Konsultasi Tarot

Mulai September 2020 saya menerima klien yang ingin dibacakan kartu tarot. Pembacaan termasuk kategori fun dan bisa juga spiritual. Hasil reading akan dikirim dalam bentuk tulisan, maksimum 7 hari.

Untuk pembayaran, dapat dilakukan via bank transfer dengan promo price: 200k (dari normal price 250k) selama bulan September, untuk detail reading mengenai satu topik/aspek kehidupan. Jumlah klien dibatasi, agar hasil bacaan lebih fokus dan akurat, memberikan kecerahan serta perluasan pandangan sesuai kebutuhan.

Kirim permintaan kamu ke: winniemacheline@gmail.com

Love and blessings!

Raja Yoga

Krishna memberitakan injil mengenai Atman yang abadi kepada pemujanya, Arjuna, dalam perang di Kurukshetra. Ia mengatakan jika Atman yang merupakan pancaran Ketuhanan dalam diri manusia sepenuhnya disadari, dan menjadi dasar dari keberadaan- maka penderitaan akan lenyap, digantikan oleh kedamaian mutlak.

Itulah yang disebut penyatuan, tatkala roh manusia (Jivatman) melakukan kontak dengan roh universal (Paramatman). Jika seseorang mencapai keadaan luhur ini, maka ia tak perlu takut akan kematian, sebab Roh Kudus dapat menjelma dengan sendirinya, dimanapun, dengan sesuka hati.

Krishna mengajarkan ilmu rahasia ini pada Arjuna di zaman Dwapara Yuga, yaitu era sebelum zaman keemasan, Satyayuga. Kemudian datang Patanjali yang membuat ajaran ini menjadi sistematis, yang dikenal dengan istilah Raja yoga. Semua ini bukanlah fiksi- seperti kisah tentang Yesus Kristus, Sang Putra yang berasal dari Sang Bapa atau Brahman. Orang-orang suci lainnya seperti Eliah dan Kabir pun menggunakan teknik yang sama. Inkarnasi terkemuka lainnya yang telah mencapai keadaan ini adalah Babaji, yang telah membawa kembali Kriya- nama lain untuk Raja Yoga, sebagai jalan mistik rahasia menuju penyatuan yang sempat menghilang di zaman kegelapan.

The Kingdom Of God

Dalam mitologi Hindu, Krishna dilahirkan di dunia untuk memulihkan keseimbangan di dunia. Tradisi Hindu juga memercayai bahwa Yesus, seperti Krishna, adalah seorang avatar lainnya yang datang ke dunia untuk menunjukkan jalan kebenaran pada kemanusiaan. Ini adalah salah satu kesamaan dimana keduanya adalah manusia sekaligus makhluk ilahi.

Krishna dan Yesus sama-sama dijuluki sebagai penyelamat dan avatar, yang datang pada saat dunia membutuhkan pemulihan kesadaran. Mereka adalah inkarnasi Tuhan yang hidup sebagai manusia, agar dapat menjangkau dan mengajarkan cinta ilahi, kekuatan sejati, serta kebijaksanaan ilahi yang relevan dan dapat diikuti oleh setiap orang.

Krishna mengatakan: “I am the way, come to Me…Neither the multitude of gods nor great sages knows my origin, for I am the source of all the gods and great sages.” Hal yang sama juga diutarakan oleh Yesus: “I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me. If you really knew me, you would know my Father as well…

Raja Yoga sebagai jalan megah menuju penyatuan, adalah ajaran untuk merealisasikan kerajaan Tuhan di dalam diri. Tema inilah yang menjadi penghubung ajaran Barat dan Timur. Yesus dan Krishna sama-sama menyerukan bahwa Kerajaan Allah yang kekal, kesadaran kosmis, berada di dalam diri setiap manusia.

Hal ini pada akhirnya untuk mengungkapkan bahwa mekanisme besar tentang semesta, dapat diobservasi melalui apa yang terjadi pada tubuh, pikiran, dan energi dalam diri kita sendiri. Ringkasnya, apa yang terjadi pada diri ini adalah serpihan kejadian yang sama yang terjadi pada semesta.

Universal Love

“If I consider myself as something different from you, then I actually ceate myself as a prisoner. I simply consider I am one of the seven billion human beings. We are mentally, emotionally, intelectually are the same.” ~ Dalai Lama

Ajaran tentang cinta yang universal adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia pada saat ini. Jika kita mengingat darimana kita berasal, dan kemana tujuan kita, maka segenap tatanan kehidupan akan berubah.

Pengertian tentang asal adalah kecerdasan yang melampaui dunia fisik. Kecerdasan ini adalah berkah untuk melihat dengan mata spiritual, dan melahirkan kesadaran untuk menciptakan takdir kehidupan. Hal ini membantu dunia untuk mulai menciptakan tatanan yang bukan berasal dari kekuatan, melainkan cinta dan kebahagiaan.

The Meeting


Sembari mempertahankan kesunyian yang membingungkan, orang suci itu mendekati dan dengan lembut mengetuk dahiku. Melalui sentuhan magis itu, sebuah arus menakjubkan menyapu otakku dan melepaskan ingatan-ingatan manis dari kehidupan masa lalu.

Aku ingat! Dengan suara yang tertahan oleh isak tangis gembira, aku berkata: “Kau adalah guruku Babaji, yang selalu menjadi tujuanku! Bayangan masa lalu telah muncul dengan jelas, dan aku tahu di gua inilah kuhabiskan beberapa tahun di akhir inkarnasiku!” Saat ingatan itu dengan kuat membanjiri seluruh pikiranku, dengan penuh airmata kugapai kaki guru-ku.

“Lebih dari tiga dekade aku telah menunggu disini- menunggumu untuk kembali padaku!” Suara Babaji mendengungkan alunan cinta surgawi.

“Kau pergi menyelinap dalam gelombang hiruk-pikuk dunia setelah kematianmu. Tongkat sihir karma menyentuhmu, dan kau pun menghilang! Meski kau kehilangan ingatan tentang diriku, namun aku tak pernah melupakanmu! Aku mengejarmu dalam lautan cahaya astral tempat dimana para malaikat berlayar. Melalui kegelapan, badai, pergolakan dan cahaya aku mengikutimu, seperti induk burung yang menjaga anaknya.”

“Saat kau menjalani kehidupan manusiamu di dalam rahim, dan muncul sebagai seorang bayi manusia, tak pernah sekalipuan aku mengalihkan perhatianku. Di masa kecil, ketika kau menutup tubuhmu dalam postur lotus di bawah pasir Nadia, aku hadir tanpa terlihat. Dengan sabar, bulan demi bulan, tahun ke tahun, aku terus menyaksikanmu, menanti hari yang sempurna ini. Dan kini kau disini bersamaku!”

“Inilah guamu, yang dicintai sejak dulu. Aku telah menjaganya tetap bersih dan layak untukmu. Ini selimut suci untukmu ber-asana, dimana kau pernah duduk setiap hari untuk mengisi hatimu yang meluas dengan kelilahian. Peganglah mangkukmu, darimana kau biasa meminum nektar yang kupersiapkan untukmu. Lihatlah bagaimana aku telah menjaga gelas kuningan itu agar terpoles berkilau, agar supaya kamu dapat meminumnya lagi darisana! Anakku, apakah kau sekarang mengerti?”

As I maintained a bewildered silence, the saint approached and struck me gently on the forehead. At his magnetic touch, a wondrous current swept through my brain, releasing the sweet seed-memories of my previous life.

“I remember!’ My voice was half-choked with joyous sobs. ‘You are my guru Babaji, who has belonged to me always! Scenes of the past arise vividly in my mind; here in this cave I spent many years of my last incarnation!’ As ineffable recollections overwhelmed me, I tearfully embraced my master’s feet.

“For more than three decades I have waited for you here-waited for you to return to me!’ Babaji’s voice rang with celestial love. ‘You slipped away and vanished into the tumultuous waves of the life beyond death. The magic wand of your karma touched you, and you were gone! Though you lost sight of me, never did I lose sight of you! I pursued you over the luminescent astral sea where the glorious angels sail. Through gloom, storm, upheaval, and light I followed you, like a mother bird guarding her young. As you lived out your human term of womb-life, and emerged a babe, my eye was ever on you. When you covered your tiny form in the lotus posture under the Nadia sands in your childhood, I was invisibly present! Patiently, month after month, year after year, I have watched over you, waiting for this perfect day. Now you are with me! Lo, here is your cave, loved of yore! I have kept it ever clean and ready for you. Here is your hallowed asana-blanket, where you daily sat to fill your expanding heart with God! Behold there your bowl, from which you often drank the nectar prepared by me! See how I have kept the brass cup brightly polished, that you might drink again there from! My own, do you now understand?’

~ Mahavatar Babaji to Lahiri Mahasaya.

Kisah Adiyogi Di Pegunungan

Pada saat Adiyogi gagal memenuhi keinginan kekasih jiwanya, ia naik ke puncak gunung Velliangiri dengan perasaan sedih, dan berdiam disana untuk waktu yang lama. Hingga hari ini energinya masih tertinggal di pegunungan itu, namun ia tidak melakukan meditasi yang menggembirakan, melainkan duduk disana dan larut dalam kesedihan.

Keputusasaan ini berangsur-angsur berubah menjadi kemarahan, sebuah kemarahan besar yang tak berarah dan tanpa tujuan, muncul oleh sikap tak berdaya terhadap keterbatasan. Kemarahan ini pada waktunya tumbuh menjadi lautan energi yang mampu menelan semua keterbatasan itu sendiri, hingga pada akhirnya, menjadikannya sebagai entitas yang tertinggi.

Dalam tradisi, dimanapun Adiyogi pernah tinggal dalam jangka waktu yang lama, tempat itu disebut sebagai Kailash. Itulah mengapa pegunungan Velliangiri kini disebut sebagai Kailash dari Selatan, sebab energinya yang mahadashyat telah menetap disana, sehingga sejumlah yogi pun mengikutinya, dan melahirkan cerita-cerita tentang para mistik yang berada di tempat itu selama ribuan tahun.

Sesungguhnya tak ada keramahan dalam meditasi Adiyogi, melainkan keganasan yang sangat intens. Intensitas itu memiliki kemungkinan yang luarbiasa, dimana hanya sedikit manusia yang pernah berhubungan dengan dimensi itu. Jika saja pernah, akan sangat sulit untuk diterima dalam kehidupan sosial, dan menyampaikannya pada dunia. Kebanyakan orang hanya ingin melihat keilahian dari sisi yang lembut, dan tak mampu menahan bentuk dari getaran tinggi yang sangat intens. Bahkan di masa lalu, ketika para yogis dari pegunungan Velliangiris turun, mereka menyebut Adiyogi dengan Shambo- yaitu wujud Adiyogi yang sangat lembut- sesuatu yang sebenarnya sangat jarang, sebab Shiva biasa diasosiasikan dengan keliaran.

Dengan menyebut nama Shambo, para yogis sebenarnya mencoba untuk melembutkan serta meredam energi intens dari pegunungan ini sehingga dapat befungsi bagi dunia. Kata Shambo berarti ‘yang begitu baik’, biasa diucapkan ‘Shiva Shambo’ secara bersamaan. Ia disebut begitu bukan karena lambang kehancuran yang dimilikinya, tetapi karena ia telah dihancurkan!

Getaran nama Shambo sebenarnya dirancang untuk menyalakan api yang berguna untuk membangunkan manusia hingga kesadarannya tak tertidur lagi- bahkan kematian pun tak dapat melenyapkan kesadaran itu. Shambo bukan hanya sekedar kata, melainkan sebuah kata sandi akan keberadaan.

Sebagai yogi yang telah disentuh oleh getaran dari ketinggian pegunungan Velliangiri, tujuan utama dalam hidup ini hanyalah untuk membiarkan anugerah dari gunung itu mengalir ke seluruh sisi lembah dan kaki bukit- hingga membanjiri planet ini.

Dikutip dari tulisan Sadhguru, “The Kailash Of The South”.

Memilih Untuk Bahagia

People are so judgemental about appearance. Tidak mengejutkan hal itu justru semakin intens dalam bidang kesehatan, olahraga, bahkan yoga- yang seharusnya menjadi ruang yang berbicara tentang kesembuhan.

Kita harus mulai mengatasi ini dengan memahami bahwa persepsi yang muncul berawal dari pikiran. Pikiran adalah benih yang kuat, dan ketika benih itu disirami dengan keyakinan, maka sebuah pohon yang rimbun akan tumbuh dan menjelaskan diri kita.

Pastikan kita tidak tumbuh dalam lingkungan yang melihat dunia melalui ukuran, angka, dan prestasi. Tidak hanya pada tubuh tetapi juga materi. Hanya jiwa yang berani dan bersedia tidak diterima secara sosial, yang dapat bertahan dalam lingkungan tersebut, untuk menyampaikan pesan-pesan tentang kebenaran: bahwa kita secara mendasar adalah energi, dan pikiran adalah benih.

To be honest, dua tahun yang lalu saya tidak cukup berani untuk bertahan dan menyampaikan hal ini. Untuk itulah saya berhenti bekerja di bidang yang katanya adalah tentang ‘kesehatan’, namun pada kenyatannya hanya untuk ‘menyenangkan’ dan ‘menyetujui’ pikiran-pikiran salah yang dibangun oleh industri ini.

Let me tell you: industri semacam ini membangun ‘insecurities‘ melalui apa yang mereka coba yakinkan padamu tentang ‘kesempurnaan dan kekuatan’. Melalui postingan foto-foto yang mengintimidasi, ajakan, hingga iklan yang mempromosikan konsumerisme, semua hanya menjauhkanmu dari pilihan yang sebenarnya sangat sederhana dan bijaksana: untuk menjadi damai dan bahagia!

Itulah alasan mengapa saya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pusat-pusat gym dan studio yoga. Tentu saja saya tetap berlatih, dan saya tetap menyampaikan pentingnya latihan itu. Namun saya akan mengutamakan pesan yang lebih penting: bahwa latihanmu haruslah ditujukan untuk hal yang lebih esensial, kedamaiaan dan kebahagiaan jiwamu… Choose wisely, my dear.

“Modern life is becoming very unsatisfactory. It does not give you happiness. There are too many things, too many desires. More nice cars and dresses and entertainments—and more worries! Free yourself from these so-called “necessities”… There is no security anywhere in this world; at any time your consciousness may be forced to give up the body by disease or misfortune… In these days of struggle, it is very hard to attain God, for your days are spent in restless activities and business pursuits — which mean nothing in the end but loss of time, and unhappiness.

Pentingnya Hari Purnama

Bulan adalah satelit yang secara tak terbendung melakukan perputarannya di planet ini. Hal yang penting dari fakta ini adalah, jika seseorang secara mental terganggu di hari purnama, maka di saat bulan mati ia pun menjadi lebih terganggu dari biasanya.

Ketika berada dalam posisi tertentu, bulan akan memperkuat seperti apapun dirimu pada saat itu. Jika kau penuh cinta, gembira, dan kebahagiaan, maka semua dari itu akan ditambahkan. Sebaliknya jika kau sedikit terganggu dan tidak stabil, maka semua itu juga akan diperkuat.

Yang  terserap dalam meditasi, akan menyelam lebih dalam lagi, keberadaan bulan meningkatkan apapun intensi yang ada dalam diri. Maka kita menjadikan hari ini sebagai hari yang penting, dimana secara sadar kita menciptakan kualitas terbaik dari diri agar supaya ditingkatkan. Kita secara sengaja mengaturnya, dan membiarkan diri terseret dalam letupan-letupan yang muncul secara tak tersadarkan itu. Untuk itu bulan tidak menjadi baik atau buruk- ia hanya memperkuat jati diri yang terungkapkan pada saat itu.

Sementara di biara zen orang-orang duduk di bawah pohon dan menikmati bulan, purnama menjadi simbol yang sangat dekat dengan Gautama Buddha. Hal-hal penting yang berkaitan dengannya seperti kelahiran, pencerahan, dan ajaran Buddha, diturunkan pada hari tersebut.

The moon is a satellite for this planet and helplessly strung to this planet and making its rounds. So, what is the significance? Probably many of you know that if someone is mentally disturbed on a full moon day, on a new moon day they get little more disturbed than usual.

When the moon takes certain positions it heightens whatever you are. If you are loving you become more loving. If you are joyful you become more joyful. If you are blissful you become much more blissful. If you are little insane you become much more insane. If you are meditative you become far more meditative. It just enhances everything that you are. So, we considered these days important so that you consciously create the right kind of quality in you so that it gets enhanced.

~ Sadhguru, An Opportunity To Rise

Kriya Yoga

Kriya yang berasal dari kata ‘kri‘ berarti aksi atau tindakan. Ia memiliki akar yang sama dengan kata karma, yaitu hukum sebab-akibat. Namun kebalikan dari karma sebagai konsekuensi dari keberadaan ruang dan waktu- sehingga melahirkan pergerakan dan siklus kehidupan, kriya adalah sebuah upaya internal: energi.

Ini menjelaskan mengapa kriya yoga disebut sebagai instrumen untuk mempercepat evolusi kesadaran manusia. Bahkan seorang kriyaban disebut dapat terbebas dari hukum karma. Dengan mengontrol pikiran secara langsung melalui energi vital, metode yoga ini dianggap paling mudah dan scientific, dimana darah manusia mengalami dekarbonasi (mengeluarkan zat arang) dan diisi kembali oleh oksigen. Atom dari oksigen ekstra tersebut akan bertransmutasi menjadi energi kehidupan yang berfungsi untuk meremajakan otak dan pusat-pusat tulang belakang (medullary, cervical, dorsal, lumbar, sacral, dan coccygeal plexuses). Bagi yogi yang sudah advanced, mereka dapat mengubah sel-sel tubuh menjadi energi murni, materi dan bukan materi- sesuai keinginan mereka.

Lalu bagaimana hal ini dapat terjadi? Para yogi menemukan bahwa rahasia kesadaran kosmik terletak pada penguasaan nafas. Secara mental, energi vital diarahkan naik dan turun melintasi pusat-pusat tulang belakang- efeknya secara langsung pada tubuh halus dan mempengaruhi evolusi kesadaran.

Jika pada umumnya manusia terikat oleh maya atau hukum alam, dimana energi vital mengalir ke arah luar sehingga menjadi terbuang oleh sensor inderawi- kriya membalik aliran itu ke dalam- menuju semesta di dalam diri. Dengan pengendalian itu, tubuh dan sel-sel otak diperbarui.

Sejarah Kriya Yoga

Seteleh hilang selama berabad-abad di zaman kegelapan, kriya yoga diperkenalkan kembali di zaman modern ini oleh Mahavatar Babaji. Mungkin karena alasan inilah, yakni sebagai garis pengawal yang masih hidup dan mengamati perkembangan dunia, ia dijuluki Mahavatar. Teknik yang sama diperkenalkan oleh Krishna pada Arjuna, juga diadaptasi oleh Buddha, Patanjali, Kristus, serta murid-muridnya seperti St. John dan Paul.

Babaji lalu mengajarkannya pada Lahiri Mahasaya, yang lalu meminta salah seorang murid dari Mahasaya yaitu Swami Sri Yukteswar Giri (1855-1936) untuk melatih Paramahansa Yogananda, dimana beliaulah yang kemudian mengungkapkan teknik kuno ini kepada dunia.

Kepada muridnya Lahiri Mahasaya, Babaji pernah berkata: “kriya yoga pada akhirnya akan menyebar di semua negeri, dan membantu menyelaraskan bangsa-bangsa melalui persepsi transendental pribadi Bapa yang tak terbatas.”

The Destroyer

Membicarakan Shiva sesungguhnya sangat berkaitan dengan apa dan bagaimana mekanisme semesta. Sederhananya, apapun yang terjadi pada semesta ini dapat dilacak rekam kesamaannya pada diri kita. Sebuah kisah yang scientific sekaligus indah, mistik dan juga menggembirakan. Dengan ragam wajah, nama, dan fungsinya, sains kuno bernama yoga memberi petunjuk melalui simbol dan cerita.

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Siwa adalah ‘sang pelebur‘, dimana ia melenyapkan maya. Meski realita dunia adalah ‘nyata’, namun seringkali kita tidak melihat kenyataan itu sebagaimana adanya. Pikiran, persepsi, dan drama psikologis adalah hukum alam yang ‘melapisi’ tingkat kejernihan dan kewaspadaan ini.

Hukum alam itu disebut karma- dimana dari sumber yang sama, lahir ruang dan waktu, pergerakan dan siklus, gravitasi dan relativitas- segala hal yang menaungi alam raya ini. Oleh karena itu spiritualitas dibutuhkan untuk membangun tanggungjawab terhadap apa yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan baui. Sebab pada akhirnya semua itu adalah karma milik kita sendiri.

Sadar atau tidak, segala aktivitas yang ditangkap melalui indera-indera menciptakan apa yang disebut takdir. Itulah mengapa spiritualitas mengajarkan kita untuk bersikap ‘aktif’ (berupaya)- agar senantiasa ‘bergerak’ (menuliskan karma) dengan penuh tanggungjawab. Inilah perbedaan karma dan kriya!

Meski memiliki akar kata yang sama yaitu ‘upaya’ dan ‘tindakan’, karma merupakan tindakan eksternal, sesuatu yang terikat dengan siklus kehidupan- sementara kriya adalah tindakan internal yang bebas dari siklus perputaran tersebut. Pemahaman ini menegaskan bahwa Siwa- atau para avatar yang diutus ke dunia, tidak datang ke dunia untuk mendesain ‘agama’ atau doktrin tertentu. Secara nyata para entitas suci ini mengungkapkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk menuliskan takdir kita sendiri. Bahkan kemampuan itu dapat mengantarkan kita pada apa yang telah mereka capai.

Ketika sistem lama/ maya telah dihancurkan, maka spiritualitas tidak berupaya untuk mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan keyakinan baru. Spiritualitas yang autentik mengajarkan bahwa apa yang kita lihat sebagai kekosongan itulah merupakan ‘kecerdasaan yang tak tertandingi’- kecerdasan yang sama dengan asal mula seluruh semesta ini dimunculkan.

Ruang itu disebut dengan ‘pencerahan’ atau ‘pembebasan’. Shiva mendorong kita untuk melihat hal paling fundamental semenjak awal, karena hanya itulah yang dapat sepenuhnya meruntuhkan keterbatasan. Ia mengajak kita untuk menjadi sepenuhnya berani dan bertanggungjawab, sekarang dan saat ini juga!

Self Realization

Sumber gambar: jeyamohan.in

Ribuan manifestasi kristus yang turun belum tentu dapat mencerahkan. Tetapi dengan memilih untuk hidup dalam kristus, yakni dengan memperluas kesadaran hingga mengalami kontak yang nyata dalam indahnya meditasi, maka itulah ‘kedatangan Kristus yang kedua’.

Perjalanan para avatar memberi contoh dan bukti, bahwa kesempatan ini terbuka bagi manusia di dunia. Sebuah petunjuk yang nyata bahwa ketidakmurnian dapat dimurnikan, dan kekacauan yang terjadi dapat berubah menjadi keindahan dan sukacita.

Para avatar adalah jembatan diantara langit dan bumi, dengan mengajarkan ketidakterpisahan/kesatuan, serta universalitas. Ada satu hal yang menyentuh dari perjalanan para avatar, yakni cinta yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan. Ini adalah ungkapan tak terdeskripsi ketika vibrasi sang avatar selaras dengan kesadaran kosmis; hingga apapun yang dilakukannya, sesungguhnya adalah karya dari entitas tertinggi itu sendiri.

Melalui sumber yang sama, cinta itu mengalir dan digandakan pada setiap upaya sang avatar bagi manusia, agar mencapai kesadaran yang sama. Dalam hal ini, kita tidak dipandu untuk menjadi pengikut atau pelayan yang setia; melainkan seorang kawan yang mencintai satu sama lainnya, dan mengetahui seluk-beluk perjalanan transformasi diri serta kemungkinan-kemungkinan tentang pencapaiannya.

“As the Father has loved me, so have I loved you. Now remain in my love. If you keep my commands, you will remain in my love, just as I have kept my Father’s commands and remain in his love. I have told you this so that my joy may be in you and that your joy may be complete. My command is this: Love each other as I have loved you.
Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends. You are my friends, if you do what I command. I no longer call you servants, because a servant does not know his master’s business. Instead, I have called you friends, for everything that I learned from my Father I have made known to you.
You did not choose me, but I chose you and appointed you so that you might go and bear fruit – fruit that will last—and so that whatever you ask in my name the Father will give you. This is my command: Love each other.” ~ John 15:9-17

Apa itu Self Realization?

Secara poetik, kita menjulukinya dengan ‘jembatan menuju kebahagiaan abadi’. Sebab itulah yang dicapai ketika seseorang mengetahui kebenaran, dan menyadari seluruh potensi dirinya.

Dalam keyakinan siwaisme, self realization adalah pencapaian tertinggi, yakni ‘mengetahui kebenaran Siwa’. Ada yang menyebutnya dengan asamprajnata samadhi, yaitu ‘terserap dalam kesadaran seutuhnya’ di kala sang yogi telah melihat kesatuan, keterhubungan, dan kesempurnaan yang meliputi seluruh penciptaan; Sementara Raja yoga menyebut ‘nirvikalpa samadhi‘ untuk hal yang sama.

Paramahnsa Yogananda, pendiri organisasi Self-Realization Fellowship dan seorang guru kriya yoga, menjelaskan bahwa self realization merupakan kesadaran meyeluruh di dalam tubuh, pikiran, dan jiwa. Bahwa keberadaan kita sendiri sesungguhnya merupakan kemahahadiran Tuhan, dan di setiap saatnya, tidaklah sekalipun kita pernah terpisah dari-Nya.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna pernah menyampaikan bahwa melalui self realization, manusia akan menemukan kebijaksanaan sejati- pada saat ini dan sekarang juga, sebagaimana ia merupakan puncak dari pengetahuan- memiliki julukan sebagai raja ilmu pengetahuan, dan esensi dari dharma (agama). Ia menyebut bahwa self realization adalah yoga, ‘penyatuan’ dengan kebenaran secara menyeluruh.

Seorang devotee yang melakukan yoga, akan mengalami esensi ‘kesatuan’ melalui kebijaksanaan intuitif yang menyusup dari kedalaman misteri ilahi. Dengan demikian sang yogi menjadi tahu dan menyadari bahwa ia memiliki kualitas ketuhanan- dan oleh karenanya, ia tinggal di dunia dengan tetap menjaga kesadaran akan asal-usulnya, dan menghindari segala ikatan yang delusif.