The Purpose Of Yoga (2)

“Prostating first to the guru, Yogi Swatmarama instructs the knowledge of hatha yoga only for the highest state of yoga (raja yoga).” ~ Hatha Yoga Pradipika, Chapter 1, Verse 2

Sujud pada Sang Guru (Sri Adinath), Yogi Swatmarama menginstruksikan pengetahuan hatha yoga sebagai jalan mencapai raja yoga.

Dengan memberikan penghormatan pada guru sebagai awal, Yogi Swatmarama menegaskan bahwa dirinya hanya berfungsi sebagai alat transmisi bagi pengetahuan yang akan diberikan. Hatha yoga saat ini banyak digunakan sebagai sarana pemulihan kesehatan, juga untuk memperkuat dan memperindah tubuh- sesuatu yang sebenarnya pasti didapat sebagai ‘efek samping’ latihan. Juga menjadi kebutuhan untuk membantu banyak orang, karena sains tidak mampu memberi jawaban yang mengakar terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental. Namun sebagai yogi, kita tidak melihatnya dengan sepintas, lalu menjadikan ini sebagai tujuan utama.

Kita tahu bahwa kesehatan tubuh dan mental saja tidak pernah cukup, sebab setiap orang adalah makhluk spiritual yang tidak berhenti di titik tertentu- tetapi berevolusi dan sepatutnya mengalami kebangkitan. Artinya yoga tidak hadir sebagai pengetahuan kuno yang menjawab problematika manusia di satu musim saja, tetapi di setiap musim dengan setiap tantangannya. Kita tidak dianjurkan untuk berhenti setelah mencapai kesehatan tubuh fisik, melainkan dituntut untuk terbebaskan darinya, serta melampaui aspek-aspeknya yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan.

Dengan teknik pelatihan hatha yoga, potensi pada tubuh dan mental seseorang akan meningkat secara signifikan. Diketahui bahwa otak manusia secara umum hanya digunakan sepersepuluh dari keseluruhan kapasitasnya, sementara lainnya tertidur, dan sains menyebutnya ‘silent area’. Sangat sedikit yang diketahui tentang area yang tertidur ini, namun sejumlah neurologis mengutarakan bahwa ini berhubungan dengan potensi supranatural.

Setelah latihan yang sulit dan panjang, potensi ini akan termanifestasi biasanya dalam wujud clairvoyance, clairaudience, clairsentience, telepati, telekinesis, psychic healing, dan lainnya. Wujud potensi inilah yang disebut siddhis. Sejumlah orang menganggapnya sebagai pencapaian yang besar, namun sebaliknya, ini hanyalah efek samping dan justru dapat menghambat perkembangan spiritual. Karena pada dasarnya tujuan latihan spiritual adalah untuk menemukan dan merasakan spirit universal di dalam diri.

Sebagaimanapun hebatnya perubahan dan buah-buah yang didapatkan, ingatlah bahwa manfaat terapetik, pencapaian duniawi, hingga kekuatan psikis bukanlah alasan dan tujuan hatha yoga yang diajarkan selama ribuan tahun. Dan barangsiapa yang melakukan yoga untuk tujuan-tujuan tersebut, tidak akan pernah berhasil menemukan kebebasan, dan tersesat dalam fluktuasi sensasi dan keinginan yang datang silih berganti.

HYP, Chapter 1, Verse 3

The Highest state of raja yoga is unknown due to misconceptions (darkness) created by varying ideas and concepts. In good will and as a blessing, Swatmarama offers light on hatha yoga.

Puncak dari raja yoga tidak diketahui oleh karena kesalahpahaman dari berbagai gagasan dan konsep. Untuk itu dengan berkat dan tujuan yang baik, Swatmarama menghadirkan pencerahan dalam hatha yoga.

Pencapaian tertinggi dari keseluruhan latihan spiritual adalah kaivalya, yang juga merupakan titik puncak dari raja yoga. Dalam  penggalan syair di atas, Swatmarama-  sebagai yang telah tercerahkan, dengan rendah hati memberi instruksi hatha yoga yang sistematis dan lebih mudah bagi kebanyakan orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s