Story Of The Yogi Christ: The Message

Sumber gambar: etsy.com

Sudah lama kita tidak bertemu, Baba. Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan membuatku ingin melupakanmu- yang tak kunjung hadir di saat-saat sulit. Ada kemarahan yang mendorongku untuk melenyapkan memori tentangmu. Tetapi di saat aku lupa samasekali, kau kembali…

“Ah ya… Lihat! Aku menemukan baju baru… Bagaimana menurutmu?”

Kau tersenyum lebar seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, sambil memamerkan baju dengan warna yang lebih cerah dari biasanya. Itulah dirimu, seketika menjadi murni seperti bayi. Waktu berlalu semenjak pertemuan kita, hari-hari tanpa nasehat yang menenangkan darimu.

“Mengapa terjadi penundaan dalam hidup kita, Baba? Apa yang diinginkan Tuhan dengan membiarkan kita menunggu?”

Burung-burung beterbangan di atas langit, berpulang sebelum matahari tenggelam, membuat kesedihanku seketika membuncah ke atas.

“Yang buruk tidaklah selalu seperti yang terlihat, Sananda. Seringkali menunggu menjadi terasa karena kita tidak memahami mekanismenya, atau cara untuk mengisinya. Meski tentu saja, tantangan adalah sesuatu yang nyata.”

“Jika saja orang ingin berpikir demikian, maka menunggu adalah sesuatu yang tidak riil. Hanya sepenggal demi sepenggal petualangan yang mematangkan.

“Ah ya, hanya sepenggal,” kataku lirih.

“Aku sedang bergelut dengan dualitas yang semakin nyata, seolah iblis dan malaikat benar-benar berperang untuk turut menentukan keputusanku.”

Kau menyimak dengan seksama, raut wajahmu tidak berubah. Matamu berbinar dengan semangat namun tidak liar- mengisyaratkan pemahaman dan kesediaanmu untuk selalu mendengarkan.

Tak lama, kau rogoh tasmu yang juga baru, sambil mengeluarkan sesuatu yang sangat familiar: kantong teh, termos tanggung, dan dua buah gelas stainless. Sambil mulai menatanya dan berujar, “Kegelapan… Perjumpaan  dengannya adalah pengalaman yang sangat berharga. Wajah mereka yang jelas akan menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya, dan bagaimana caramu untuk menghadapinya. Tanpa gula?”

Aku mengangguk.

“Di satu sisi aku ingin menyerang, mengungkapkan kebenaran. Namun itu bukan diriku, itu bukan sifat dan keyakinanku.”

Kau mulai menyeduh teh dengan perlahan. Tanganmu seolah menyatu dengan peralatan  yang terawat seperti baru.

“Di dalam hati, aku selalu menginginkan kedamaian. Aku mendambakan cara-cara yang lembut dan tenang untuk mengakhiri peperangan. Tetapi aku bingung,” kataku.

“Yang kaubutuhkan saat ini adalah ketahanan dan kebijaksanaan untuk melangkah dengan tepat. Kau sudah melakukannya dengan sangat baik, Sananda. Kini saatnya menikmati sedikit kesegaran.”

Kuraih gelas stainless berisi teh hijau yang kau sodorkan padaku. Aroma hangat dan rasa pahit di akhir kecapan mengingatkanku bahwa kedamaian bukan selalu canda tawa, tetapi juga keheningan, yang seringkali menenggelamkanku dalam kesepian.

Kemana saja kau pergi selama ini, Baba? Aku bisa merasakan bahwa kemanapun itu, kau memiliki pertarungan yang tidak biasa. Kau tampak lebih tegar dari yang dulu kukenal, seolah duniamu telah hancur tak bersisa- dan tak ada lagi yang kau inginkan darinya. Kini, kau datang dan menyirami dunia dengan benih-benih harapan. Mengapa kau datang padaku sekarang, Baba?

“Katakan padaku, berapa lama lagi aku harus bersembunyi dari permukaan?”

Meski semenjak dulu aku sangat ingin tahu rencana-rencanamu, tak sekalipun aku pernah menanyakannya. Kusimpan dan kukumpulkan rasa penasaranku, berharap suatu waktu dapat menanyakannya- mungkin jika perang sudah usai.

“Sananda, meski tampaknya tidak begitu, tetapi langkah ini bukan sepenuhnya keputusan kita. Ada banyak intervensi dan perdebatan yang panjang, sebelum keputusan yang tampak mudah itu datang melaluimu. Terutama karena adanya desakan untuk mengembalikan dunia pada titik keseimbangan.”

“Jika sudah saatnya, keputusan itu akan datang menghampiri seperti sebuah serangan, dan kau tak bisa menolaknya. Kau sudah meminta, kau sudah mempersiapkan diri dengan baik, maka pada akhirnya ia akan datang.”

“Beberapa kali aku berpikir untuk kembali ke tempat darimana aku berasal. Tempat yang menawarkan kenikmatan, tetapi tidak dengan kedamaian.”

Kau tersenyum dan sinarmu menyatu dengan cahaya matahari sore yang keemasan.

“Aku senang kau memilih kebahagiaan, Sananda. Dan caramu untuk meraihnya akan sangat istimewa.”

“Kau sudah berubah. Jiwamu membutuhkan sesuatu yang baru, sebuah tindakan.”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya, “Apa yang dapat kulakukan?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Ahh! Kau masih saja seperti dulu, hidupmu terlalu banyak bercandanya! Sampai-sampai ketika orangtuaku mempermalukanmu di depan umum dan mengusirmu dari istana pun, kau tetap tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal dengan hangat padaku.

Aku tidak menjawab, menunggumu melanjutkan.

“Sananda, Raja di Negeri Yang Baru, berkelanalah denganku. Temukanlah keteguhan dalam tantangan demi tantangan, dan hiduplah sesuai panggilanmu.”

Dan aku melonjak dari atas tempat tidur. Suaramu begitu nyaring, semua terasa nyata seolah-olah kau sendirilah yang telah mengirimkan pesan ini padaku. Tentu saja, ini adalah pesan darimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s