The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s