Fokus

Bom di tempat ibadah atau dgn membawa nama kelompok/agama/etnis tertentu, semua hanya untuk menciptakan kebencian dan keterpisahan antar sesama manusia.

Kemanusiaan- tidak ada hubungannya dengan ras, keyakinan, budaya, atau identifikasi apapun. Semua yang ada di dalam diri manusia jelas berbeda, dan itu adalah KEKAYAAN yang ingin dikurangi oleh makhluk yang telah hilang rasa kemanusiaannya.

IGNORE IT.

Musuh kita hanya satu: tatanan dunia dengan satu pemerintahan, globalisme. Atau yg dalam literatur keagamaan dsbt dengan sistem dajjal, antichrist; yang berciri manis di luar, suka menolong, suka meniru dan bersembunyi di balik jubah.

Aktivasi DNA: Transformasi Jiwa-Raga

Ada sejumlah orang ketakutan seolah tidak bisa lari dari kewajiban vaksin. Mengapa sangat takut? Bersikaplah seperti seorang yg memiliki, peduli, dan merawat diri.

Jika selama ini hal itu tidak pernah terjadi, bangunlah hubungan yang lebih erat dengan setiap bagian tubuh ini, hingga pada sel-selnya. Jadilah lebih ingin tahu terhadap sifat-sifat alaminya.

Lakukan excercise untuk membangun kesadaran, bukan repetitif seperti mesin. Makan atau tidak samasekali sesuai permintaan tubuh- dan perhatikan perbedaan antara kebutuhan, dengan keinginan yang terbangun secara psikologis.

Jadilah seorang pemimpin yang bijaksana untuk memutuskan ‘lingkungan’ di dalam diri. Pastikan mereka bahagia, sehingga mampu menjaga kinerjanya dan beregenerasi.

Dengan demikian, kita akan sigap mengetahui apapun yang bersifat merusak, dan terutama level kesadaran melalui pilihan yang kita buat.

Apa poinnya jika kita hanya lahir, bertumbuh, lalu pelan-pelan mati?

Itu sama saja tidak belajar untuk menjalin kontak dengan instrumen yang telah kita bawa semenjak lahir ini. Tidak ada niatan untuk bertumbuh bersamanya, padahal tubuh ini berfungsi untuk memperluas manifestasi, sebagaimana tangan saya berguna untuk membuat tulisan ini!

Rayakanlah individualitasmu hingga pada akar-akarnya, sehingga kamu menjadi manusia yang kokoh, nyata, dan senantiasa berenergi. Bernergi berarti memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan, dan membuatnya menjadi permata di dunia.

Ini adalah contoh manusia yang telah membuka simpul-simpulnya, dan melakukan kontak dengan energi ilahi. Bagaimana bisa energi itu menua, sekarat, dan mati?

Kita hanya merayakan transfromasi demi transformasi, dan hidup pun menjadi kekayaan yang tak ternilai.

God Is In My Heart

Cukup satu alasan mengapa setiap manusia harus melarikan diri dari pemrograman: kita tidak hadir disini untuk menderita.

Lihatlah apakah semua yang diberitahukan kepadamu- tentang apa yang benar dan salah, yang harus dan tidak seharusnya- apakah semua dapat menolongmu atau bahkan relevan dengan kehidupan?

Tidak. Hidup terlalu kompleks untuk diterjemahkan dengan cara seperti itu.

Semua hanya memberitahu agar kita harus terus-menerus menyenangi orang lain, menyenangi masyarakat melalui aturan-aturannya, tetapi tidak pada diri sendiri. Dunia tidak peduli dengan fase pertumbuhan manusia, lalu memaksa kita untuk bersikap lemah lembut. What the f*ck?

Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena kita hanya dapat memahami cinta sejati dengan cara menyelami diri sendiri. Dengan lebih mendengarkan kata hati, se-absurd apapun itu.

Jika hanya mengikuti permainan yang ditawarkan oleh dunia, sudah pasti akibatnya adalah sakit jiwa raga. Akan ada terlalu banyak tekanan yang tercipta di dalam, seperti deras air dalam pipa yang sengaja ditutup.

Maka biarkanlah hati berekspresi tanpa dimanipulasi oleh fluktuasi pikiran, sehingga kita mampu menghadirkan dunia yang sebenar-benarnya.

Setiap dari kita sudah memiliki jawaban mengenai apa yang harus dilakukan, maka ikutilah. Penuhi kebutuhan untuk mengalami fase-fase kehidupan, karena transformasi adalah jalur yang harus dilewati untuk merealisasikan kebenaran.

Tips Sehat Zaman Dunia Terbalik

Ketika manusia dikurung di rumah karena harus takut pada virus, maka…

🔥 Tidak menggunakan masker krn darah dan otak membutuhkan aliran energi murni yg dihantarkan oleh oksigen. Bukan CO2.

🔥 Tidak mengurung diri di rumah dan aktif bercengkrama dengan sesama. Bersentuhan, bersalaman, berpelukan, terbukti meningkatkan hormon bahagia dan imun tubuh.

🔥 Tidak melakukan tes rapid dan PCR sebab alat tersebut tidak dapat mendeteksi virus, melainkan kadar keasaman/ph, dan jika dalam kondisi sakit maka disebut asidosis metabolik. Artinya selama ini telah terjadi salah diagnosa, dan sakit apa saja kalau dites menggunakan alat itu ya jadinya positif covid.

🔥 Tidak divaksin agar tubuh tidak perlu repot” mencerna aluminium dan bahan kimia yg berbahaya serta merusak tubuh. Vaksin justru menjadikan tubuh rentan sakit, berisiko cacat hingga kematian.

🔥 Dan yang utama adalah: Tidak terlalu menghiraukan keberadaan Virus Sars-Cov-2, karena ada sangat banyak organisme di planet ini, dan selama ini kita hidup berbarengan. Jadi tanyalah mengapa tiba-tiba ia berubah ‘ganas’ dan menjadi brand ambassador dari sebuah plandemik?

Pembebasan Bumi

Perlahan dan pasti dunia akan BANGKIT dan MERDEKA. Kita sedang dalam proses itu, sehingga banyak kejutan dan letupan yang tak terbendung, sehingga momentum kebangkitan bagaikan estafet dan arahnya pun kian jelas.

Yang bodoh dan terus berargumen tentang kebodohannya, abaikan. Karena peleburan adalah sesuatu yang pasti.

Kita disini untuk menyalakan api bagi mereka yang sedang terjebak dalam sistem. Kolaborasi pengetahuan (kesadaran) langit dan bumi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi.

I AM That.

Kebangkitan Jiwa, Kebangkitan Garuda

Adalah bodoh jika kita menunggu orang lain untuk datang menyelamatkan kita. Kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan merupakan kualitas kesadaran.

Jika hal tersebut bersyarat/digantungkan pada hal eksternal serta identifikasi, maka dapat dikatakan kita telah secara sukarela melepaskan kendali hidup pada orang lain atau sesuatu di luar. Bukankah itu awal mula dari perbudakan?

Bahkan orang-orang seringkali menjadi budak dari sesuatu yang dengan sadar dipilih/dikejar: jabatan, materi, angka-angka, belief system, hingga pasangan. Semua itu pada akhirnya menimbulkan kecemburuan dan sikap posesif. Semua itu adalah jurang kemiskinan, karena tidak ada yang lebih miskin daripada yang tak punya kendali diri.

Tanpa kemerdekaan, masyarakat bagaikan sekumpulan pengemis yang saling memberi, berharap pada satu sama lain, padahal mereka sendiri tidak memiliki apa-apa. Masyarakat menjadi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang asli dengan yang tidak, karena semua pilihan yang dibuatnya berdasarkan pada rasa takut!

Ketakutan adalah sumber kekeruhan, dan menjadi alat yang digunakan (pikiran) untuk menunggangi kelenturan/kebebasan jiwa. Untuk itulah orang-orang yang tak berkesadaran sibuk membuat aturan-aturan, hukum sosial, dan ‘mengunci’ kemerdekaan dengan rapat melalui doktrin surga-neraka serta ‘kejatuhan dalam dosa’. Mereka ingin membuatmu hidup dalam vibrasi rendah: rasa bersalah dan kebodohan yang ekstrim! Ngawur banget kan?

Maka realisasikanlah kemerdekaanmu. Hukum alam pasti menciptakan lingkungan yang sesuai dan meletakkan orang-orang dengan vibrasi yang setara untuk menciptakan keajaiban. Semua ini berkat berkumpulnya kembali manusia-manusia sejati!

MERDEKA…

Risk Everything For Awareness

Hidup adalah menjadi terbuka, berani, dan total terhadap proses yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Saat masih kecil, kita memiliki kualitas ini. Kita memiliki keberanian dan sukacita yang besar terhadap kehidupan. Kita tak pernah meratapi surga di tempat yang sangat jauh, tetapi ‘mengalaminya’ dalam gelombang saat ini.

Kita menyebut surga sebagai kehidupan itu sendiri, tak ada tandingan atau kebalikannya. Kita mengalaminya dalam perluasan dan kekayaan!

Maka tidak nyambung jika bahaya dan ketakutan adalah bagian darinya. Itu bukanlah sesuatu yang alamiah, itu adalah gaung dari redupnya kesadaran. Maka semua kian mudah untuk diringkas: menjadi tenggelam dalam pengkondisian, atau melepaskannya dan menjadi bebas.

Spiritual War

Di Peru, ada kejadian sterilisasi paksa dengan dalih menekan angka kelahiran. Tentu saja sasarannya adalah rakyat miskin yang jumlahnya ratusan ribu orang.

Bagaimana bisa sebuah pemerintahan bermain-main dengan kesehatan rakyatnya dan menekan kebebasannya sebagai manusia?

Hal yang sama terjadi ketika pemerintah mewajibkan vaksin dengan alasan sedang terjadi wabah. Aturan yang sangat aneh. Bedanya permainan vaksin lebih ‘halus’ daripada sterilisasi organ reproduksi yang terlihat ‘sangat kriminal’.

Tapi tentu saja, semakin halus permainan itu, semakin besar pula kejahatannya. Maka ini bukan hanya soal manipulasi uang rakyat, pertaruhan kesehatan, depopulasi, dan kekuasaan tunggal.

Ini sepenuhnya sebuah perang spiritual, ketika manusia secara bertahap digiring untuk dimatikan fungsinya sebagai manusia.

Perdamaian Di Bumi

Seluruh Bumi adalah tempat yang indah. Tidak pantas kita ini berperang. Tidak pantas kita ini memberi label pada diri sendiri dan orang lain, menjadi terpisah karena agama, negara, status sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan.

Apakah hal yang memisahkan kita adalah nyata? Tentu saja tidak. Semua itu adalah buatan manusia, yang rela agar perbudakan dan pertumpahan darah terjadi, hanya karena hasrat egositiknya.

Itulah mengapa, manusia dapat lebih rendah daripada sebatang pohon, yang tumbuh dalam kemuliaan bersama angin dan pergantian musim.

Tentu saja setiap manusia yang hadir di Bumi tidak pernah sama, tidak satupun, karena bukan begitu cara alam bekerja. Maka mengapa kehidupan menjadikan itu sebagai alasan untuk berperang dan dengan kuat memisahkan kita?

Keberagaman adalah nilai yang patut dirayakan oleh seluruh umat manusia!

Oleh karena aku berbeda darimu, maka aku mampu merayakan kehadiranmu; bisa menjadi antusias dan tertarik, tidak pernah bosan untuk menggali kedalaman hidup dan tenggelam di dalam petualangan…

Sungguh, hari ini adalah dunia yang tidak masuk akal, tidak seperti seharusnya. Terlampau jauh orang-orang berjalan ke arah yang salah, tidak sadar, berjalan saja ke arus yang sudah dibuat itu.

Menyedihkan. Bumi yang indah hanya dapat kuresapi saat daun-daun mulai berguguran, memberi pertanda akan regenerasi, kehidupan yang baru.

Untuk itu, jiwa-jiwa yang sudah tua akan mengenalinya. Bukan dongeng tentang penyelamat atau keselamatan, yang dengan mudah dijadikan permainan untuk menggiring orang-orang masuk lebih dalam ke jalur yang sudah dibuat salah itu.

Momentum itu terjadi saja! Seperti daun-daun yang harus gugur jika sudah saatnya! Daun-daun yang baru mencari jalannya untuk menumbuhkan semerbak cintanya…

Osho About Mother Teresa

The politicians and the priests have always been in deep conspiracy. They have divided man: the politician rules the outside, and the priest rules the inside; the politician the exterior and the priest the interior. They are joined in a deep conspiracy against humanity. They may not even be aware of what they are doing — I don’t suspect their intentions, they may be absolutely unconscious.

She has been serving poor people, orphans, widows, old people, with good intentions, but the way to hell is full of good intentions!

….

In 1974 the Pope presented her with a Cadillac and she immediately sold the car. The car was purchased at a great price because it was Mother Teresa’s, and the money went to the poor. Everybody appreciated it, but the question is, from where had the Cadillac come in the first place? The Pope had not materialized it, he had not done any miracle! It must have come from somebody who had enough money to give a Cadillac. And the Pope has more money than anybody else in the world. From where does that money come?

On the surface they serve the poor — but fundamentally, basically, indirectly they serve the rich.

….

Mother Teresa could not refuse the Nobel Prize… a desire to be admired, a desire to be respectable in the world. And the Nobel Prize brings you the greatest respect. She accepted the prize.

Jean-Paul Sartre seems to be far more religious than Mother Teresa… because he refused that prize, he refused that money, he refused that respectability, for the simple reason that it comes from a wrong source – one thing. Secondly, he said [by implication], “I cannot accept any respectability from this insane society. To accept any respectability from this insane society means respecting the insanity of humanity.” This man seems to be far more religious, far more spiritual, far more authentic than Mother Teresa.

This Nobel Prize money has gone to the Missionaries of Charity. It comes from war, it comes from blood, it comes from murder and death.

….

The really religious person is rebellious, the society condemns him. Jesus is condemned like a criminal and Mother Teresa is respected like a saint. There is something to be pondered over: if Mother Teresa is right, then Jesus is a criminal, and if Jesus is right then Mother Teresa is just a charlatan and nothing else. Charlatans are always praised by the society because they are helpful — helpful to this society, to this status quo.

….

Whatever adjectives I have used I have used very knowingly. I never use a single word without consideration. And I have used the word “hypocrite.” These people are hypocrites because their basic lifestyle is split — on the surface one thing, inside something else.

Christianity has existed for only two thousand years but they have the greatest number in the world. From where have these people come? All from conversion. But their methods of conversion are different.

In the past Christians and Mohammedans have fought and they have converted people to their religions with violence. Mohammedans have lagged behind because they have not yet been able to learn new technologies. Now Christians are far more up to date, because they belong to the Western world, which is far more up to date about everything. They have dropped the old idea of forcing you with the sword, it has become out of date. Now they serve you — they give you bread and butter and services and education and hospitals and schools and universities. They bribe you. Now from military power they have shifted to economic power, but conversion continues.

If Mother Teresa is really honest and believes that converting a person disturbs his psychic structure, then she should be against conversion unless a person chooses it by himself…

To me, Mother Teresa and people like her are hypocrites: saying one thing, doing something else behind a beautiful facade. It is the whole game of politics — the politics of numbers.

In conclusion…
So if anybody has to be forgiven it is these people. It is the Pope, Mother Teresa, etcetera, who have to be forgiven. They are criminals — but their crime is such that you will need great intelligence to understand it.

And see the egoistic “holier than thou” attitude. “I forgive you,” she says. “I feel sorry for you,” she says. And she asks, “May God’s blessings be with you and fill your heart with his love.” Just bullshit!


I don’t believe in any God as a person, so there is no God as a person who can bless me or anybody else. God is only a realization, God is not somebody to be encountered. It is your own purified consciousness… I am not an atheist, remember, but I am not a theist either. God is not a person to me but a presence, and the presence is felt when you reach to the climax of your meditativeness. You suddenly feel godliness overflowing the whole existence. There is no God, but there is godliness…


Sourcers:

https://missionariesofcharity.wordpress.com/2016/09/21/this-is-why-osho-called-mother-teresa-a-deceiver-charlatan-and-ahypocrite/

http://www.huffingtonpost.in/oshotimes/this-is-why-osho-called-mother-teresa-a-deceiver-charlatan_a_21472508/