup di atas bumi dengan udara, matahari, dan semua elemen alam yang sama.

Sayangnya kemanusiaan tidak selalu menjadi yang utama, dan kepentingan pribadi atau golongan kadang melebihi daripada yang lainnya. Seharusnya kita selalu mengingat, bahwa jikapun pengabdian kepada-Nya telah terlaksana, semua menjadi sia-sia jika itu tidak bergerak menjadi energi hidup yang menyentuh hati manusia. Dan inilah rahasia tentang cara beragama: bahwa hubungan kepada Tuhan hanya akan tergenapkan dan terpuaskan melalui cinta kasih terhadap sesama.

Memang manusia dapat menjadi sangat manipulatif, tetapi dengan kekurangannya- selalu ada potensi tak terbatas yang dapat digali dan dipelajari satu sama lain. Itulah yang diajarkan oleh agama melalui nurani, ‘bagaimana kita melihat kehidupan’ dapat mengubah kimia beracun menjadi makanan yang memuaskan dahaga spiritual; dan hanya dengan belajar kita dapat mencapai kebijaksanaan menyeluruh.

Well, bisa saja kita mencintai pohon, binatang, lautan, dan bahkan Tuhan tanpa cela. Tetapi apa arti semua itu tanpa mencintai anak manusia, yang dihadirkan untuk mengajari dan membahagiakanmu. Dan inilah rahasia yang lainnya: Tuhan ingin kita berbahagia pada saat ini juga, tidak menunda untuk mewujudkan surga-Nya di atas bumi!

Kemanusiaan adalah jalur cepat untuk mencapai kemuliaan kolektif; dikarenakan kita telah diberi kuasa tak terbatas untuk berkarya dan menciptakan peradaban.

Uncle Iroh Wisdom

“You are not the man you used to be. You are stronger and wiser and freer than you ever used to be. And now you have come at the crossroads of the destiny. Its time for you to choose. Its time for you to choose good.” ~ Iroh to Zuko

Api adalah kekuatan. Elemen ini memiliki hasrat dan keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Tanah adalah elemen zat atau kepadatan, mereka beraneka ragam serta kuat. Mereka gigih dan mampu bertahan lama.

Udara adalah elemen kebebasan, mereka melepas diri dari ikatan duniawi dan menemukan kedamaian serta kebebasan. Juga memiliki selera humor yang tinggi.
Air adalah elemen perubahan, mereka mampu beradaptasi dalam banyak hal. Mereka memiliki dorongan untuk saling berkumpul, dan cinta membuat mereka menyatu untuk melalui segalanya.

Sangat penting untuk menarik kebijaksanaan dari berbagai tempat, sebab jika hanya menarik kesimpulan di salah satunya saja, maka itu akan menjadi kaku dan lemah. Memahami elemen lainnya akan membantumu mencapai penyatuan, dan itulah yang menghasilkan kekuatan sejati. ***

Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

The New Normal Is Unconditional Love

     Merasa sedih sepenuhnya wajar, tetapi merasa terpuruk apalagi mengasihani diri sendiri adalah bentuk ketidaksyukuran yang justru mengundang kemalangan hidup. Hukum semesta tidak pernah berhenti membaca pikiran dan vibrasi, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan ‘Tuhan maha tahu’ dan ‘maha mengabulkan permintaan manusia’. Masalahnya apakah cara kita meminta sudah tepat? Karena cara kita meminta tergambarkan dari kebiasaan, dan apa yang diminta dibaca melalui frekuensi.

     Frekuensi apa? Setiap sel dalam tubuh kita sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, atau percikan listrik yang dapat berubah menjadi gelombang. Darisinilah kita berkomunikasi dengan semesta, yakni kekuatan manifestasi itu sendiri, untuk menghadirkan yang non-fisik ke alam fisik. Hal yang mempengaruhi frekuensi terutama adalah pikiran, intensi, dan emosi. Karena itu pencapaian sangat berhubungan erat dengan kualitas kedisiplinan serta tingkat kesadaran.
    
     Lalu apa hubungannya pengantar di atas dengan ‘new normal‘- fase yang secara serempak dimasuki oleh dunia saat ini? Well, jika cukup jeli membaca situasi, pandemi telah membuka mata kita terhadap kejelasan akan dunia macam apa yang kita inginkan, lebih deep bahkan pada takdir kehidupan. Ini menjadi fase dimana kunci misi jiwa terbuka sehingga apa yang menunjang dan sudah usang menjadi terang: jenis dan pola kehidupan, karir, pasangan, semua sektor diobrak-abrik untuk dipertimbangkan kembali. Yeah, kapan lagi ada waktu mikirin semua itu kan?

     Pembatasan sistem dan interaksi sosial adalah pelajaran terbaik untuk lebih saling menghargai. Karena melaksanakan ‘protokol’ tidak lagi cukup, kita benar-benar harus jujur dalam membangun hubungan. Entah mendekat atau menjauh, masing-masing dari kita berhak untuk mengatur timeline-nya, demi relasi yang seimbang, demi kebangkitan dan pada akhirnya, cinta tanpa syarat.
    
     Secara personal kita juga perlu menimang dan berpikir matang sebelum bertindak: bahwa di setiap pikiran, aksara tertulis, ucapan, hingga perbuatan adalah getaran yang dicatat dalam buku semesta dan harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah kesempatan emas bagi para lightworker agar menyesuaikan getarannya dengan realitas yang lebih tinggi. Dan bukankah selama ini, itulah yang dinanti?
    
     Gerbang Aquarius telah terbuka, and this is the judgement. Sebuah zaman pembebasan diberikan untuk mereka yang memilih untuk menyelaraskan frekuensinya, dan sebaliknya dunia lama untuk mereka yang memilih tinggal. Ini adalah zaman dimana tidak ada lagi kekerasan, maka sebisa mungkin- semenjak dini, hancurkan seluruh ego sebagaimana makhluk suci phoenix membakar dirinya dan terlahir kembali dari bekas abunya.
    
     Melenyapkan kesengsaraan dari atas bumi, semua pekerjaan ini bukanlah pengorbanan, tetapi kesadaran. Dari gerbang yang disimbolkan dengan angka 1111 itu (the gate, ascension, kelimpahan dan anugerah yang terbuka), kita didorong untuk beranjak naik, sehingga semenjak saat ini juga setiap langkah (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah ujian. Kekuatan manifestasi dilipatgandakan (makna angka 2222), dan ini adalah untuk memeneuhi kebutuhan perjalanan pulang ke rumah.

Pada akhirnya new normal barangkali hanya sebuah istilah untuk menandai cara hidup pasca pandemi oleh pemerintah, namun tentu kita tahu bahwa inilah perjalanan mewujudkan surga di bumi. Jalan dan kebaruan itu adalah cinta tanpa syarat.

Penakluk Kegelapan

Manusia dilahirkan dengan dualitas, terang dan gelap akan selalu menjadi pendamping hingga akhir perjalanan kehidupan. Tentu Tuhan menciptakan hal ini untuk kebaikan, agar kita dapat terus belajar dan berkembang, sebagaimana hidup sejatinya adalah pergerakan.

Terang bisa diartikan dengan bakat, hidup yang berkelimpahan, keberuntungan, optimisme, dan sukacita. Sementara gelap adalah ketidakberdayaan, dendam, kekecewaan, sikap mengasihani diri sendiri, serta kehancuran. Kedua kekuatan ini bekerja tanpa henti untuk berebut kuasa atau dominasi dalam diri, hingga manusia harus selalu melibatkan peran Tuhan, dengan cara menjadi partner pencipta-Nya, alias co-creator di dunia.

Untuk itu saya membuat sebuah jurnal jiwa, yang juga dapat diikuti oleh teman-teman semua sebagai upaya dan langkah penyembuhan. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa manusia lahir dengan konseskuensi dualitas, maka salah satu misi yang dibawanya adalah misi penyembuhan.

Entah itu penyembuhan luka batin yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk serta trauma masa lalu (baik diri sendiri maupun orang lain), lingkungan, hingga planet bumi. Kelompok yang mengemban misi terakhir dikenal dengan sebutan Lightworker, atau Ksatria Cahaya. Mereka bergerak di berbagai lingkup kehidupan seperti politik, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain sebagainya, dengan cara mendobrak sistem lama dan memberi contoh untuk penciptaan sistem baru yang berbasis cahaya. Tentu sebelum melakukan penyembuhan skala besar ini, para Lightworker telah diuji terlebih dahulu melalui pengalaman hidupnya. Dan dengan mengetahui cara untuk bangkit, ia pun dapat menolong orang lain dan bumi dalam proses penyembuhan.

Jurnal jiwa ini sebenarnya berfungsi sebagai catatan transformasi yang juga dapat digunakan sebagai terapi, terutama untuk pelepasan jalur lama yang tidak lagi mendukung perkembangan jiwa. Melepaskan adalah cara membuka diri terhadap peluang baru, sehingga mengundang apa yang selayaknya menjadi realitas. Lalu apa saja yang dikerjakan dalam jurnal ini?

Pertama, sadari dan tuliskanlah sisi-sisi gelap dalam diri. Rasa kurang, benci, iri hati, pesimis, hingga sikap menghakimi. Tulislah dengan lapang dada sebagaimana kita ingin meletakkan masalah di atas meja, sebagai bentuk kesediaan untuk mengatasinya.

Tahap ini akan menjadi pelajaran penting bahwa semua persepsi buruk yang muncul tentang dunia sesungguhnya bersumber dari sisi gelap kita sendiri. Alasan mengapa seseorang dengan keras menghakimi orang lain misalnya, adalah bentuk rasa tidak aman, ketidakpuasan, dan kekecewaan.

Membedah sisi gelap diri bisa menjadi momentum yang sangat melegakan sekaligus menakutkan. Disini kita membutuhkan kekuatan doa sebagai pelebur, terutama untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kadang mungkin akan terasa sangat sulit untuk memaafkan, namun yakinlah bahwa dengan doa, kita dianugerahi kekuatan untuk mampu melakukannya.

“Berdoalah dengan percaya diri layaknya Ia orang paling dekat dalam hidupmu! Dia akan menoleh dalam sapaan pribadi yang dekat, bukan sikap layaknya budak.”

Pada akhirnya, proses ini bertujuan untuk membawa kedamaian dengan menerima sisi gelapmu. Jadikanlah ia sebagai alarm yang melindungi, kala pikiran gelap mencoba untuk menguasai. Pahamilah kehadiran dari entitas ini, dan biarkanlah ia melakukan tugasnya di bawah kendali kuasa cahaya.

Jadilah penakluk kegelapan.

Bersambung…