Satyayuga

Januari 2019. Kala itu angin bertiup kencang sepanjang hari, diiringi sedikit hujan. Beberapa pohon tumbang, tak kuasa menahan kuatnya angin yang bertiup dari arah Selatan. Berita tentang gempa dan gunung meletus ramai menghiasi surat kabar digital, yang kali ini bahkan juga mengguncang Suwarnadwipa- nama lain dari Pulau Sumatera yang berarti Pulau Emas, juga Celebes atau Sulawesi, yang semuanya masih bagian dari Kepualaun Sunda Besar.

Kuperhatikan titik-titik aktivitas alam di peta yang tersimpan di selulerku. Lekukan pulau-pulau nan eksotis dalam berbagai ukuran, serta rentetan gunung yang berjejer segaris terlihat mencolok di peta. Sambil duduk di samping meja yang berdampingan dengan jendela kamar, kubayangkan jika memang yang terlihat dan tercatat saja sudah semenakjubkan ini, bagaiamana dengan yang tidak terlihat dan belum terjelajahi?

Aku lalu membuka mesin pencari dan mengetik ‘krakatau’ sebagai kata kunci. Muncul sebuah gambar kota dengan sentuhan futuristic yang menarik perhatianku. Bangunan-bangunan yang membentuk lingkaran serta tanda cross di tengahnya. Bagian ujung bawahnya memanjang seolah menjadi penghubung antara tempat tersebut dengan sebuah tempat yang lain. Di bawahnya tersemat sebuah tulisan puitis yang cukup panjang tentang negeri itu:

Setelah akhir dari peradaban Induk Negeri Surgawi- yakni pada saat Gunung Toba meletus, dengan bantuan sejumlah tokoh dan para Sang Hyang, jalur-jalur baru terbuka, diaktifkan, sehingga munculah Negeri Surgawi yang Sesungguhnya. Sang Legenda yang termashyur, diagung-agungkan saentro dunia.

Kala itu suhu bumi menurun dan terjadilah musim dingin global pertanda zaman baru. Negeri inilah satu-satunya yang berlimpah dan gemilang.Tanah subur dengan sawah bertingkat nan luas, pohon-pohon kelapa yang melambai memberi kesejukan. Di tepi pantai berdiri karang-karang dan tebing yang gagah, ombak-ombak pun dengan cantik membenturkan diri ke dindingnya.

Jutaan burung di angkasa menghaturkan nyanyian persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kicauannya membangunkan jutaan makhluk dari tidurnya!

Bersamaan, mentari muncul memberi sinar kuning di atas tanah yang cokelat dan pada dedaunan. Terang benderang. Subur sejahtera. Mata berbinar dengan keberanian yang berbalut kedamaian. Di sore hari pun keindahan yang lain menampilkan kemashyurannya. Kilau oranye dan ungu di ufuk barat mengayun menenangkan, tanda petualangan baru yang menawarkan ungkapan tentang rahasia-rahasia. Rahasia yang sampai hari ini masih hidup dalam hati jiwa-jiwa yang pernah mencicipinya. Yakni tentang kerajaan yang menguasai seluruh alam raya. Semua kerajaan yang pernah ada bergabung dengan sukarela, tunduk pada satu-satunya pemimpin tunggal yang absolut.

Betulkah induk peradaban dunia berasal dari negeri kita, kampung halaman ini? Sesaat aku terhanyut dalam imajinasi yang memperluas data-data di otakku melalui simbol dan mitos, yang memang digunakan sebagai alat pengakses untuk mengungkap pesan-pesan leluhur.

Merah dan putih. Simbol warna ini dipercaya sebagai penyatu seluruh pulau dan lautan di permukaan bumi, sekaligus merupakan simbol Siwa dan Sakti, yang dipersonifikasikan sebagai gunung dan lautan yang memberi kehidupan di permukaan. Tanda-tanda langit pun dengan cermat terkodekan melalui struktur dan relief candi-candi, yang jumlahnya ratusan dan bahkan masih banyak lagi yang belum digali, tertimbun bersama legenda dan anomali.

Hal ini adalah petunjuk mengenai negeri ini yang dahulu pernah dihuni oleh sebuah peradaban maju, dengan teknologi serta pengetahuan yang mengungkap cerita semesta. Ada yang menyebutkan bahwa ‘pengaburan’ dan penutupan akses memang selama ini sengaja dilakukan oleh leluhur, untuk melindungi tanah ini dari kerusakan yang lebih parah.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membangun kembali dan mewujudkan zaman emas yang pasti akan terjadi adalah mengakses kesadaran leluhur. Mencari kebenaran masa lalu untuk membangun lagi dengan kekuatan saat ini. Kenyataannya, Nusantara yang pernah jaya sudah hancur dan tak akan kembali, tapi zaman emas yang cemerlang dan dibasuh oleh pengalaman dan kebijaksaan sedang dikerjakan saat ini.

Satu tanggapan untuk “Satyayuga

Tinggalkan Balasan ke Layangseta Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s